catatan saljudiparis

DEPAN
KONTAK
PROFIL"
. . . . . . . . . . . . . . . . . .

MENULIS

TEKNIK MENULIS BERITA
SEPERTI TARIAN CAMAR
MENULIS FEATURE
MEMBERI RUH PADA BERITA
BAHASA JURNALISTIK INDONESIA
MENULIS ESAI
DI MANAKAH 'DI'
KACAU HURUF

CERPEN

LORONG SENJA KOTA TUA
SEMUT DALAM TELINGA
MIMPI
BIDADARI DI MATA BAYI
SENJA DI PANTAI KRUI
ORANG-ORANG MAYA
KISAH PEMIJAT BUTA
ORANG-ORANG SAKIT
IBU
KISAH PENGARANG KARTIWA

ESAI

MENJADI CERDAS TANPA SEKOLAH
MIMPI TENTANG REVOLUSI
NOVEL ASIA
NOVEL SEKS GAARDER
APABILA SEJARAH MENEMUKAN WAJAH
TRAGEDI DUKUH PARUK
TENTANG HUKUM RIMBA DI LAUT
WAWANCARA SITOR
ASAL-USUL GADIS ITALI
SUARA LAIN DARI SEBERANG
KISAH EROPA MENCURI BOLA
DARI MESIAH HINGGA CALVINIS
INGGRIS, JUARA PIALA DUNIA 2006
SEPAK BOLA DARI POLITIK
BOLA DI KEPALA FILSUF
CAMUS DALAM QUEEN DAN THE CURE
CERITA DENGAN SERIBU NAMA
SEBUAH BUKU YANG MENJADI
GARA-GARA KURSI YESUS
9/11 VERSI SADDAM
SUMBER UTAMA DA VINCI CODE
SIDDHARTA MENCARI GOTAMA
SETELAH SADDAM TUMBANG
KISAH CINTA DUA KOTA
KEJAHATAN AMERIKA, SEKALI LAGI
HIKAYAT GAIRAH ANGGREK
ECO DAN KUNDERA
SAYAP PATAH AMIR HAMZAH
GUGATAN TERHADAP SANTO AGUSTINUS


. . . . . . . . . . . . . . . . . .



. . . . . . . . . . . . . . . . . .


. . . . . . . . . . . . . . . . . .

HARIAN

google gitar bca jurnalis surat yahoo! surat gmail HOT or NOT? ibuhamil friendster blogwise eatonweb technorati jawapalace ON/OFF e-notes


. . . . . . . . . . . . . . . . . .

BLOG LAIN

alaya alfa ang aprian arb3i aryo asri avid axl baihaqi balq beranda bhima blub bukrie cay dhani deddy dian diant dien dina dion dissi donita dwik enda enils erly eyi fajar farid fenty flow ganda harris hayat henky imponk karima koen komang komet lala leonie lioni mel mikael mnh33 manan narasi neenoy nelly nita nurani nono meta okke pingkan pipit qq qaris ratna roi salju bogor saskia siska slesta stania tulis tomi udhien umar wicak wicaksono yandi yura yuyu yy weedee


. . . . . . . . . . . . . . . . . .

MEDIA

tempo kompas detik bali post bangka pos batam pos bisnis indonesia femina gatra investor daily djakarta! jakarta post jawa pos kartini kedaulatan rakyat lampung post media indonesia nova padang ekspres pantau pikiran rakyat metro batam radar cirebon rakyat merdeka republika riau pos sijori pos sinar harapan sriwijaya pos suara karya suara merdeka suara pembaruan sumatera ekspres waspada

abc afp afp intl ananova ap breaking ap headline ap world ap/reuters photo wire australian bbc bloomberg cnn dow jones economist financial times forbes guardian intl herald trib kyodo newsweek ny times time reuters worldwires world front page xinhua


. . . . . . . . . . . . . . . . . .

This page is powered by Blogger
YACCS
Site Meter

Thursday, November 10, 2005

DI MANAKAH 'DI'?

Goenawan Mohamad

Coba kita memasuki Jalan Diponegoro. Di depan Taman Surapati akan tampak sepetak tanah yang rapat dikelilingi pagar, dengan sekalimat pemberitahuan:

DI SINI AKAN DI BANGUN�

Si penulis pemberitahuan itu pasti tak tahu ada dua macam �di� dalam kalimatnya yang seharusnya berbeda. �Di� yang pertama menunjukkan tempat�yang harus dituliskan terpisah dari kata yang menunjukkan tempat itu�. �Di� yang keduamerupakan sebuah awalan untuk sebuah kata kerja pasif�yang harus merapat padakata yang diawalinya�.

Bedanya? Kita tahu, �di langgar� (artinya: di surau) tidak sama dengan �dilanggar� (artinya: ditabrak).

Tapi benarkah kita tahu? Ketika- ejaan diperbaharui di awal tahun 1970-an,umumnya orang ingat ada perubahan menulis secara tertentu; misalnya huruf �tj�(�tjowok�) diganti dengan �c� (jadi �cowok�). Tapi umumnya orang lupa, sejak saat itu sebenarnya ada ketentuan agar kita menuliskan secara berbeda kedua macam �di� itu.

Tapi apa lacur: sampai pada awal abad ke-21, kekacauan masih banyak terjadi. Kalimat di depan Taman Surapati itu adalah contohnya.

Dengan kata lain, ada yang gagal dari niat pembaharuan ejaan 30 tahun yang lalu.

Mungkin karena Pusat Bahasa�yang jadi pendorong ikhtiar nasional itu�hanya sibukdengan perkara cara menulis yang berubah. Atau mungkin para pegawainya hanya repot dengan ide perubahan bersama antara Melayu-Indonesia dan Melayu-Malaysia-dalam hal ejaan. Mungkin karena para pakar Pusat Bahasa sendiri tak sadar bahwamementingkan ejaan se-sungguhnya menegaskan perubahan sebuah kebudayaan.

Ejaan adalah perkara huruf. Kini, mau tak mau, kita hidup dalam kebudayaanberaksara. Agaknya Walter Ong, dengan bukunya yang termasyhur itu, Orality and Literacy, yang pertama kali dengan bagus menunjukkan apa implikasi �beraksara�itu. Terutama jika dibandingkan dengan kebudayaan yang hampir sepenuhnyamengandalkan komunikasi dan ekspresi lisan.

�Teknologi tulisan,� kata Ong, mengubah kesa-dar-an manusia. Berbeda dengan kebudayaan lisan, aksara memberi bentuk linear kepada pikiran kita. Dengan itu, ter-bu-ka dan terdoronglah kita untuk bersikap ana-litis. Salah satu contoh terkenal dalam sejarah adalah ketika orang Yunani mulai menghayati alfabet.Dunia pemikirannya pun berubah, tak lagi berdasar kisah lisan Homeros,melainkan bersama Plato, yang mampu mengurai persoalan hidup dan jalan pikiransecara tajam.

Mengurai juga berarti menyadari dalam menggunakan kata, bukan mengigau. Karenatanpa sikap analitis yang memadai, kita pun mudah mencampur-adukkan �kontra� de-ngan- �kontrak�, sehingga kita memasang pengumuman di depan pintu: �RUMAH INI DIKONTRAKAN� (dengan satu �k�).

Atau kita alpa bahwa akar kata �berubah� bukanlah �rubah� (nama sejenis hewanyang dalam bahasa Inggris disebut �fox�), melainkan �ubah�, sehingga �merubah�sebenarnya berarti �menjelma jadi rubah�.

Memang ada yang hilang dalam kebudayaan aksara, tapi bisakah kita mengabaikan,betapa pentingnya kini sikap analitis dalam berbahasa dan berpikir? Tak hanyauntuk melahirkan seorang Plato. Tapi juga buat soal yang lebih sehari-hari: misalnya ketika kita harus menggugat sebuah perlakuan yang kita anggap secara seenaknya menafsir-kan hukum. Kita hanya bisa menggugat secara efektif, jika bisa bertanding tafsir atas kata-kata dalam peraturan itu�dan adu tafsir padadasarnya adu analisis.

Syahdan, ada sebuah teori, berdasarkan pengalaman, bahwa di masyarakat yang terbiasa dengan aksara, orang ramai tak mudah dihasut. Orang akan lebih mampu menyimak kembali dan menguraikan informasi yang didapat.

Kalau tak percaya, coba bayangkan di sebuah pertemuan seseorang berseru: �Tadi siang Quran kita dibiarkan di langgar!� Orang ramai yang mendengar mungkin akan marah besar: mereka menyangka bahwa yang dimaksudkan adalah �Tadi siang Quran kita dibiarkan dilanggar!�

+ 3:31 PM jarnen ::

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lilypie Baby Ticker