Showing posts with label perjalanan. Show all posts
Showing posts with label perjalanan. Show all posts

Saturday, July 01, 2017

CATATAN MUDIK (2)

KAMPUNG-kampung selalu mengejutkan setiap mudik Lebaran. Jalan-jalan makin sibuk dengan sepeda motor dan mobil, berkode polisi B atau D atau F. Tak ada yang naik sepeda atau jalan kaki. Anak-anak muda dengan rambut dicat dan model spike serta telinga ditindik mengebut di jalanan kecil yang kini beraspal.

Pada hari kedua Idul Fitri tahun ini para tetangga saling berkunjung dengan keluhan yang sama: tak ada gas sehingga tak ada bahan bakar untuk memasak. Gas-gas melon 3 kilogram sudah habis isinya untuk menanak ketupat dan obor juga sayur cabe hijau sehari sebelum Lebaran. Sementara warung-warung kehabisan stok gas karena pemasoknya di pasar kecamatan masih tutup.

Seorang tetangga menertawakan keluhan akan kebutuhan pokok itu. Katanya, ketika masih memakai hawu mereka tak mengeluh tak ada gas. Ketika butuh untuk memasak mereka tinggal ke hutan mencari kayu bakar. Kini hawu sudah ditinggalkan karena orang-orang kampung mengikuti program pemerintah beralih memakai gas yang konon ramah lingkungan. Dan program itu punya konsekuensi tak sedikit.

Gas membutuhkan uang tunai karena bahan bakar ini tak bisa diproduksi sendiri. Dan uang tunai tak cocok dengan sistem hidup orang kampung. Saya baru sadar kakek-nenek dulu bahkan tak punya dompet untuk menyimpan uang. Simpanan mereka adalah huma dan sawah, juga kebun di hutan, yang dipanen bergiliran selama setahun.

Setiap kali mendapat uang dari hasil menjual palawija—karena padi disimpan di lumbung untuk makan sehari-hari—uang panen itu dijadikan deposit di toko-toko alat pertanian. Ketika membutuhkan pupuk untuk musim tanam berikutnya mereka tinggal ambil dari toko itu. Sisanya disimpan di bawah bantal untuk membayar upah nyangkul. Itu pun jika ia dan menantunya tak cukup punya tenaga menggarap semua ladang.

Hidup sehari-hari pun nyaris tak perlu uang tunai. Padi mengambil di lumbung, sayuran memetik di kebun, ikan mengambil di balong dekat rumah, atau menyembelih ayam dari kandang, bahan bakarnya mengambil ranting-ranting di hutan sambil lalu pulang dari ladang. Hari-hari berjalan dengan rutin, kenyang, tanpa beban pikiran.

Kebutuhan akan uang tunai di zaman sekarang itu mendorong orang kampung tak lagi bertani. Mereka lebih senang pergi ke kota: ke Depok, Bandung, Jakarta, Cikarang, Cibitung. Jika bukan berdagang es cingcau keliling, mereka tetap punya pekerjaan karena kota membutuhkan tenaga mereka saat membangun infrastruktur dengan menjadi buruh bangunan. Tiga-empat bulan penghasilannya melebihi pendapatan satu musim bertani.

Menanam kacang tanah atau jagung perlu waktu tiga bulan dengan hasil panen tak seberapa. Ayah saya punya 500 bata atau sekitar 7.000 meter persegi sawah yang ditanami jagung dan kacang tanah. Sekali panen hanya menghasilkan Rp 7 juta. Setelah dikurangi modal (ongkos pekerja, biaya pupuk), untungnya cuma Rp 2 juta. Ia tak pernah menghitung tenaganya sendiri mengontrol ladang saban hari.

Untung Rp 2 juta itu bisa dihasilkan dalam waktu satu hingga dua bulan bagi buruh kasar. Penghasilan lebih besar lagi dari berdagang asongan atau bergiliran menjaga warung gerobak di Jakarta. Uang tunai itu pun bisa dipakai untuk membeli gas buat memasak bagi keluarganya di kampung. Jika gas habis mereka tinggal jajan. Untuk pertama kali sejak tahun lalu, ada tetangga yang membuka warung nasi dan lauk-pauknya!

Maka bertani bukan pilihan dengan gaya hidup seperti itu. Apalagi bertani zaman sekarang jauh lebih berat. Saat malam takbir, orang-orang malah menginap di sawah karena cemas tanaman mereka diserbu babi yang lapar dari gunung.

Karena hutan tak lagi digarap, bukit-bukit jadi rimbun akibat tak terjamah manusia. Babi bersarang di sana dan turun ke ladang mencari makanan ketika malam. Kini Pasir Muncang nyaris tak bisa disambangi karena jalan setapak yang dulu licin tak ada lagi. Jalan Rupit sepi seperti dihuni kembali oleh hantu-hantu.

Dulu tak ada babi karena orang kampung menggarap kebun hingga bukit-bukit di jauh hutan, yang perjalanannya saja menghabiskan dua jam jalan kaki. Babi-babi pun terhadang tak bisa masuk kampung. Kini hutan-hutan itu tak digarap, atau dibiarkan dengan hanya ditanami jati atau jabon, menjadi habitat babi yang kian dekat dengan persawahan. “Sekarang gunung-gunung sudah dijual ke investor dari Jakarta,” kata seorang tetangga. Tak ada orang kampung yang tak paham arti kata “investor”.

Di sawah dan hutan memang tak terlihat lagi anak-anak muda. Soalnya, selain tak ada mereka yang menggarap sawah, tak ada lagi remaja selepas SD menjadi gembala kerbau atau sapi. Teman-teman SD saya punya siklus hidup yang bisa ditebak: sekolah untuk bisa baca-tulis, lalu menggembala kerbau milik orang lain, kawin dengan pekerjaan sebagai petani, dan menjalani hidup nyaris tanpa gelombang.

Upah menggembala kerbau itu bukan uang, tapi anak kerbau. Dengan sistem bagi hasil itu, dalam lima atau tujuh tahun seorang remaja lulusan SD punya dua kerbau hingga ia siap kawin dan memulai hidup mandiri sebagai petani.

Siklus itu tak ada lagi kini. Mereka yang masih menggarap sawah bahkan membajak memakai mesin. Tak ada lagi kandang kerbau atau sapi di ladang yang mengepulkan asap sepanjang malam meruapkan bau jerami kering yang dibakar oleh gembala yang pulang menjelang magrib. Tak ada lagi cahaya cempor yang kelap-kelip dari kadang kerbau di punggung-punggung bukit.

Mereka yang masih giat ke kebun adalah orang-orang beruban dengan kulit keriput dan mata lamur, generasi seangkatan bapak saya. Orang-orang tua kian sadar pentingnya sekolah untuk anak-anak mereka, selain pemerintah kian banyak mendirikan sekolah menengah dan atas di kampung-kampung. Dan agaknya bukan zamannya lagi sepulang sekolah anak-anak itu mencari rumput untuk makan kambing.

Sepulang sekolah mereka bermain game, di telepon seluler atau kios PlayStation. Lagi-lagi main games membutuhkan pulsa dan uang tunai. Bisnis paling laris di kampung sekarang adalah berjualan pulsa dan nomor telepon.


Setelah lulus SMA atau SMK anak-anak itu mencari pekerjaan di kota. Jika tak mendapat pekerjaan formal di perusahaan di Cikarang atau Cibitung, mereka berdagang. Beberapa yang lain sukses membuka bisnis dengan ratusan karyawan di kota kabupaten. Mereka pulang ke kampung tiap Lebaran dengan mobil dan sepeda motor.

Saya menjadi bagian dari gelombang urbanisasi itu, yang mengutuk macet di balik kemudi, seraya mencemaskan kejutan-kejutan dari kampung setiap mudik Lebaran...

Thursday, April 27, 2017

TOLERANSI DI GUNUNG KAWI


Jalan masuk pasarean Mbah Djoego.
JIKA berkunjung ke Gunung Kawi, di Jawa Timur, keinginan para demagog agama yang sedang populer lewat demo-demo besar di Jakarta, rasanya sulit diterapkan. Di makam Mbah Djoego dan Mbah Iman Sudjono ini toleransi antar manusia begitu tinggi.


Masjid Iman Sudjono bersebelahan dengan kelenteng dengan lilin-lilin setinggi dua meter. Puji-pujian dalam bahasa Arab di masjid diiringi karawatian. Orang-orang Tionghoa berkalung salib berdoa di makam berisi dua jasad pengikut Pangeran Diponegoro itu.

Atau di masjid dekat makam, mereka yang datang berdoa bersama perempuan-perempuan yang memakai jilbab atau laki-laki berpeci. Juga anak-anak yang dibawa ibu-bapak mereka. Dan kedua jenazah yang terbaring di sana semasa hidup adalah para ulama, kyai yang menyebarkan ajaran Islam hingga ke luar wilayah Mataram di Yogyakarta.

Mbah Djoego adalah Kyai Zakaria II, penasihat spiritual Diponegoro. Ia lari ke Timur setelah Diponegoro ditangkap pasukan Belanda seusai makan malam dengan Gubernur Jenderal de Kock di Magelang pada 1830. Djoego menolak takluk. Sampai di Malang ia menetap di desa yang ia beri nama Dusun Djoego.

Kemudian ia mendirikan padepokan di lereng Gunung Kawi karena ingin dikubur di sana ketika meninggal. Salah satu murid kepercayaannya adalah Iman Soedjono. Mereka meneruskan ajaran anak Sultan Hamengkubuwono III yang menolak jadi raja dan lebih senang mengembangkan pesantren itu. Siar Islam pun berkembang di bekas wilayah kekuasaan Ken Arok ini.

Kedua jasad itu dikubur dalam satu liang lahat. Mbah Djoego meninggal pada 1871 dan Iman Soedjono lima tahun kemudian. Pada 1954 kuburan di bukit setinggi 800 mdpl itu tak terawat hingga datanglah Ong Hok Liong. Pengusaha klobot di Malang ini sedang rungsing karena usahanya menurun. Ia pun menenangkan diri dengan tidur di dekat makam karena di sini hawanya sejuk.

Suatu kali ia bermimpi bertemu dengan seseorang yang memintanya menjual talas jika ekonominya ingin kembali menggeliat. Hok Liong bingung karena ia tak punya pengalaman menjual hasil kebun. Tapi, ia tak kurang akal, ia ubah merk klobotnya dari namanya menjadi "Bentoel", nama lokal untuk talas. Sejak itu, hingga tiga generasi kemudian, Hok Liong menjadi orang terkaya di Indonesia lewat dagang rokok tersebut.

Sejak itu makam Kyai Zakaria jadi tempat ngalap berkah orang-orang dari seluruh Indonesia untuk memohon rejeki. Orang asing juga banyak yang datang untuk berwisata. Dan agaknya mereka yang memohon kesejahteraan lumayan berhasil. Menurut Nur Aji, seorang pemandu, kini kompleks makam tertata rapi dibanding sepuluh tahun lalu. Lantainya konblok dan jalan kampung dilapisi aspal. "Ini semua sumbangan dari mereka yang pernah datang ke sini dan berhasil," kata dia. Aji menyebut nama pemilik sebuah salon terkenal di Jakarta dan Om Liem. Liem Sioe Liong alias Sudono Salim.

Keluarga Salim pula yang kemudian membangun kelenteng dan masjid. Adapun Bentoel pengembang pertama kompleks seluas 1 hektare ini yang dilanjutkan keluarga pemilik Gudang Garam.


Saya berkunjung ke Gunung Kawi, 35 kilometer ke Barat dari Kota Malang, menemani napak tilas Amarzan Loebis pada Ahad pekan lalu. Ia pertama ke sini tahun 1987 lalu 1997. "Jadi kunjungan ketiga ini tetap dalam interval, 2017," katanya.

Dalam kunjungan kali ini, ia mengunjungi tempat-tempat yang dulu didatanginya. Restoran Djakarta masih ada. Juga penginapan Indah Jaya. Warung-warung kian padat. Sayangnya, para peramal di kios-kios tutup karena kami datang terlalu malam. Padahal Amarzan ingin menemui orang yang dulu meramalnya sebagai "kuda lepas dari kandang", yang sekali lepas tak akan kembali.

Sejak usia 22, Amarzan ke Jakarta untuk kuliah di UI tapi batal karena menjadi wartawan Harian Rakjat Minggu dan menjadi penyair anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat. Usia produktifnya habis di Pulau Buru bersama 1.000 tahanan politik lain seusai huru hara G30S pada 1965.

Kembali ke Jakarta pada 1978 ia bergabung dengan majalah Tempo yang dipimpin Goenawan Mohamad, penandatangan Manifesto Kebudayaan, kubu seniman yang bentrok dengan Lekra. Amarzan tak pernah kembali ke kota kelahirannya di Tanjung Balai di Asahan, Sumatera Utara, sejak itu. Amarzan dan Goenawan kini bersahabat.

Sepulang dari Buru, Amarzan melihat dunia dengan kacamata canda. Berkawan dengan dia penuh dengan cerita-cerita yang memantik gelak tawa. Yang faktual dan fiktif jadi lebur dalam cerita-ceritanya. Mendengar Pulau Buru dari dia, kita jadi membayangkan pulau di Maluku itu bukan gulag penyiksaan tapi sekadar tempat singgah pelesiran.

Kepada Nur Aji, misalnya, ketika pemandu ini menerangkan apa yang boleh dan tak boleh dibawa, Amarzan berseloroh tentang nasib pistolnya. "Perlu dititip?" katanya. Aji belingsatan karena tak ada tempat penitipan pistol di Gunung Kawi. Kami tertawa mendengarnya karena, tentu saja, Amarzan tak punya pistol.

Pada 1987, penujum di sini meramal Amarzan tak akan pernah pensiun. Di usia 79 ia memang masih mengajar para penulis menulis artikel dengan baik, benar, dan hidup. Jabatannya kini Redaktur Senior di Tempo. Amarzan ingin bertemu lagi dengan peramal itu untuk bertanya kapan kira-kira ia mati. Sebab tahun 1987, penujum itu meramal ia akan mati di atas usia 70.

Pada 1997, Amarzan mengenang, warung-warung di sini terbakar hingga ludes. Empat mobil branwir didatangkan hingga api padam. Namun, ketika mobil-mobil itu akan turun sopirnya tak bisa mengemudikannya. Gangnya terlalu sempit sehingga empat rumah harus dirobohkan untuk jalan pulang. "Itu satu kejadian aneh di Gunung Kawi," kata Amarzan. "Betul itu, aneh sekali, kenapa mereka bisa naik tapi tak bisa turun," timpal Nur Aji.

Di makam Mbah Joego orang antri. Mereka mendatangi juru kunci, anak buyut Kyai Djoego, membawa kembang dan hio. Mereka menyampaikan doa dan permintaan. Bagi yang bernazar, mereka membawa daging ayam atau kambing sebagai tanda syukur sudah dikabulkan doanya.

Menurut Amarzan, dulu dinding makam tak terlihat karena tertutup jam. Orang yang berhasil setelah berdoa di sini membeli jam dinding sebagai ucapan terima kasih karena barang ini paling gampang dibeli dan sebagai simbol waktu pencapaian usaha mereka. Kini jam masih ada di sekeliling dinding tapi rapi karena berupa jam berdiri. Dindingnya juga kaca dengan kusen kayu yang diukir kokoh. Ruang makam ini mirip masjid yang disangga delapan tiang kayu.

Dupa mengepul dari makam tapi tak bikin pengap karena ruangannya diatur sedemikian rupa agar tak menyesakkan pengunjung. Orang-orang menunggu upacara nazar yang dipimpin juru kunci pada pukul 11 malam.

Beberapa yang lain duduk di bawah pohon Dewa Ndaru (Eugenia uniflora) di samping makam menunggu daunnya jatuh. Daun ini dipercaya pembawa rezeki. "Malam ini agak longgar," kata Nur Aji. "Jumat malam kemarin sampai susah berjalan kaki karena Jumat legi. Penuh."

Longgar ini pun dua tempat parkir yang luas penuh oleh mobil. Kamar hotel dekat makam juga sudah dipesan orang sejak Sabtu kemarin. "Ini mulai ramai lagi setelah 3-4 bulan sepi," kata Endro, pemilik Omah Kopi Gayatri. Menurut dia peziarah banyak tapi mereka menginap di Batu atau Malang karena tempat hiburan lebih beragam.

Menurut Nur Aji mereka yang datang ke Gunung Kawi pasti orang-orang baik. Mereka datang ke sini dengan harapan dan permintaan tentang keselamatan dan kesejahteraan. Mereka berdoa tanpa dipisahkan suku dan agamanya. Dan mereka dibebaskan berdoa sesuai agama dan kepercayaannya.

Rasanya Indonesia akan berusia lama jika melihat para peziarah di makam Kyai Zakaria di Gunung Kawi ini...

Friday, October 02, 2015

CARA JEPANG MENCEGAH KORUPSI



Memberantas korupsi bisa dimulai dengan larangan memberi dan menerima tip. Cara sederhana yang diterapkan di Jepang.

Seorang penjamu tamu di sebuah hotel di Akasaka, jantung keramaian Tokyo, menolak menerima selembar yen seusai mengantar koper ke kamar saya. Dengan sopan gaya shogun, ia meminta saya memeriksa buku aturan menghuni hotel tua itu pada buku di dalam kamar.

Di buku itu tertera pasal terakhir pada bagian tata tertib larangan kepada tamu memberi tip kepada petugas hotel. Bagi yang melanggar akan dikenakan denda berupa tarif kamar naik 10 persen dari harga semestinya. Dan petugas yang menerima akan dikenai sanksi seperti yang sudah diatur dalam hukum perusahaan.

Esoknya saya bertemu dengan manajer hotel dan bertanya, bagaimana kalian tahu ada transaksi tip sementara pemberi dan penerimanya berada di lorong hotel yang sunyi, tak ada saksi. Manajer itu mengatakan anak buahnya mengecek secara rutin kamera di seluruh sudut dan lorong. Mungkin saja tamu itu lolos dari denda, tapi petugas yang menerimanya akan ketahuan dan diberi sanksi.

Korupsi terjadi karena ada pemberi dan penerima. Jepang telah mencegahnya dari hal sepele tapi penting. Dan yang sepele itu memang inti persoalan korupsi dewasa ini. Menurut seorang pejabat tinggi di Kementerian Luar Negeri, yang saya tanya soal itu, para perumus larangan korupsi di negeri itu tak ingin tip menjadi budaya. “Yang saya tangkap dari larangan itu, kami tak ingin ketulusan dihargai dengan materi,” begitu katanya. "Sebab materialisme itu pangkal segala keserakahan.”

Seorang teman mendapatkan ketulusan itu dari seorang perempuan Jepang di Kyoto. Dompetnya jatuh entah di mana, dan ia baru sadar setelah sampai di apatonya. Di tengah kebingungan setelah bertanya ke sana ke mari, terutama petugas trem dan stasiun yang baru saja ia lalui, seorang perempuan menelepon ke kamarnya. Perempuan itu menerangkan bahwa ia menemukan dompet berisi kartu nama yang ada nomor telepon apartemen itu.

Dengan girang tak terkira, teman yang sedang kuliah di Ritsumeikan itu, berterima kasih atas kebaikan perempuan entah siapa ini. Keduanya membuat janji bertemu di dekat sebuah mal yang terkenal di Ibu kota Jepang lama itu. Dan dompet itu masih utuh hingga lembar-lembar kertas yang tak penting.

Seperti umumnya orang Indonesia, teman ini mencabut semua lembar yen yang ada di dompetnya dan hendak diberikan kepada perempuan yang ia taksir 45 tahunan itu. Perempuan itu menolak. Teman ini berusaha menjelaskan bahwa ia ingin berterima kasih atas kebaikannya.

Perempuan Jepang itu tetap menolak. Menurut dia agak aneh bahwa di Indonesia ketulusan membantu dihargai dengan uang. Setelah termangu, teman saya ini mengangguk berkali-kali mengucapkan terima kasih, lalu pergi ke masjid di lantai dasar sebuah toko kelontong dan menyumbangkan semua yen di dompetnya ke sana.

Saya teringat kembali omongan pejabat di Kementerian Luar Negeri itu. Kelancungan para koruptor tanpa rasa malu mencuri kekayaan yang bukan haknya mungkin memang bersumber dari sifat serakah karena lingkungan yang membudayakan materi sebagai alat tukar niat baik dan ketulusan.

Kita tak menyadari bahwa hal-hal sepele seperti itu bisa menjadi persoalan serius dalam membentuk pola pikir, tradisi, dan pada akhirnya menciptakan norma baik dan buruk. Pejabat Jepang itu menjelaskan lebih ilmiah bahwa tip membuat penghasilan petugas hotel itu tak tercatat, karena itu luput dari aturan pajak. Di Jepang pajak adalah instrumen mengatur hajat hidup orang banyak.

Ekonomi bawah tanah dalam tip membuat penerimanya menikmati rejeki yang bukan haknya, sebab hak dalam kekayaan terikat kewajiban kepada negara berupa pajak. Tip berada di luar penghasilan resmi. Dan mengantar koper telah menjadi tugas penjamu tamu di hotel di Akasaka yang diganti dengan upah wajar yang diatur secara umum dalam peraturan pemerintah kota Tokyo. Mereka bekerja bukan mengharap kebaikan para tamu.

Dan di luar itu semua, semangat melarang tip adalah memberi pemahaman: upah di luar gaji dalam pekerjaan bukan rejeki yang mesti diterima. Di Jepang, pola pikir dan tradisi ini dituangkan melalui hukum positif yang dijalankan dengan takzim oleh penduduknya.

Thursday, July 23, 2015

DI JALAN ABBEY


JALAN konon semacam miniatur peradaban. Di jalanan berlaku segala jenis hukum mengatur lalu lintas orang-orang. Ada hukum sosial yang tak menerakan aturan-aturan kepatutan secara tertulis, ada hukum positif yang diwakili marka, tanda, lampu, garis. Jalanan juga tempat bagus menguji kesabaran dan kadar respek antar pengendara.



Maka di Abbey Road, di zebra cross yang terkenal karena The Beatles itu, tak ada klakson yang menyalak meski orang lalu lalang dan berhenti di tengah jalan untuk dipotret menirukan gaya grup musik pop Inggris itu nampang untuk sampul album ke-11 mereka pada 1969. Setiap pengendara mafhum orang yang berkerumun itu adalah turis yang merayakan mimikri sebagai bagian dari eksistensi.


Di luar soal itu, aturan lalu lintas di Inggris memang melarang para pengendara menyerobot penyeberangan jika di depannya ada pejalan yang melintas. Apalagi jika pejalan itu sudah melambaikan tangan. Di jalanan Inggris, pejalan kaki menempati hierarki tertinggi. Kamera-kamera pengawas akan bersaksi di pengadilan soal siapa yang bersalah jika ada sebuah aksiden berakhir di muka hukum.

Mobil berhenti ketika ada yang berpose.
Aturan lalu lintas Inggris menyebutkan pengendara mobil keliru jika tetap menerobos jalan ketika pejalan sudah menginjakkan kaki di zebra cross, apalagi jika pejalan sudah melambaikan tangan karena kadung melangkah sementara lampu menyeberang keburu merah. Di persimpangan yang tak memasang tombol tanda menyeberang, seperti di Abbey Road, hukum sosial dan jalanan berlaku seperti itu.

Maka tak ada yang berani memacu mobil jika melintas Jalan Abbey. Para pengemudi pasti berhenti karena di penyeberangan itu ada sedetik yang sedang berpose. Saya pernah melihat seorang perempuan diteriaki karena membunyikan klakson dan tetap melaju meski ada yang sedang berpose di tengah jalan itu. Di Abbey Road, berpose di tengah jalan sudah jadi kaidah umum sehingga yang menentangnya berarti menantang kaidah umum itu.

Menyeberang jadi wisata keluarga.
Sanksi bagi yang melanggar hukum lalu lintas di Inggris amat berat. Jika menerobos penyeberangan sementara ada pejalan yang masih di zebra cross, izin mengemudinya akan dipotong 3 poin dari 12 poin dalam setahun. Jika melanggar lagi akan didenda hingga SIM yang berlaku seumur hidup itu dicabut. Setelah itu masih ada skorsing tak boleh menyetir selama 1 tahun. Untuk mendapat SIM baru meski mengulang proses rumit dan berbelit itu dari awal lagi.

Ooops...
Mungkin begitu di jalanan, di sebuah peradaban, hubungan sosial antar penduduknya diatur sedemikian rupa oleh hukum yang memungkinkan hidup yang rutin berjalan harmonis.

Wednesday, July 24, 2013

GEOGRAFI KEBAHAGIAAN


PERTANYAAN paling purba yang menjadi pencariaan seumur hidup manusia adalah kebahagiaan. Kita tak pernah tahu mengapa kita bisa bahagia. Apakah hewan dan tumbuhan juga bisa bahagia seperti manusia. Puisi Dingin Tak Tercatat yang bercerita tentang kesetiaan manusia pada dunia, karena keindahaan cahaya berenang mempermainkan warna, meski hari beku, adalah pertanyaan pokok di stanza terakhir: Tuhan, mengapa kita bisa bahagia?

Dan jawaban atas pertanyaan filosofis itu dicari Eric Weiner ke sepuluh negara. Ia ingin tahu apa rumusan bahagia orang-orang di negara itu dan kenapa mereka bisa bahagia. Alasan apa yang membuat mereka bahagia dibanding orang-orang di negara lain. Mengapa manusia bisa bahagia di tempat yang satu dan ada yang menderita di tempat yang lain. Apakah tempat yang mempengaruhinya? Atau sistem pemerintahan, atau agama, kepercayaan ataukah semata karena tiap manusia bisa menciptakan bahagianya sendiri?

Hasilnya adalah buku The Geography of Bliss yang mengesankan. Ini catatan jurnalistik Eric Weiner, setelah sepuluh tahun menjadi koresponden National Public Radio di banyak negara. Ia orang Amerika, yang tentu saja punya rumusan bahagia yang khas Amerika. Ia lalu membanding-bandingkannya dengan konsep kebahagiaan di negara lain. Amerika menjadi salah satu bab, sehingga ada 9 negara lain yang ia kunjungi. Beda antara laporan jurnalistik Eric dengan laporan sejenis lain adalah bahwa liputannya bertendens: Eric menetapkan angle dan tema sebelum ia mengunjungi negara-negara itu. Sebaik-baiknyaangle tulisan dirumuskan dalam bentuk pertanyaan: apa dan bagaimana bahagia di negara-negara itu.

Pertama kali ia mengunjungi Belanda, karena di negeri ini ada seorang ilmuwan yang mengurutkan negara berdasarkan indeks kebahagiaan penduduknya. Lalu Swiss, tentu saja. Negara Skandinavia umumnya punya indeks kebahagiaan tinggi, meski pajak di sana mencekik. Tapi pajak itu kembali ke masyarakat dalam bentuk jalan yang rapi, kota yang cantik, masa lalu yang terawetkan pada gedung dan batu padas di kota-kota, bahkan Swiss mengklaim punya toilet kereta paling bersih di dunia.

Pembentukan kota dan sejarah ini kemudian menumbuhkan konsep bahagia, ada istiadat, serta alam pikiran pada orang Swiss. Di Swiss pamer kekayaan itu tak sopan, karena tak ada orang miskin. Justru pamer itu menunjukkan orang itu sedang punya masalah keuangan. Ini terbalik dengan di Amerika yang orang-orangnya berlomba menonjolkan kekayaan dan kebahagiaan. Karena itu tak ada Switzerland Idol atau Finland Idol di negara-negara macam ini.

Orang Islandia juga bahagia, padahal negeri ini selamanya gelap dan beku. Namanya saja "tanah es". Negerinya ngungun, kotanya murung, desa-desanya susut kelabu. Tapi orang-orangnya bahagia. Dalam kemurungan dan kesepian dan dingin kota seperti itu, mereka jadi punya banyak waktu merenung. Imajinasi jadi liar. Dongeng peri, jin, dan dunia lain macam Lord of the Ring muncul dari negeri-negeri sekitar Islandia. Kelakar di Islandia adalah kelak mereka akan mendirikan patung orang Islandia yang tak pernah bikin puisi, sebab semua orang adalah penulis dan penyair--dua pekerjaan dan profesi paling terhormat.

Tapi tak hanya ke negeri bahagia, Eric berkelana. Ia mengunjungi Moldova. Negara pecahan Soviet ini punya indeks kebahagiaan terbawah. Ini seperti sebuah negeri yang tak punya harapan. Seperti ukuran bahagia di negara lain, Eric mereportase kafe, makanan, berbaur dengan orang-orangnya, menyesap sejarah beberapa kota. Di Moldova, masa depan seperti tak ada. Orang-orang akan menerima keadaan kacau akibat politik dan birokrasi yang korup, seolah-olah itu keadaan yang tak bisa diubah.

Ungkapan terkenal di Moldova adalah "Itu bukan urusan saya". Semua orang tak peduli pada kebobrokan situasi. Makanan utama orang Moldova, kata Eric, adalah vodka, korupsi, dan nepotisme. Di negara gagal, harapan sirna, dan orang seperti Eric bersumpah kapok mengunjunginya.

Buku ini kuat dengan riset, juga cara pandang Eric yang menyebrang dari cara pandang umum. Subjudul buku ini adalah "pencariaan kebahagiaan oleh seorang penggerutu". Eric datang ke sebuah negara mencari konsep bahagia, tapi tiap kali ketemu ia mengkritik, menyoal, menyanggah konsep itu. Ia jurnalis yang terlalu skeptis. Karena itu bahagia tak selamanya seperti yang ia rumuskan. Di Moldova tentu ada bahagia menurut ukuran orang-orangnya. Jika tidak, orang-orang di sana pasti sudah bunuh diri. Seperti di Indonesia.

Sayangnya Eric tak ke Jawa. Jika datang ke sini ia pasti tahu bahagia tak semata diciptakan pemerintahan yang bersih. Orang Indonesia tak kurang persediaan untung meski sudah celaka keliwat-liwat. Untung tak mati meski terjerembab lubang jalan karena ongkos perawatannya dikorupsi, untung masih bisa ke kantor meski telat karena jadwal kereta kacau. Sebab bukan demokrasi yang menciptakaan kebahagiaan, tapi orang bahagia lebih mungkin menciptakan demokrasi dan pemerintahaan bersih. Toh Dominique Lapierre menulis City of Joy tentang kebahagiaan para pastor menolong kusta di Kalkuta yang rudin dan brengsek.

Juga ukuran-ukuran sepele namun berasil dipotret Eric. Misalnya, negara-negara tak bahagia karena kekacauan politik adalah terlalu rewel pada mata uang asing negara maju. Di Swiss penjaga toko tak peduli menerima dolar sobek, sementara di imigrasi Moldova atau Pakistan, dolar cacat menurunkan nilainya. Dengan begitu Eric seperti memanggul kamera untuk kita. Deskripsinya melimpah, gerutuannnya kocak dan ngawur tapi terasa benar, kutipan-kutipan filosofisnya mendalam.

Setiap buku bagus selalu mengundang iri kita bisa menulis tema itu seperti itu. Geography of Bliss masuk kategori buku seperti ini.

Friday, January 27, 2012

GERGASI

JIKA ada kota yang terasa menelan semesta yang hidup di sekelilingnya, kita harus mengunjungi London. Gedung-gedung menjulang, berat, kokoh, dengan gaya ghotik yang purba. Sementara jalan-jalan menyempit, hanya konblok yang menampung dua taksi hitam yang mengingatkan pada cerita-cerita Agatha Christie. Bus-bus merah bertingkat hilir mudik, mengangkut manusia ke beragam tujuan yang tak final.

Manusia yang memiuh dan memenuhi trotoar jadi mengecil. Kita tak berarti apa-apa di antara keriuhan itu, bahkan jika Anda berperan sebagai Sherlock Holmes atau M. Hercule Poirot sekalipun. Kota ini seperti tak ingin dikalahkan oleh kecerdikan apapun. Dan sejarah telah mengekalkan kemenangan itu pada batu-batu gerbangnya yang padas, pada bata merahnya yang lawas.

Barangkali seperti New York.

Dalam cerita-cerita Umar Kayam, misalnya Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, New York juga menelan manusia-manusia di dalamnya seperti seorang rakus melahap kue tart: tak pernah kenyang, selalu meminta, dan senantiasa lapar. Kota-kota kosmopolitan pada akhirnya menyediakan mulut yang superlebar. Kita masuk ke dalamnya dan terasing di dalamnya.

London kini punya problem itu. Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri mengeluhkan kian derasnya orang-orang Eropa Timur atau dari belahan dunia manapun masuk ke London. Di keramaian dan pedestrian, kita bisa mendengar pelbagai macam bahasa diucapkan. Seorang Armenia penjual mainan di dekat kedai pinggir Trafalgar Square tiba-tiba saja berteriak, "Ayo, murah-murah..." Mungkin karena melihat wajah melayu saya.

Mau tak mau, suka tak suka, merekalah para imigran ini yang menopang ekonomi London, bahkan Inggris, karena mereka mau dan bisa bekerja apa saja, bahkan pekerjaan paling kotor sekalipun. Mereka juga rajin. Sebab itu para majikan senang.

Dan para majikan mungkin kini juga datang dari luar. Di daerah Soho, dekat Picadilly Circus, seorang pengusaha berhitung di daerah situ restoran dan warung makan hampir sebagian besar dimiliki orang asing. Bar Italia, restoran Cina, warung Jepang, kari India.

Tapi ada juga yang menuding, para imigran juga menyebabkan problem sosial yang mulai serius. Mereka yang tak rajin dan tangannya tak terpakai para majikan, berkeliaran di jalan. Seorang ibu asal Nothing Hills mengingatkan agar berhati-hati dengan dompet dan uang: copet bisa dengan lihai merogohkan tangannya ke dalam tas kita.

Pertumbuhan ekonomi yang sudah mentok di kawasan Eropa membuat beban pemerintah kian berat di negeri sosialis seperti Inggris. Karena itu usia pensiun tak lagi dibatasi agar beban APBN tak habis mengongkosi mereka yang sudah tak produktif. Tapi akibatnya--karena ekonomi mandeg dan investasi surut--lapangan pekerjaan tersendat sementara usia kerja--anak-anak muda yang butuh uang untuk pesta dan pelesir--terus tumbuh dari tahun ke tahun. Karena itu kebijakan itu jadi debat dan dikritik bisa jadi bumerang pengangguran.

Tapi begitulah problem sebuah kota, gergasi yang tak pernah mati.