Saturday, March 29, 2008

BUKU JEPANG



Selain mobil dan rumah yang mini, buku-buku cerita Jepang juga juga berukuran kecil. Sehingga orang bisa memegangnya dengan satu tangan di bus, di kereta, di halte. Simpel dan mudah dibaca, dengan kertas kuning yang bagus. Buku itu bisa disimpan di saku jas atau jaket, sehingga gampang ditarik ketika akan dibaca.

Dan tak ada orang yang tak baca buku di kereta, subway, trem, atau bus. Mereka membaca sambil berdiri: satu tangan memegang buku, tangan lain berpegangan. Mereka membaca kendati perjalanan hanya dua atau tiga stasiun. Yang tidak membaca biasanya tidur atau menonton televisi lewat ponsel, atau main gim, atau membaca dan mengirim sms. Tak ada gaduh atau brisik. Yang mengobrol memelankan suara.

Dan membaca, agaknya, bukan sebuah kegiatan yang istimewa. Ini sebuah kebiasaan membunuh waktu percuma. Membaca sama dengan duduk, berdiri, menguap. Para pembaca tak diselidik-selidik sedang membaca buku apa. Atau mereka yang baca juga tak merasa diri "orang terdidik" yang memanfaatkan waktu luang dengan pegang buku, sementara sudut mata lirik kiri-kanan mencari adakah orang yang memperhatikannya.

Ah, saya sedang menempuh Kyoto-Osaka, bukan Jakarta-Bogor di kereta Pakuan.
Post a Comment