Sunday, January 27, 2008

PADA MENINGGALNYA SOEHARTO



Soeharto meninggal dan ada banyak hal yang bisa dikenang dari kepergiannya, meskipun saya belum sekalipun bersalaman dengannya. Pertemuan paling dekat saya dengan dia terjadi pada 2003, ketika dia pulang dari Rumah Sakit Pusat Pertamina setelah sepekan dirawat akibat pneumonia. Dia melambai ke arah kerumunan wartawan dengan senyum khasnya itu, dan saya berdiri dua meter dari kursi rodanya.

Tapi Soeharto menyimpan trauma, mungkin semacam ingatan yang tak mudah lekang. Soeharto telah merampas masa kecil saya.

Pada pertengahan 1980, Golkar begitu berjaya. Meski ada dua partai lain dalam pemilu, Golkar senantiasa menang, karena partai yang bukan partai itu menjadi mesin ampuh bagi Soeharto untuk terus menjadi presiden. Dan kampung saya belum punya listrik, jalan masih berbatu, irigasi barang mewah. Sementara menunggu subsidi mengucur bukan sesuatu yang arif.

Dan subsidi meminta syarat. Subsidi hanya dikucurkan dari kabupaten, atas nama inpres atau banpres, jika sebuah desa bisa menghidangkan 100 persen suara kepada Golkar dalam pemilu. Maka Bapak, seorang kader Golkar kecamatan, merancang semua itu: memanipulasi suara pemilih dengan membakar kertas suara untuk PDI dan PPP lalu menggantinya dengan suara Golkar di kertas baru, membujuk orang agar memilih gambar partai nomor 2. Di setiap pemilu dia sering telat pulang dan lupa makan terus berkeliling untuk kampanye. Dan hasilnya, kampung saya selalu 100 persen Golkar. Listrik pun masuk, jalan diaspal, dam dibangun dan sawah berlimpah basah.

Bapak pun dibenci orang-orang muda. Anak-anak muda tak mau mendengar orang-orang tua yang menganjurkan memilih Golkar lewat speaker masjid dalam kultum safari Ramadan. Mereka sembunyi-sembunyi pergi ke lapangan yang menggelar kampanye PDI di kabupaten. Mereka diam-diam mencetak gambar PDI di kaus-kaus berwarna merah dengan cat tembok. Atau menempelkan mural di pagar-pagar rumah. Dan teror ini tak boleh dibiarkan.

Para pamong desa terus membujuk dan mengecap siapapun yang tak memilih Golkar sebagai pembangkang, sedikit lagi bakal menjadi PKI. Siapa yang tidak takut? Anak-anak muda itu, barangkali. Mereka membenci Bapak dan orang-orang dekatnya. "Awas ada anak Golkar," ini celetukan yang saya dengar tiap kali saya ingin bergabung dan bermain. Sejak itu saya murung, saya terkucil, tak ada lagi teman bermain.

Kami, saya dan Bapak, jadi sering bertengkar untuk "soal-soal politik". Entah kenapa, ada saja bahan yang bisa saya ungkapkan jika Bapak memuji-muji Soeharto yang sedang pidato di TVRI. Acara kesukaannya Forum Negara Pancasila yang diasuh Tedjo Sumarto Sarjana Hukum di RRI yang dipancarluaskan seluruh radio swasta.

Saya sering diminta ikut mendengarkan acara Minggu pagi itu karena, "bisa berguna bagi pelajaran PMP". Saya sering mutung karena acara itu membajak cerita dan dongeng anak di radio kabupaten.

Saya marah, terutama, karena tak ada lagi teman bermain. Karena "saya anak Golkar", teman-teman sebaya tak ada lagi yang mau mengajak main bola atau berenang di sungai. Teman-teman saya adalah mereka yang seumuran dengan kakek saya. Saya menjadi peserta obrolan-obrolan sore yang membahas berita-berita di RRI. Pada umur sekecil itu, saya mendapat cerita bagaimana dulu PKI pernah berjaya di kampung ini, lalu orang-orang yang memilih partai itu diburu dan dikucilkan dan dibunuh. "Seperti adik kakekmu itu!"

Bagaimana dulu gerombolan DI/TII turun gunung merampok ke desa-desa. Dan analisis-analisis yang membahas apa yang terjadi seandainya hidup tak ada Golkar dan Soeharto. Saya mendapatkan "cerita-cerita politik" itu jauh sebelum guru-guru di sekolah mengajarkan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa.

Dan Bapak kecewa ketika terang-terangan saya bilang tak ingin jadi pegawai negeri. Perseteruan saya dengan Bapak kian meruncing menjelang 1998. Ketika Soeharto tumbang, Bapak diam saja ketika saya tanya pendapatnya. Dan ia surut dari mimbar kampanye. Ketika Pemilu 1999, ia tak lagi menjadi jurkam. Partai tak lagi cuma Golkar, orang bebas memilih. Mereka yang dulu paling getol membantu kampanye Golkar kemudian memilih partai lain. Tapi, Bapak tetap mengagumi Soeharto. Ia sering mengecam demonstrasi-demonstrasi. Bolak-balik ia menelepon agar saya tak usah ikut rame-rame itu. Ia sering menyalahkan reformasi yang tak bisa segera mengembalikan keadaan seperti di zaman Orde Baru.

Tapi ia pernah mengaku, apa yang ia lakukan dulu hanya agar "hidup menjadi lebih baik", bukan karena soal Golkar atau Soeharto belaka. Golkar adalah sarana ampuh mencapai tujuan itu. Tanpa memilih Golkar, begitu selalu ia mengulang, desa ini mungkin masih gelap gulita, sawah puso, jalanan berdebu. "Mungkin kamu belajar  masih diterangi lampu semprong," katanya. Menjadikan desa ini 100 persen Golkar membuat proposal pembangunan gampang dan cepat disetujui. Lihatlah, katanya, telepon hanya tiang kabelnya saja dan kini roboh karena Soeharto keburu tumbang.

Saya belum menelepon, apa komentarnya setelah mendengar Soeharto meninggal.