Monday, May 18, 2009

SETELAH MENONTON ANGELS & DEMONS


AGAK repot juga membuat film berdasarkan sebuah novel. Ron Howard pasti ingin membuat kejutan bagi yang belum membaca bukunya seraya memberi tontonan yang tak membosankan bagi mereka yang sudah membaca Angels and Demons. Karena itu ia membumbui misteri pembunuhan empat kardinal calon Paus dengan gemuruh suara efek, sehingga ini film Holywood sekali. Seolah-olah ia ingin menebus kekurang-tegangan ketika bikin Da Vinci Code.

Dan efek suara itu hanya berhenti di gelegar dan gemuruhnya saja. Jika Dan Brown meracik misteri itu dengan melemparkan pertanyaan, menunda kesimpulan, menghadirkan sejarah perseteruan iman dan sains, serta memainkan sangkaan-sangkaan kita dengan keragu-raguan Robert Langdon mengungkai simbol-simbol Illuminati, film Howard alfa memasukkan unsur ini. Atau berupaya tapi gagal.

Pada film, Langdon seperti manusia yang--mengutip kata-kata seorang pastor-- "dikirim Tuhan untuk menyelamatkan Vatikan". Hebat betul profesor macam dia: tak pernah ragu dengan pikirannya. Simbol-simbol itu seperti datang sendiri menunjukkan batang hidungnya. Tiap Langdon bingung, selalu saja tanda itu muncul sehingga profesor dari Universitas Harvard ini bisa menemukan tempat-tempat empat kardinal itu dieksekusi, tanpa pikir dua kali. Hanya sekali ia salah ketika menafsirkan simbol "lubang iblis" tempat eksekusi pertama.

Barangkali karena dua jam tak cukup memasukkan soal-soal ini ke dalam bahasa gambar. Itupula sebabnya, Langdon terlalu banyak omong untuk menjelaskan kepada kita konteks sebuah simbol, kenapa Illuminati membalas dendam, sejarah sebuah lukisan atau geometri Galileo Galilei. Howard juga hanya sedikit menyinggung soal ketegangan antara gereja dan sains. Padahal ini konteks peristiwa yang melatari terbentuknya kelompok rahasia Illuminati.

Tapi, barangkali juga, ini pikiran seorang penonton yang pernah menikmati bukunya, yang sudah tahu sejak awal siapa pelaku utama sesungguhnya dari rangkaian peristiwa yang mengiringi pemilihan Paus itu. Penonton yang sudah terlalu banyak diberi plot kebetulan yang dirancang Dan Brown, sehingga ketegangan pada film sudah tak terasa lagi karena ending sudah diketahui di 15 menit pertama.

Dan, tentu saja, tak adil membanding-bandingkan film dan buku. Jadi, lebih baik kita nikmati saja kemegahan dan keagungan Vatikan, sudut-sudut gerejanya yang purba, lorong-lorong rahasia Santo Petrus seraya berpikir: hebat sekali ilmuwan Illuminati ini--jika memang mereka pernah ada--merencanakan hidup dan merancang sejarah dengan pelbagai tanda yang saling berhubungan dan berlaku umum. Tak baik juga repot-repot memikirkan plot film di hari Senin begini.
Post a Comment