Wednesday, November 28, 2007

UNTUK MARIANE



Budi Primawan, seseorang dari Jakarta, bertanya kepada Mariane Pearl: "Apakah pandangan anda terhadap Islam berubah setelah suami anda terbunuh?" Mariane menjawab tidak. "Saya tumbuh dalam lingkungan Islam, saya sangat kenal agama ini," katanya. Ia menganggap para pembunuh Daniel Pearl, wartawan The Wall Street Journal yang diculik anggota kelompok Al Qaidah di Pakistan tahun 2002, "adalah para penculik yang hidup dalam keyakinan mereka sendiri." Dengan kata lain, pembunuh ayah anaknya itu, bukan orang Islam yang ia kenal.

Saya terharu membaca jawaban Mariane ini. Mariane seorang Yahudi yang nenek moyangnya orang Kuba, Cina, Latin, dan Afrika. Ia lahir, tumbuh, dan menjadi wartawan lepas di Paris. Mariane seorang penganut Budhisme-Nichiren yang ajarannya mengedepankan kedamaian. Saya terharu karena jawaban itu datang dari seseorang yang menjadi "korban" oleh mereka yang mengatasnamakan Islam. Saya terharu karena jawaban itu menjadi anomali di tengah begitu banyak orang yang salah menyangka terhadap Islam, mereka yang tak pernah hidup dan mengerti bagaimana keyakinan Islam yang sesungguhnya. Mariane telah adil sudah sejak dalam pikiran--ciri mereka yang hidup dalam peradaban modern, kata Pramodeya Ananta Toer.

Dalam film A Mighty Heart yang dirilis Juni lalu kita melihat betapa runtuhnya ia sejak memastikan suaminya hilang, tahu siapa para penculiknya, hingga video yang menayangkan bagaimana kepala suaminya dipenggal. Ketika itu ia sedang hamil tua (perannya dimainkan Angelina Jolie). Ia lelah memburu secuil informasi melacak keberadaan suaminya yang hilang selama 10 hari. Ia senewen karena pemerintah Pakistan justru menyalahkan suaminya menempuh jalan sulit mewawancarai pentolan Al Qaidah untuk melacak jaringan seorang peledak bom bunuh diri. Mariane berkesimpulan, "Pemerintahan Musharraf tak cukup punya kekuasaan seperti yang kita kira sebelumnya."

Sikap Mariane ini penting di zaman ini, ketika orang bisa seenaknya mengklaim diri mengatasnamakan agama setelah melakukan serangkaian pembunuhan. Ketika agama kian mencemaskan, menakutkan, dan membingungkan. Ketika agama tak lagi punya masa depan. Mariane bisa mengalahkan dirinya sendiri dengan tidak menyamaratakan semua hal. Pasca 11 September 2001, kita tergoda kembali ke abad 20, ketika dunia terbagi berdasarkan keyakinan dan ideologi, ketika dunia dipenuhi kecurigaan karena pandangan sempit dan satu arah. Kita terharu dan optimistis masih banyak orang seperti Mariane.

Tuesday, November 27, 2007

GENERASI INTERNET



Internet mengkhawatirkan karena ia memudahkan hal ihwal. Internet membuat cemas karena telah membuat kita malas.

Seorang wartawan senior bercerita, dulu jika ia akan menulis praktis mengandalkan bahan-bahan yang dicetak. Ia harus berkutat di perpustakaan, membaca banyak buku--tentu saja tidak dengan sambil lalu--hanya untuk mencari perspektif dari apa yang akan ia tulis. Ia menandai bahan-bahan penting lalu menyusunnya agar mudah ditemukan ketika proses menulis dimulai. Pendeknya, menulis adalah sebuah kerja yang militan.

Kini kita hanya perlu koneksi. Google akan menjawab semua pertanyaan wartawan tua itu. Tak perlu membaca buku dari daftar isi hingga bab penutup, cukup klik "search" untuk mencari kata atau topik yang ingin dilihat. Wikipedia memuat segala hal dengan jaringan yang tak putus-putus. Orang bisa mendapat bahan dengan mudah dan cepat. Tapi betapa mengkhawatirkan.

Paling tidak bagi teman saya ini. Ia mengeluh kini tak ada lagi para penulis dari generasi sekarang yang bisa menulis sejernih para penulis zaman dulu. Setiap pekan orang mengirimkan buah pikirannya untuk kolom-kolom media massa. Tapi buah pikiran itu belum menjadi buah pikiran, baru sebatas buah bibir. Tak perlu ditulis, buah pikiran cukup bisa diucapkan. Yang muncul kemudian adalah kita tetap hidup dalam budaya tuturan. Padahal, orang menulis karena "kata tak cukup untuk berkata". Orang menulis karena lisan tak cukup menampung percikan permenungan.

Teman itu memberikan kesimpulan yang agak ganjil. Bahwa ketiadaan para penulis yang mahir mengolah kata dan bahasa karena tak ada seleksi lagi. Para penulis itu tak belajar di mana kekurangan-kekurangan dalam menulis. Dari soal elementer sampai soal pokok gramatikal. Ada penulis yang namanya malang melintang dalam dunia perkoloman, banyak melahirkan buku, sudah karatan sebagai ahli di bidangnya, tapi masih belepotan membedakan "di" sebagai imbuhan dan "di" sebagai kata depan. Ia tak bisa membuang kata-kata yang sudah jadi klise. Bagi dia, yang penting adalah isi.

Padahal isi bisa dituang di mana saja. Sementara bentuk lahir dari pengalaman para penulis itu bergulat dengan rahsia dan keajaiban bahasa. Bentuk itulah yang pertama menyapa kita, sebelum menikmati isinya. Kini kita menghadapi serangkaian isi seperti kita melihat-lihat celana jins di sepermarket. Tak ada keunikan. Dengan kata lain, teman saya itu sedang menyoal apa yang disebut pasar tulisan.

Celakanya, pasar itu tak membentuk orang menjadi penulis sungguhan. Kini kita bisa mencemplungkan tulisan kapan dan di mana saja kita mau. Kini kita langsung menguji buah permenungan kita ke hadapan publik yang lebih luas, bukan seorang editor yang bertindak sebagai algojo bagi tulisan itu. Saya teringat kembali Milan Kundera yang membuat istilah ajaib semacam "grafomaniak". Dan saya kini mengerti kenapa ia ngotot membedakan "penulis" dan "novelis".

Saya masih menganggap kesimpulan teman saya itu ganjil. Karena zaman ini menjawab pertanyaan dan perjuangan tentang kebebasan. Zaman ini menyuguhkan pertarungan pasar para penulis yang sesungguhnya. Hanya mereka yang bandel dan keras kepalalah yang keluar sebagai menyandang gelar "penulis". Dalam sebuah artikelnya di New Yorker, Orhan Pamuk mengatakan bahwa "modal penulis bukan inspirasi, melainkan kebandelan dan sikap keras kepala." Ia sendiri menentang nasib yang akan mengarahkannya menjadi juru gambar, dengan terus menulis, memperbaiki, menulis, memperbaiki, hingga membuat novel-novel yang teruji ketika lahir.

Tulisan ini sendiri bukan lahir dari sikap keras kepala semacam itu. Tulisan ini mungkin masih lahir dari ego seorang grafomaniak dengan memanfaatkan apa yang ia khawatirkan: Internet--betapapun kekhawatiran itu kian menemukan alasan.

Wednesday, October 31, 2007

PEGAWAI NEGERI



Adik saya punya cita-cita yang agak aneh untuk ukuran zaman sekarang: menjadi pegawai negeri. Sewaktu akan lulus SMU, setengah nyengir ia bilang ingin masuk IPDN. Tentu saja semua menghadangnya. "Untuk apa menyekolahkan anak jauh-jauh kalau cuma mau dipukuli," ini suara khas ibu-ibu. Adik saya pun kemudian sekolah di UPI. Ia memang punya mimpi jadi guru.

Jadi guru sendiri terdengar agak aneh. Bapak kami seorang guru yang hidup miskin secara finansial. Apa yang ingin ditiru dari hidup sebagai guru oleh adik saya itu? Mungkin saya tak lagi memahami cita-cita anak zaman sekarang. Atau karena mungkin saya tak pernah punya cita-cita. Saya sekolah karena kepincut dongeng di radio kabupaten yang menceritakan seorang sarjana pertanian yang bekerja di desa sebagai penyuluh dan--terutama--sukses menikahi anak kepala desa. Jadi sarjana adalah sebuah keinginan yang tak spesifik. Cita-cita adik saya jelas: guru. Ini sebuah profesi sekaligus pekerjaan.

Atau cara pandang saya musti diubah. Pegawai negeri dalam kepala saya adalah sebuah ruangan yang tak pernah dipel. Sebuah kantor yang penuh asap rokok dengan ujung meja yang menghitam disesaki map yang tak jelas fungsinya. Sebuah ruangan yang dipenuhi orang berseragam yang menguap atau mengobrol. Pokoknya sebuah kantor yang tak memproduksi apa-apa.

Barangkali saya harus menghapus gambaran kumuh pegawai negeri seperti itu. Sebab, pegawai negeri kini adalah sedan mewah, dengan jas dan dasi, tak ada lagi safari atau korpri. Penataran P4 berganti dengan kursus manajemen. Mereka tinggal "bekerja" karena subsidi disediakan dengan sangat melimpah: 40 persen pajak negeri ini dipakai untuk menggaji ratusan ribu pegawai negeri.

Dan pegawai negeri adalah penyelamat negeri ini. Negeri ini masih ada karena orang masih bisa makan meskipun tak ada pekerjaan. Negara menyelamatkan negeri ini dari chaos akibat bom pengangguran. Indonesia tak seperti Yordania ketika Pangeran Abdullah II naik tahta menggantikan ayahnya yang meninggal. Abdullah menggebrak dengan memangkas jumlah pegawai negeri karena mereka menghabiskan anggaran sambil menguap.

Tapi birokrat Yordania segera hidup makmur begitu bekerja di swasta karena ada begitu banyak perusahaan yang butuh pekerja di luar sana. Tak ada yang mengganggur, birokrasi begitu ringan dan langsing, efektif, dan cekatan. Ia bukan lagi "seekor raksasa" yang rakus makan seperti istilah Trotsky.

Tapi raksasa yang gemuk atau langsing, seperti di sini, pegawai negeri terus diburu. Para tetangga yang punya anak baru lulus kuliah tak henti menanyakan informasi lowongan di departemen. Pekerjaan ini masih (atau terus?) dianggap seksi. Di Jembrana para pegawai bahkan menggondol bonus tiap bulan, setelah gaji dinaikkan dua kali lipat. Syaratnya sangat mudah: bekerja dengan jujur.

Saya mungkin musti segera mengubah stereotip buruk terhadap pegawai negeri. Adik saya barangkali sejenis orang yang realistis, produk zaman kiwari. Sebab, saya yang bekerja menjadi
pegawai luar negeri pun toh tak lebih kaya dibanding bapak saya di kampung. Pegawai negeri jelas menjanjikan tingkat kekayaan, juga status.

Tuesday, October 23, 2007

ANAK-ANAK YANG KEHILANGAN SUNGAI



Anak-anak yang kehilangan sungai, mereka harus menempuh jalan jauh agar bisa berenang. Mereka harus berdandan, menyiapkan ongkos, membekali diri dengan sabun dan handuk. Mereka berdesakan di mobil bak terbuka, ke kolam renang di kecamatan. Ketika sungai-sungai kering orang-orang membangun kolam dengan tiket dan satpam.

Anak-anak yang kehilangan sungai, mereka tak lagi bebas beradu tangkas menjajal seberapa dalam palung dan oplak. Di kolam buatan itu mereka menemui kedalaman sungai yang sama dan terukur. Mereka tak belajar bagaimana menjelajah. Mereka kehilangan permainan.

Tapi barangkali ini sebuah romantisme. Ketika saya kecil, sungai adalah arena menjajal nyali. Kami—anak-anak seumuran 6-10 tahun—harus mencuri kesempatan agar bisa berenang di sungai Cisanggarung yang lebar dan dalam. Kami harus sembunyi dari mata para tetangga yang bisa melaporkan keasyikan kami kepada orang-orang tua. Sebab, kami akan kena setrap. Orang-orang tua takut jika anak-anak berenang di sungai itu kami akan tenggelam atau dimakan buaya.

Konon, di sungai itu banyak sekali buaya. Sampai sekarang saya tidak tahu benarkah buaya bersarang di sana. Buaya mungkin hanya mitos yang diciptakan untuk menakut-nakuti anak-anak agar tak berenang ke sana. Sekali saya pernah melihat di jurang di pinggir kali itu ada lubang dalam dan gelap, ketika air surut. Orang-orang menyebut itulah rumah buaya yang dulu-dulu sering memakan anak-anak yang mandi di sungai sehabis pulang sekolah atau sembari menggembala kambing.

Kini sungai itu sudah tak ada lagi. Kering dan gersang. Tak ada tukang perahu yang menyebrangkan orang-orang kampung kami yang akan pergi ke pasar. Untuk menuju jalan besar di mana angkutan melintas, orang punya dua jalan: ke sungai itu atau ke jembatan bikinan Belanda. Tapi ke jembatan jalannya memutar. Harus pakai ojek untuk mencapainya yang ongkosnya lebih mahal dari ongkos perahu. Sungai itu semacam jalan pintas.

Kini hampir setiap rumah punya sepeda motor. Satu atau dua. Baru atau lama. Kreditan atau kontan. Motor sudah menjadi keseharian yang dulu masih menjadi barang mewah. Dulu, hanya orang-orang kaya—yang punya sawah dan ternak banyak—yang punya sepeda motor. Orang umum paling banter sepeda angin. Tapi bukan karena kehadiran sepeda motor perahu tak ada lagi.

Kematian sungai itulah yang jadi pokok penyebab. Air memang mulai menghilang dari kampung kami ini. Selama puasa dan lebaran ini beberapa rumah kekurangan air—satu hal yang dulu tak pernah terjadi. Mungkin karena pemanasan global yang diributkan orang itu. Karena hutan-hutan yang dulu tak pernah dijamah karena ditunggu wangatua dan dedemit sudah punah, gersang, dan boyak.

Tapi sebelum itu, sungai kami hilang ketika di kampung seberang ada orang Jakarta yang membangun pabrik aspal, sekitar 15 tahun lalu. Orde Baru yang sedang membangun infrastruktur hingga pelosok membutuhkan pengusaha macam ini. Apalagi jika musim pemilu tiba. Jika satu kampung bisa mencobolos 100 persen Golkar, juru kampanye menjanjikan jalan aspal hingga masuk gang. Demikianlah, sungai kami hilang karena batu-batu itu diangkut untuk digiling.

Para petani tak lagi ke sawah dan ladang. Mereka menyelam di sungai untuk menggali batu-batu kali yang liat untuk dijual ke pabrik itu. Janda-janda baru tak perlu jauh-jauh ke Kramat Tunggak, mereka menjadi langganan orang-orang pabrik. Dan batu-batu itu pun menghilang, pasir lenyap, sungai jadi dangkal. Yang timbul adalah cadas yang licin. Palung-palung menghilang, oplak untuk memancing tumpas. Anak-anak tak lagi punya mainan selepas pulang sekolah, atau memandikan ternak.

Kini mereka melakukan apa yang dilakukan anak-anak kota: main plyastation, berenang di kolam renang proslen, ngebut dengan sepeda motor, tak ada lagi yang main gundu atau gasing. Selepas magrib kampung sepi, anak-anak tidur cepat. Mereka tak lagi mengangeni bulan sambil mendengarkan orang-orang tua bercerita tentang legenda dan takhayul.

Setiap lebaran, selalu saya merasa kehilangan sesuatu dari kampung ini. Suasananya, orang-orangnya, bau asap sampahnya. Sebelas tahun terlalu cepat membuat kampung ini berubah dan asing.

Thursday, September 06, 2007

INVESTIGASI



Di Australia, sangat sedikit wartawan yang berminat menekuni liputan investigasi. Soalnya, tanpa bersusah-susah menjadi wartawan jenis ini, penghasilan wartawan di sana sudah jauh lebih dari cukup. Dalam setahun, seorang wartawan digaji 50 ribu dolar Australia, sekitar Rp 400 juta--sepuluh kali lipat gaji wartawan Indonesia.

Wartawan Australia, ini cerita Wendy Bacon, bisa memiliki saham perusahaan medianya untuk tujuan ekonomi. Mereka berhak memperoleh dividen setiap kali rapat umum pemegang saham. Baiklah, saya cerita dulu siapa itu Wendy Bacon.

Ia sudah menjadi wartawati lebih dari 30 tahun. Wendy menulis laporan mendalam soal korupsi pejabat Australia untuk The National Times, The Sun Herald, Channel Nine, SBS, dan Sydney Morning Herald. Ia mendapat penghargaan bergengsi Walkley atas perannya mengungkap korupsi seorang pejabat di New South Wales.

Wendy sedang ada di Jakarta dalam pekan-pekan ini karena mengajar liputan investigasi untuk beberapa wartawan karena undangan Media Development Loan Fund. Dan ia mampir ke kantor untuk berbicang soal liputan investigasi. Ia seorang yang murah senyum. Kerut-kerut ketuaan sudah nampak di kulit tangan dan wajahnya. Rambut sebahunya yang lurus kelabu dipotong poni di atas alis. Ia mengaku sudah separuh jalan mengerjakan laporan penyelewengan bantuan dana kemanusiaan. Sebuah stamina yang liat. Di Indonesia, wartawan seusianya sudah pensiun, atau menjadi bos, paling banter mengurusi nonkeredaksian.

Wendy bersemangat menceritakan bagaimana membongkar kasus korupsi dan kolusi pejabat Australia. Satu kasus yang meledak adalah terbongkarnya ulah Menteri Pembangunan Queensland, Russ Hinze. Hinze terbukti menerima pinjaman 30 ribu dolar Australia lewat perusahaannya dari sejumlah pengembang. Pinjaman itu sebetulnya suap terselubung karena tak ada perjanjian pengembalian. Kasusnya menarik karena Hinze kemudian membuat sejumlah peraturan yang diinginkan para kontraktor itu.

Hinze meninggal sebelum masuk penjara. Terbongkarnya kasus ini mendorong pemerintahan setempat membentuk lembaga pengusut korupsi. Pemerintahan Queensland jatuh dan banyak korupsi diusut.

Sudah 50 kali Wendy digugat ke pengadilan karena tekun membongkar skandal. Dan, rupanya, ini taktik baru dari para penjahat menusuk balik para wartawan seperti Wendy. Mereka membuat jaringan agar publik tak percaya dengan liputan Wendy, lalu menggugatnya ke pengadilan. Juga pembunuhan karakter. Cara seperti ini juga sudah muncul di Indonesia, sejak Orde Baru runtuh.

Jika dulu sensor dilakukan lewat kekuasaan, menghindar dari kejaran wartawan agar tak ada asas konfirmasi, kini gugatan ke pengadilan mulai lazim ditempuh mereka yang merasa dirugikan oleh sebuah berita. Dalam demokrasi ini sehat. Tapi menjadi tidak sehat ketika jalur di luar pengadilan juga dilakukan dengan cara menyerang wartawan, baik secara fisik maupun pembunuhan karakter lewat media lain. Jika dulu bedil yang bicara, kini kekuatan modal lebih berperan.

Masalah utama dalam liputan investigasi, kata Wendy, adalah modal. Kejahatan kini kian lintas negara. Perlu ongkos menguber bukti-bukti kejahatan hingga ke luar negeri. Juga tenggat. Seringkali, cerita baru diperoleh separuh, tenggat mendesak-desak. Hal lainnya soal etika.

Ia banyak bertemu dengan mereka yang menjadi saksi kunci penyuapan. Tapi, dengan alasan keamanan mereka menolak menceritakan apa yang mereka tahu, apalagi namanya muncul di media sebagai bukti sebuah kasus korupsi dan kolusi terjadi. Ini memang berat. Apalagi, di Indonesia, belum ada Undang-Undang Perlindungan Saksi. Liputan investigasi kerap mentok jika menghadapi kasus suap dan mencari aliran duit. Suap biasanya dilakukan dengan cara tunai untuk menghindari jejak jika lewat rekening bank.

Kesaksian, karena itu, menjadi penting dalam kasus semacam ini. Ada beberapa saksi yang tahu penyuapan itu, tapi mereka menolak ceritanya, apalagi namanya, dimuat karena alasan keselamatan keluarga. Sebab, dialah satu-satunya orang yang menyaksikan penyuapan itu. Tak sedikit mereka menerima ancaman pembunuhan jika mau bersaksi. "Ini memang sulit karena terkait etika," kata Wendy.

Ia mengusulkan agar Undang-Undang Keterbukaan Memperoleh Informasi segera disahkan. Sehingga data pemerintah bisa diakses leluasa oleh wartawan. Swedia punya undang-undang ini sejak tiga abad silam. Seorang wartawan yang menanyakan suatu data wajib diberikan dalam 2 x 24 jam. Dahsyat! Ini usul yang baik. Keterbukaan, bagaimanapun, bisa menekan kejahatan dan korupsi.

Tapi, apa sih ukuran sukses tidaknya sebuah liputan invetigasi. Menurut Wendy kesuksesan bukan terletak pada dampak, tapi seberapa jauh para wartawan membuktikan kebenaran ceritanya. Pemerintah dan publik mungkin tak segera--malah tidak sama sekali--merespon investigasi wartawan. Ia sendiri baru girang setelah seorang perempuan tak bersalah yang sudah mendekam 10 tahun di penjara dibebaskan enam tahun setelah laporannya terbit. Tapi, mengharapkan liputannya berdampak bukan tugas utama para wartawan.

Ini berbeda dengan di Guatemala yang totaliter. Jose Zamora harus turun ke jalan setelah korannya menyiarkan bukti korupsi pejabat pemerintahan, tentara, dan parlemen. Ia dan teman-temannya menyebarkan pamflet dan selebaran yang memuat foto-foto para tersangka. Agaknya, sistem yang dengan hormat disebut demokrasi itu memang membedakan bagaimana wartawan harus berbuat.

Tuesday, August 28, 2007

ABAD PERTENGAHAN DI DUNIA MAYA



Steve Fuller, profesor sosiologi di Universitas Warwick

Wikipedia, ensiklopedia online, merupakan proyek intelektual kolektif paling mengesankan yang pernah diupayakan--dan berhasil. Ia meminta baik perhatian maupun kontribusi dari siapa pun yang peduli terhadap masa depan ilmu pengetahuan.

Karena cepatnya menduduki tempat yang terkemuka di ruang maya, arti penting Wikipedia yang sebenarnya kurang diserap. Sejak ulang tahunnya yang keenam pada 2007 ini, Wikipedia secara konsisten telah berada pada posisi sepuluh website teratas yang paling sering diakses di seluruh dunia. Setiap hari 7 persen dari 1,2 miliar pengguna Internet di dunia membuka website Wikipedia, sementara laju pertumbuhan penggunanya tercatat lebih cepat daripada laju pertumbuhan pengguna Internet secara keseluruhan.

Siapa pun yang mempunyai waktu, kemampuan berartikulasi, dan keterampilan mengoperasikan komputer bisa menyumbang kepada Wikipedia. Siapa pun bisa mengubah entri atau menambah entri baru, dan hasilnya langsung muncul di layar untuk dilihat--dan mungkin disanggah--oleh siapa pun.

Wikipedia merupakan sebuah akar kata Hawaii yang secara resmi ditambahkan pada akar kata Inggris pada 2007 yang berarti sesuatu yang dilakukan dengan cepat--dalam hal ini, perubahan dalam tubuh kolektif ilmu pengetahuan. Sekitar 4,7 juta "Wikipediawan" sekarang telah menyumbangkan 5,3 juta entri, sepertiga di antaranya dalam bahasa Inggris, sisanya dalam lebih dari 250 bahasa lainnya. Selanjutnya, terdapat kelompok kontributor teras yang relatif besar jumlahnya: sekitar 75.000 Wikipediawan menyumbang sekurang-kurangnya lima entri dalam setiap 30 hari tertentu.

Kualitas artikelnya tidak merata seperti yang tidak mungkin diharapkan dari suatu proses yang mengatur dirinya sendiri, tapi umumnya tidak buruk. Memang, topik yang disenangi pria haus seks dibahas dengan sangat menarik dan terperinci, sementara hal-hal yang kurang memikat sering kali dibiarkan dangkal. Meski demikian, menurut Cass Sunstein, guru besar ilmu hukum pada University of Chicago, Wikipedia sekarang dikutip empat kali lebih sering daripada Encyclopedia Britannica dalam keputusan-keputusan yang diambil pengadilan di Amerika Serikat. Selain itu, evaluasi yang dilakukan majalah Nature pada 2005 mengenai artikel-artikel ilmiah dalam dua ensiklopedia ini menunjukkan bahwa rata-rata terdapat empat kesalahan dalam Wikipedia dibanding tiga dalam Britannica. Tapi sejak itu selisih kesalahan tersebut mungkin sudah dipersempit.

Booster Wikipedia mengumumkan akan tibanya "Web 2.0.". Sementara "Web 1.0" mempercepat penyimpanan dan penyampaian berbagai jenis informasi dalam jumlah yang besar di ruang maya, "Web 2.0" katanya membuat seluruh proses menjadi interaktif, dan dengan demikian menyingkirkan hambatan terakhir yang memisahkan penyampai dari penerima informasi. Tapi kita sebenarnya sudah berada pada tahapan itu sebelum ini--sebenarnya sudah sejak dulu dalam sejarah umat manusia.

Jurang tajam yang memisahkan produsen dari konsumen ilmu pengetahuan baru mulai terjadi sekitar 300 tahun yang lalu ketika para pencetak buku memperoleh perlindungan raja menghadapi para pembajak dalam suatu pasar literer yang cepat berkembang. Warisan keberhasilan mereka, yaitu undang-undang hak cipta, terus menghambat upaya membuat ruang maya sebagai pasar bebas gagasan. Dahulu belum banyak pembaca dan penulis. Tapi kedua-duanya tidak berbeda. Mereka sama-sama memiliki akses langsung ke karya masing-masing.

Sebenarnya, semacam komunitas Wikipedia dalam bentuk yang lebih kecil, lebih lamban, dan lebih terfragmentasi sudah lahir bersamaan waktunya dengan munculnya universitas-universitas di Eropa pada abad ke-12 dan ke-13. Jilid-jilid tebal dengan ornamentasi yang indah pada awal Abad Pertengahan digantikan buku-buku ringan yang bisa dibawa ke mana-mana sesuai dengan sentuhan ringan mata pena bulu ayam. Tapi halaman buku-buku ini tetap terbuat dari kulit hewan, yang dengan mudah bisa ditulisi secara berulang-ulang, sehingga sering sulit mengetahui pengarang aslinya karena suatu teks itu mungkin berupa salinan kuliah yang disisipi komentar penyalin dan mungkin diubah di sana-sini sementara buku itu pindah dari tangan ke tangan.

Wikipedia sudah mengatasi masalah-masalah teknis seperti itu. Setiap perubahan entri secara otomatis diikuti jejak sejarahnya, sehingga entri tersebut bisa dibaca seperti apa yang oleh ilmuwan pada Abad Pertengahan disebut "palimpsest", suatu teks yang ditulisi lagi secara berturut-turut. Lagi pula "halaman-halaman berbicara" yang ada sekarang memberikan banyak peluang untuk membahas perubahan-perubahan yang harus dan mungkin dilakukan. Walaupun Wikipediawan tidak perlu mengedarkan salinan-salinan teks yang ada--setiap orang punya salinan mayanya sendiri--kebijakan Wikipedia mengenai isinya tetap "kuno" dalam semangat.

Kebijakan itu terdiri atas tiga pokok. Pertama, tidak ada penelitian yang original; kedua, sudut pandang yang netral; dan ketiga, bisa diverifikasi. Ketiga pokok dirancang untuk mereka yang langsung memiliki bahan-bahan referensi, bukan otoritas yang akan menilainya.

Begitulah posisi epistemologi pada Abad Pertengahan, yang menganggap semua manusia setara satu sama lain tapi tunduk kepada Tuhan yang gaib. Paling-paling yang dapat diharapkan seseorang hanyalah dialektika yang berimbang sempurna. Pada Abad Pertengahan, sikap seperti ini melahirkan pertengkaran skolastik. Di ruang maya, praktek serupa yang sering dinamai "trolling", artinya memancing, tetap merupakan tulang punggung kontrol kualitas Wikipedia.

Wikipedia merupakan wujud Abad Pertengahan yang demokratis yang tidak mengakui klaim kepakaran pribadi tanpa sumber-sumber yang bisa diverifikasi. Untuk sepenuhnya merealisasi konsep yang ideal ini, partisipasi dalam Wikipedia mungkin bisa dijadikan mata kuliah wajib bagi mahasiswa S-1 ataupun S-2 di seluruh dunia. Norma-norma perilaku yang diharapkan dari para mahasiswa ini sesuai benar dengan kebijakan mengenai isi Wikipedia: seseorang tidak diharapkan melakukan penelitian original, tapi tahu di mana bahan penelitian berada dan bagaimana berargumentasi mengenai bahan penelitian yang ada itu.

Partisipasi wajib mahasiswa tak hanya akan meningkatkan basis ilmu pengetahuan kolektif Wikipedia, tapi juga mungkin mengekang pretensi elitis para peneliti dalam sistem ilmu pengetahuan global. *

Diterjemahkan dan dimuat Koran Tempo, 28 Agustus 2007

Friday, August 24, 2007

UNTUK DAN TENTANG DIRI SENDIRI

Di Tempo, saya tetap saja seorang orang luar. Seorang asing yang mengetuk lobi kantornya lalu mengangguk: selamat pagi.

Bacalah, misalnya, Wars Within, yang edisi Indonesianya diluncurkan pekan ini. Biografi Tempo yang ditulis Janet Steele, seorang guru jurnalistik dari George Washington University, Amerika Serikat, dan sering memberi pelatihan "jurnalisme-sastra" kepada wartawan Indonesia, bagi orang seperti saya, adalah sebuah biografi di seberang. Janet menutup kisah pergulatan di tubuh Tempo itu sesaat setelah majalah ini dibunuh pemerintah, 1994--dengan tambahan epilog kasus dengan pengusaha Tomy Winata.

Saya tak mengalami apa yang Tempo alami. Saya tak terlibat dalam arus utama sejarahnya. Sebab, Tempo yang terbit kembali pada 1998 praktis sebuah Tempo yang baru, sebuah majalah yang memulai dari nol, bahkan orang-orangnya. Saya, dan generasi sesudah 1998, tak bersintuhan langsung dengan para pendiri. Pucuk Tempo sekarang sudah generasi kedua.

Maka jika dulu para pendiri mempertaruhkan bagaimana Tempo beralih kepada generasi kedua, kini pertaruhannya adalah bagaimana Tempo beralih kepada "generasi pasca bredel"--mereka yang dari luar, mereka yang melihat, dan hanya mendengar bagaimana Tempo dibangun. Sebuah peralihan yang lebih sulit dibanding peralihan yang pertama.

Sebagai seorang luar, saya hanya mendengar bagaimana dulu Tempo dibangun, bagaimana kultur awak redaksinya yang kini coba dipertahankan. Tempo kini jelas berbeda dengan Tempo yang dulu. Manajerialnya, gajinya, cara merekrut reporternya, cara liputannya, bahkan gaya tulisannya. Jika membaca Tempo edisi 1980-an, misalnya, ada perbedaan jelas dengan gaya Tempo zaman kiwari.

Tempo sekarang sepertinya kian menegaskan apa yang dirasakan oleh almarhum Umar Kayam, seorang sosiolog dan penulis sastra terkemuka. Ketika memberi komentar saat peringatan ulang tahun Tempo yang ke-30 pada 2001, Kayam menulis bahwa Tempo kini lebih ruwet dengan persoalan. "Menurut saya, Tempo sekarang lebih kering bahasanya, tidak selucu dulu, dan kurang inovatif," katanya. Janet memberi satu kata yang pas: analitis. Padahal, moto Tempo tetap saja : jujur, jernih, jenaka pun bisa.

Tempo, kata Kayam, tak lagi sesuai dengan iklannya yang "enak dibaca dan perlu". Karena yang mengemuka persoalan, sajian Tempo kini lebih menonjolkan yang perlu-perlu. Enak dibaca jadi nomor dua. "Tempo dulu," kata Kayam, "bukan hanya memperbaiki bahasa jurnalistik, tapi memberi semacam hiburan." Yang kering-kering ini bahkan merambah ke kolom-kolomnya. Penulis kolom untuk Tempo terasa sekali lambat tumbuhnya. Bahasa-bahasa rancu yang keluar dari meja pengadilan dan mulut pejabat sudah merasuk ke dalam gaya Tempo.

Barangkali karena zamannya memang sudah lain. Dulu Tempo diisi oleh para penulis, sastrawan, aktivis, yang "pekerjannya" memang bergulat dengan bahasa. Mereka menjadi sastrawan dan penulis lebih dulu baru menjadi wartawan. Kini, sebaliknya. Ada yang menjadi sastrawan setelah lama "belajar" di Tempo.

Setiap generasi memang tidak selalu sama. Dulu dan sekarang tantangannya juga jelas lain. Membaca Tempo zaman dulu memang lebih terasa bagaimana ceritanya, bukan bagaimana materi beritanya. Jurus begini lahir dari sebuah upaya menghindari sensor. Setelah sensor tak ada lagi, para wartawan menulis berita langsung kepada intinya.

Jika dulu wartawan harus melipir-melipir menulis korupsi menteri A, kini tudingan itu lebih langsung. Persoalan juga kini lebih ruwet, macam-macam, dan canggih. Apalagi, saingannya kini situs dan televisi. Jargon wartawan kini tak lagi sekadar "berani". Zaman berani-berani sudah lewat. Pertaruhan wartawan sekarang adalah bagaimana menjadi yang pertama tahu. Kecepatan lebih utama. Barangkali, inilah soalnya. Tempo berubah karena mengikuti perubahan suasana.

Tapi baik atau burukkah perubahan itu? Bagi awak Tempo, pertaruhan di dalam jelas bagaimana memelihara semangat jenaka seraya memberi isi yang lebih berbobot ke dalam sajiannya. Dalam kelas-kelas evaluasi setiap pekan, misalnya, sering muncul kritik jika ada yang menggunakan istilah-istilah jadul. Istilah-istilah segar dari tahun 1970-an kini sudah jamak dan klise. Pembacanya juga sudah uzur-uzur.

Kritik ini penting karena pembaca Tempo sekarang generasi 1990-an, generasi MTV yang gaul, generasi Internet yang melek. Jika tak segera menyesuaikan tentu mereka tak akan melirik majalah ini, sementara penggemar yang tua sudah tak membaca lagi.

Friday, August 17, 2007

SIAPA YANG TAHU DI MANA BERAKHIRNYA MATA SEORANG PENYAIR?



Jenis puisi apakah yang bisa membikin orang marah? Bukan puisi mimbar apalagi puisi kamar, tapi puisi gagal. Puisi yang bukan “sebuah sajak yang menjadi”—untuk mengutip Chairil Anwar dalam sebuah pidato radio di tahun 1946.

Sebuah sajak yang menjadi menyediakan sebuah proses yang terus berlanjut kendati sajak itu telah selesai ditulis. Sebuah tualang yang tak berakhir. Ia mengalir-menjalar ke jauh bawah sadar, menjadi sebuah pengalaman puitik dalam diri pembacanya. Puisi yang gagal, sebaliknya, membuat orang sewot. Karena itu tak heran jika orang marah membaca sajak Malaikat.


Mentang-mentang punya sayap
Malaikat begitu nyinyir dan cerewet
Ia berlagak sebagai makhluk baik
Tapi juga galak dan usil
Ia meniup-niupkan wahyu
Dan maut
Ke saban penjuru

2007

[Pikiran Rakyat, 4 Agustus 2007]

Saeful Badar mengolok dengan kenes sosok malaikat yang sudah umum hidup dalam bawah sadar kita lewat cerita-cerita kitab suci. Ia "menggugat" tingkah mahluk tak berdosa itu lewat puisi, seraya melupakan anasir renungan dan sublimasi kata. Orang marah karena malaikat yang sudah hidup dalam “sejarahnya” itu dicemooh secara dangkal oleh sajak satu kuplet ini.

Sama halnya ketika kita manyun karena sosok Si Boy dalam sandiwara radio itu muncul diwakili Onky Alexander dalam film. Sosok Onky meruntuhkan “tafsir” kita atas sosok Si Boy yang cuma hadir suaranya. Kita membayangkan Si Boy begini dan begitu, ini dan itu, lalu yang muncul Onky. Tafsir, karena itu, bersifat subjektif. Ia meniadakan ingatan kolektif.

Demikian pula ketika orang marah Tuhan yang murka dilukiskan turun ke bumi yang bejat dengan memakai kacamata bergagang emas dalam cerita pendek Langit Makin Mendung. Tuhan yang hidup dalam bayangan setiap orang oleh Ki Panjikusmin dipersonifikasikan begitu rupa. Orang pun marah.

Kasus sajak Malaikat dan cerita Langit Makin Mendung adalah sensor yang tipikal di dalam masyarakat yang menganggap tafsir harus tunggal. Dan sensor semacam ini niscaya tak akan mati-mati. Ia akan kekal sepanjang manusia masih menyebut Tuhan dan iman kepada yang gaib terus hidup dan tumbuh. Para penyair, sementara itu, mau tak mau juga akan bersintuhan dengan ranah ini karena renungan pada akhirnya bermuara pada hakikat manusia sendiri.

Sebuah ketegangan yang tak mudah lenyap. Dulu ketika negara ingin mengontrol hal ihwal, sebuah puisi atau penyair menghadapi musuhnya yang tunggal. Sensor pun datang dari sana. Kini, ketika peran negara surut ke belakang dalam urusan-urusan kreativitas, sensor tetap langgeng.

Kini sensor datang dari organisasi-organisasi massa, fatwa-fatwa majelis agama. Modal dan kekuasaan, dari luar negara, mengukuhkan apa yang boleh dan dilarang, menurut selera mereka sendiri.

Maka, demikianlah, syair yang dangkal akan memicu sensor yang dangkal pula. Sebab, belum pernah ada yang tersinggung lalu melayangkan somasi berlembar-lembar mengatasnamakan iman dan Tuhan terhadap puisi-puisi yang menjadi puncak-puncak sajak di Indonesia. Katakanlah orang marah kepada sajak Sutardji Calzoum Bachri atau Goenawan Mohamad. Yang timbul justru pelbagai analisis yang mengupas pelbagai segi sajak-sajak mereka. Padahal, tak kurang radikal apa Tuhan dan gugatan terhadap kebenaran umum dalam puisi mereka.

Karena itu, kasus sajak Malaikat dan Langit Makin Mendung mencemaskan sebab sajak dan sensor semacam itu menutup tumbuhnya kritik dalam karya sastra.

Kasus sajak Malaikat yang disomasi oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di Bandung itu, lalu dicabut oleh Pikiran Rakyat sehari kemudian, kian menegaskan kematian kritikus dalam ranah sastra Indonesia. Kritik sedang absen justru di tengah menjamurnya dan kian mudahnya orang menerbitkan buku-buku sastra. Kritik sastra kian tak berwibawa mengatasi kritik dari luar sastra sendiri. Tapi, adakah kritikus sastra kini? Adakah kini orang yang "tahu di mana berakhirnya mata seorang penyair"--ungkapan Toto Sudarto Bachtiar untuk menyebut ikhtiar H.B Jassin?

Sastra Indonesia mutakhir kini memang hiruk pikuk. Orang kini bisa mengomentari sebuah buku yang kian mudah diterbitkan dengan leluasa di pojok-pojok diskusi maya di Internet. Setiap orang bisa menjadi kritikus, bahkan tanpa identitas sekalipun. Setiap orang tiba-tiba bisa naik ke pentas sastra Indonesia. Sastra bukan lagi sebuah wilayah angker yang dijaga “Paus” yang bisa membaptis seseorang layak dibaca atau tidak.

Ketiadaan kritik yang sehat akan kian memberi ruang kepada “kritikus” di luar sastra itu menentukan kelaikan sebuah puisi, kesesuaian sebuah prosa dengan sebuah tafsir. Kritikus seperti ini sudah tentu mengabaikan argumen. Sebab, dalam sensor, argumen bisa disimpan di laci meja.

Tuesday, August 07, 2007

APAKAH WARTAWAN ITU?

Seringkali saya kesulitan jika ditanya tentang pekerjaan wartawan. Sebab wartawan adalah profesi yang simpel, pekerjaannya, ya, menyajikan berita di medianya. Sama saja dengan pengacara yang pekerjaannya memberikan persfektif fakta dari terdawa yang dibelanya, meskipun sekarang lebih sebagai makelar kasus belaka.

Biasanya, pertanyaan semacam itu tak berhenti. Pertanyaan akan berlanjut pada apa yang ditulis, bagaimana menulis, dan dengan cara apa mengumpulkan bahan tulisan. Orang-orang yang bertanya itu sesungguhnya tak jauh-jauh dari jenis pekerjaan yang ditanyakan mereka itu: mereka setiap pagi membaca koran. Kadang-kadang percaya dengan apa yang dibaca, seringkali ragu. Saya mungkin bersyukur di kelilingi oleh orang-orang tua yang tak mengerti pekerjaan anak dan keponakannya ini. Mereka masih heran kenapa saya yang sekolah bukan dari jurnalistik bisa menjadi wartawan. "Kapan belajar cara liputannya?"

Saya jadi bersyukur karena pekerjaan ini selalu menjadi bahan obrolan, terutama karena mereka selalu punya pertanyaan dari setiap jawaban yang saya berikan. Saya tidak tahu apakah itu karena mereka memang tak bisa mengerti, atau saya terlalu goblok menjawabnya.

Mereka juga sering heran, kenapa saya banyak tahu tentang gosip politik terbaru, hubungan-hubungan seorang aktor berita dengan aktor-aktor lainnya yang tampak tak bersinggungan. "Kenapa ceritamu itu tak kau tulis di majalahmu?" Kalau sudah begini, saya juga ikut heran kenapa mereka heran dan tidak tahu dan menganggap saya tahu segala hal. Sebab, apa yang saya ceritakan itu sudah tercetak semua di koran dan majalah.

Bacaan mereka mungkin terbatas. Mereka menyerap sebagian besar berita dari layar televisi, yang hanya muncul beberapa detik. Tak seperti di koran atau majalah yang menyajikan berita lengkap dan tuntas atau bersambungan, lengkap dengan latar belakang dan konteksnya. Para pengelola televisi tentu tak akan menurunkan berita jika mereka tak punya gambarnya. Jadinya, begitulah, para pemirsa pun menguyah berita hanya sepotong-sepotong.

Pertanyaan yang sering mampir adalah "Apakah sekarang sudah di kantor?" Maksudnya, tentu, tidak ke lapangan lagi, mewawancarai narasumber, mengejar koruptor. Ini pertanyaan tersulit. Sebab, pekerjaan ini sesungguhnya tak mengenal kantor. Pekerjaan wartawan ya meliput lalu menyajikan beritanya. Seorang pemimpin redaksi sekalipun tetap punya kewajiban liputan. Biasanya, saya menjawab gampangnya saja. "Begitulah."

Saya pernah menjawab bahwa wartawan itu pekerjaan seumur hidup. Jabatan hanya sebuah jenjang saja untuk memudahkan bagi-bagi pekerjaan. Jawaban ini tak lagi saya pakai karena akan melahirkan puluhan anak pertanyaan yang tak selesai-selesai. Misalnya, saya sampai bercerita bagaimana wartawan di luar negeri masih "turun" ke "lapangan" meliput sebuah peristiwa, padahal mereka sudah berusia 50 tahun.

Apa boleh buat. Profesi ini mungkin masih aneh di zaman internet ini--bahkan bagi wartawannya sendiri. Wartawan sering dianggap sebuah profesi untuk mengejar karir. Teman saya, ketika masih menjadi calon reporter, bahkan bercita-cita, kelak, ingin menjadi "wartawan senior". Padahal, "jabatan" ini digapai dengan sendirinya karena hanya ditentukan oleh umur belaka. Teman saya itu menganggap "wartawan senior" adalah puncak karir menjadi jurnalis. Kini, ia tertawa jika disinggung soal cita-citanya itu, dan menjadi bahan ledekan dalam obrol-obrolan di sela tenggat.

Wednesday, August 01, 2007

O, ANAK



Setiap anak akan menciptakan sejarahnya sendiri. Mikail akan punya riwayat dan sejarahnya sendiri, dan mungkin, lepas dari sejarah orang tuanya. Ketika kecil, di udik, saya bertelanjang dan menghambur ke halaman jika hujan turun. Mikail dilarang karena air hujan di Jakarta bisa bikin sakit. Saya hanya mengenal cerita oral tentang legenda-legenda, Mikail tahu dari buku-buku yang dibacakan ayah dan ibunya ketika berangkat tidur.

Saya hanya kenal mobil-mobilan dari kulit jeruk Bali atau bambu, Mikail sudah tahu segala jenis merk mobil dan memainkan stir dan persneling betulan. Saya tak membayangkan memegang komputer, Mikail sudah bisa memperagakan mengetik di laptop lalu bermain games di sana. Saya asing dengan telepon, Mikail sudah bisa ngobrol lewat ponsel. Saya baru bisa menghitung, dan hapal Al Fatihah, saat masuk sekolah dasar. Mikail bahkan sudah lancar menghitung dalam bahasa Inggris dan melafalkan beberapa surat Quran.

Saya tidak ingat apa peristiwa saat usia tiga tahun. Mikail menagih janji saya yang tertunda dua hari. Saya cuma menonton Donald Bebek, Mikail tahu segala cerita kartun di televisi dan buku, mampu menirukan beberapa iklan yang dia suka, meminta merk makanan yang gambarnya muncul di layar tivi. Setiap hari saya akrab dengan ayam, kambing, kerbau, sapi. Mikail melihat hewa-hewan itu hanya sepekan di sekitar hari lebaran.

Saya dididik dengan cara tradisional: sekolah hanya dijadikan batu loncatan agar hidup tak sengsara. Mikail sudah masuk sekolah sejak umur dua tahun. Ia sudah diajarkan bagaimana logika jika makan tak cuci tangan lebih dulu. Atau kenapa bulan ada di langit. Jika bertanya sesuatu, ia akan memberondongkan "kenapa" hingga lima-enam kali, sampai ia merasa puas. Misalnya, "Itu mobil apa?"
"Mobil Citroen."
"Kenapa mobil itu bempernya copot?"
"Itu mobil rongsokan."
"Kenapa jadi rongsokan?"
"Karena sudah rusak."
"Rusak kenapa?"
"Sudah tua."
"Tua kenapa?"
"Belinya zaman dulu."
"Dulunya kapan?"
"Tahun 70."
"Tahun 70 itu apa?"

O, anak, sejarah apa yang akan kauciptakan kelak.

Saya tidak tahu apakah saya senang atau cemas dengan itu. Sejarah memang tidak selalu sama, kendati mungkin mirip karena perulangan. Dan anak-anak akan punya zamannya sendiri. Setiap manusia akan punya riwayatnya sendiri. Zaman berubah, abad berlari, manusia pun berganti. Apa yang hari ini canggih dan modern, esok akan segera lumat karena manusia terus berkembang dan berpikir.

Tuesday, July 31, 2007

BLOG PEKAN INI



Maverick Indonesia memilih halaman ini sebagai blog pekan ini. Wah, ini gelar pertama. Terima kasih.

Saturday, June 23, 2007

WARTAWAN ITU ENAK, KATA ORANG



MENJADI wartawan itu enak, kata orang. Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Anwar Nasution pernah menyebut wartawan sebagai "warga negara kelas satu". Apa-apa mudah, katanya. Bikin surat-surat gampang. Seringnya gratis pula. Sementara dirinya membuat surat pindah rumah saja harus bayar sekian ratus ribu.

Seolah-olah wartawan sejenis pekerjaan yang punya kekebalan tertentu di depan sejenis hukuman tertentu. Di jalanan, misalnya. Kartu pers, konon, ampuh membatalkan tilang. Saya tak pernah mencoba. Bukan karena tak sedang membawa kartu "sakti" itu, tapi tak punya keberanian menunjukkannya. Rasanya, ada yang salah jika saya keluarkan kartu itu, lalu bilang sedang meliput acara penting, kemudian menghiba dibebaskan. Keberanian itu mungkin tumpas karena, dalam hati kecil, saya tahu saya telah salah. Berbelok di jalur yang tak semestinya, misalnya. Dua kali saya pernah ditilang.

Tapi saya juga pernah bertengkar dengan polisi ketika akan ditilang karena lupa menyalakan lampu, di kolong jembatan Semanggi. Tempat ini memang "strategis". Pengendara sepeda motor tak akan menyangka ada serombongan polisi yang menunggu di tikungan. Jika sudah berbelok, mereka akan masuk "perangkap". Saya kira, polisi kelihatan benar mencari kesalahan orang, bukan mencegah pengendara berbuat salah.

Saya ngotot karena menyalakan lampu, ketika itu, belum menjadi peraturan resmi, baru woro-woro di koran. Lagipula saya lupa. Lupa memang bisa jadi tindak pidana. Bisa juga lupa menghindari penjara. Para koruptor itu sering berkelit dengan "lupa" jika diperiksa. Apa yang bisa diadili dari sebuah ingatan? Begitulah. Saya cuma lupa. Lampu saya tidak mati. Setelah otot-ototan polisi itu mengalah. Ia membiarkan saya melanjutkan perjalanan dengan pesan "jangan ulangi lagi lupa menyalakan lampu". Saya jawab, "Siap, kumendan!"

Belum lagi cap UUD alias ujung-ujungnya duit. Wartawan sering dicap mencari berita karena butuh duit. Mereka berharap atau terang-terangan meminta amplop. Yang ada duitnya, tentu saja. Setiap kali mengobrol tentang pekerjaan ini dengan orang lain, saya selalu khawatir dicap begitu. Sebab, sepupu mertua pernah bertanya begini: "Berapa ongkos taksi setiap habis liputan?" Saya terperangah. Mereka melek huruf. Tahu berita terbaru. Membaca gosip politik sampai tips merawat gigi. Bagaimana dengan mereka yang tak pernah mendengar mekanisme kerja wartawan? Saya shocked mendengar pertanyaan itu. Pantas saja, Bapak belum juga mengerti dengan pekerjaan anaknya.

Kerepotan lain, misalnya, ketika dulu bikin SIM. Orang lain sering bercerita gampang bikin SIM jika mengaku wartawan. Saya malah dicurigai. Begini cerita tiga tahun lalu, di kampung saya di bawah Gunung Ciremai:

Setelah mengisi formulir dan membayar biaya kesehatan, dst, sampailah saya pada ujian tulis. Di sini juga mengisi formulir. Saya mencantumkan "karyawan swasta" untuk kolom pekerjaan. Eh, petugas--lebih tepatnya sih calo yang pake seragam coklat--tumben-tumbenan menelisik-nelisik. Ia bertanya kerja di mana?

"Di Jakarta, Pak," kata saya, berharap pertanyaan berhenti.
"Jakartanya di mana? Saya juga punya saudara di Jakarta."
"Menteng."
"Apa nama perusahaannya?"

Nah, sampai di sini saya tertegun. Saya masih berharap, dengan tertegun, pertanyaan berhenti.
"Masak, swasta doang. Kan ada jenis-jenis pekerjannnya." Saya menduga-duga, untuk apa selidik-selidik begini.
"Di malajah, Pak."
"Majalah?"
"Ya."
"Ooo, kamu wartawan, ya?"
"Begitulah."

Petugas dengan kumis baplang sangadulang ini membisiki polisi yang berseragam jalanan lengkap di dekatnya. Dari jarak selangkah, saya mendengar bisik-bisik itu. "Dia wartawan. Ujian saja. Nanti ditulis berabe..." Hah, ujian saja gimana nih? Apa pula kok bisa berabe kalau ditulis.

Dia lalu menyodorkan soal-soal pilihan berganda yang harus dijawab. "Ujian aja ya.." katanya. Adakah pilihan lain selain ujian? Ada. Ya, nyogok itu. Makanya, dia takut juga ditulis minta-minta sogok SIM--bagus sih ada calo yang masih takut korupsi. Kalau keluar uang dua kali lipat dari tarif, ujian tulis dan praktek tak perlu lagi. Anehnya, ongkos bikin SIM saya ditotal-total sama dengan kalau nyogok tak pakai ujian. Asem.

Pak Anwar mungkin benar. Wartawan, menurut cerita-cerita Pramoedya Ananta Toer, juga terdengar seperti "warga kelas satu". Mereka penegak pilar demokrasi, begitu teorinya. Tapi mungkin itu zaman dulu. Zaman pers dan wartawan bekerja untuk kemerdakaan diri dan bangsanya. Saya, agaknya, selalu menderita dengan profesi ini.

Friday, June 08, 2007

SALAT JUMAT



Kali ini cerita soal salat Jumat. Tentu saja di sekitar Jakarta, masjid langganan saya ibadah mingguan itu. Di masjid ini, pesertanya selalu penuh. Warga sekitar dan pekerja kantoran di sekelilingnya. Masjid ini pun letaknya menempel dengan sebuah kantor mentereng yang halamannya luas tempat parkir mobil-mobil mewah dan desainnya modern: sebagain besar berdinding kaca.

Tokoh utamanya tentu saja salah satu makmum salat di sini. Dia selalu datang setiap kali kotib sudah setengah jalan memberikan kutbah. Saat masuk arena salat itu, ia akan mencari sajadah yang sudah dibentangkan oleh ajudan, seorang tinggi-besar dengan safari hitam plus emblem marinir menancap di kerah bajunya.

Karena ritual salat sudah hampir rampung, tempat duduk sudah hampir penuh. Jika orang lain menunggu kutbah dengan berdiri di pinggir-pinggir tenda karena tak kebagian tempat, tidak begitu dengan tokoh kita ini. Si tinggi-besar itu akan membeslah orang yang duduk di tempat biasa sajadah itu dibentangkan, yaitu di saf belakang, kolom dua, teras masjid ini. Orang yang dibeslah biasanya sudah menunduk karena ngantuk, sebab dia sudah datang sebelum adzan dikumandangkan. Dia tergopoh-gopoh dalam kantuk meloncat ke saf depan kendati di sana sudah tak kebagian tempat lagi.

Selang dua-tiga menit sejak sajadah dibentangkan, tokoh kita datang. Ia mungkin seorang bos di kantor mentereng itu. Sebab, sejak kedatangannya semua orang sibuk. Beberapa orang yang mungkin karyawannya akan mengangguk, berhenti mencari tempat duduk, lalu penjaga sepatu dan sandal dengan sigap menyongsong sandal jepit tokoh kita ini dan menempatkannya di rak paling atas.

Tokoh kita ini salat sunah dengan kecepatan superkilat. Menguap, mengusap-usap rambut, menarik-narik jari kaki, menggut-manggut (mungkin) mendengarkan kotib yang berceramah menyitir ayat Quran tentang kedudukan manusia yang sama di hadapan Tuhan, kecuali takwanya. Tentang kutbah yang itu-itu saja, tentang iman yang ngawang-ngawang.

Iqamat pun datang. Kami sembahyang bersama. Tokoh kita ini akan meninggalkan sajadah begitu saja, tanpa melipat atau membawanya, sebelum imam membacakan doa penutup. Si tinggi-besar safari hitam itulah yang akan merapikan sajadah itu. Kali lain seseorang yang lain, mungkin jongos di kantor itu.

Begitulah. Di masjid pun manusia merasa diri mereka sendiri tidak sama satu dengan yang lain.

Wednesday, May 30, 2007

SIDDHARTHA



Siddhartha berjalan jauh, menembus hutan, mengarungi sungai, mengembara ke desa dan kota-kota. Tapi ia tetap gelisah. Hatinya tak kunjung tenang. Ia telah menanggalkan istana dan kebrahmanaannya. Ia bersalin rupa menjadi samana, yang cuma bercawat, bercambang dan gondrong, terus berjalan, berpuasa, meninggalkan segala nafsu dunia, dan menyerahkan sepenuh raga kepada apa yang ia namakan cinta. Tapi tak ada tuhan. Sang Maha itu selalu luput. Tuhan, pada Siddhartha, selalu bertukar tangkap dengan lepas.

Ia pernah bertemu Kamala, pelacur cantik di kota yang dikunjunginya. Kepadanya Siddhartha belajar segala hal. Main cinta, berniaga, hingga bagaimana menghibur diri ketika patah hati. Tetap sia-sia. Harta, wanita, dan tahta tetap tak bisa menyembuhkan kehausan Siddhartha akan cinta dan ketentraman jiwa.

Padahal, sudah banyak ia berkorban. Ia meninggalkan orang tua yang sangat menyayanginya, meninggalkan Govinda, teman yang mengasihinya lebih dari siapapun, yang menemukan kedamaian setelah bertemu Gautama. Bagi Siddhartha, Tuhan tetap luput, dunia tak juga terkaut. Selalu ada lubang besar yang menganga, membentangkan jarak antara dirinya dengan yang di-Sana. Siddhartha berusaha merumuskan sesuatu apa yang di-Sana itu. Tapi kian jauh mendefinisikan, kian buyar rumusan dan kesimpulannya.

Siddhartha pun menanggalkan kembali segala kenikmatan dunia, Kemala yang telah memberinya janin, Kamaswami yang mengajarinya ilmu-ilmu dagang. Ia menemui Vasudeva, yang dulu menyeberangkannya ketika ia meninggalkan dunia samana di hutan. Sebab, setelah sekian lama pengembaraan, hanya tukang perahu itulah yang paling unggul menawarkan ketenangan. Kepadanya Siddhartha belajar bagaimana mengerti bahasa sungai, arus yang jernih, angin, kecipak burung, ketenangan batu-batu. Kepada alam itulah Siddhartha membuka segala indranya untuk menyerap dan mendekatkan diri kepada yang di-Sana.

Kita tidak tahu apakah Siddhartha berhasil dengan segala upayanya itu. Novel pendek Hermann Hesse, yang memberat dan terasa berusaha mengharukan, ini berhenti ketika Siddhartha belajar kepada sungai. Tapi barangkali tidak penting benar apakah Siddhartha berhasil atau gagal. Sebab, baik Shidarta maupun novel ini atau Hesse sendiri, barangkali tidak mementingkan hasil akhir. Siddhartha terus mencari sepanjang hayatnya.

Hesse sendiri "menemukan" Siddhartha setelah ia melawat ke Timur, antara lain ke India, Sri Lanka, dan Indonesia. Novel ini ia tulis--lalu terbit pada 1922--ketika ia sendiri sedang haus mencari akar religiusitasnya. Pada masanya, novel pemenang Nobel Sastra 1946 ini memang terasa menghentak dan aktual. Eropa, Jerman terutama, sedang dilanda gelisah oleh pelbagai ide ketika itu. Nihilisme merajalela, Holocaust, sosialisme, manusia bertempur dengan manusia, dan seterusnya.

Dan pencarian itu agaknya kekal. Gemanya sampai ke zaman Internet ini. Ada banyak novel sejenis dengan alur dan cerita yang berbeda ditulis banyak orang. Seperti Han Nolan ketika menulis Send Me Down a Miracle. Pada akhirnya, novel-novel sejenis ini sering berakhir dengan kesimpulan seperti dikatakan Charrity Pittman, tokoh utama novel Nolan, "Tuhan ada bersama kita. Tidak dalam kitab suci, tidak dalam puisi, masjid atau gereja atau sinagog, atau banyak tempat ibadah lain. Ia menyatu bersama kita. Selamanya." Kesimpulan yang umum dari segala pencarian spiritual dalam banyak agama-agama.

Lalu kita pun percaya kepada doa. Dan agama dan iman bertaut dengan nalar yang tak berkesudahan. Sampai sekarang. Kita sendiri kadang tak habis pikir...

Friday, May 11, 2007

HOMO URBANUS



Homo sapiens akan tinggal cerita. Kita sedang bersalin wujud menjadi Homo urbanus. Kelak, demikianlah majalah The Economist edisi awal Mei lalu meramalkan, pada 2030 lebih dari 80 persen penghuni bumi ini akan menjadi orang kota. Jumlah itu berarti 4 miliar manusia yang nongkrong di bumi yang bundar ini.

Kota, kata Raymond Williams, adalah sebuah lanskap--sebuah kampung--yang asing. Itulah kenapa kota berbeda dengan desa. Dan kota berarti gedung menjulang, mobil, gerak gegas, ketika waktu, ketika umur, dihargai dengan sejumlah uang. Perilaku orangnya akan seperti Joshua Karabish, Nyonya Elberhart, M, dan segerombol penghuni kisah Orang-orang Bloomington, yang berlaku aneh dan tak mengenal keinginan-keinginannya sendiri. Mereka akan menyampaikan pertanyaan purba tenang identitas ketika keterasingan kian menyergap.

Dan kota berarti hukum rimba. Sebab kota menuntut teknologi yang bisa meringkas jarak, memampatkan waktu. Kota membuat orang menjadi kaya sekaligus menciptakan orang miskin. Pada awal 1970 separuh penduduk Asia buta huruf. 30 tahun kemudian, berkurang tinggal 20 persen. Masa hidup orang juga kian lama karena ada pelbagai tips memanjangkan usia di internet, majalah keluarga, dan buku kesehatan. Tapi orang miskin juga terus tumbuh mengimbangi laju pertambahan penduduk.

Mereka kalah dalam rebutan sumberdaya alam. Sebab kota dengan teknologinya itu akan menguras hal ihwal perut bumi yang terbatas: jalan tol, mall, jembatan, pesawat, kereta api, mobil baru. Yang tidak kuat dan lihai dalam perebutan itu akan tersisih. Dan Asia dan Afrika diprediksi akan menampung jumlah terbesar manusia yang tak bertahan dalam pertempuran itu. Kita tetap menjadi Homo sapiens jenis Homo ruralus alias wong ndeso bin katro.

Tapi kota mungkin tak selalu identik dengan kaya. National Geographic melaporkan bahwa definisi kekayaan bisa berbeda antar wilayah. Kekayaan punya alamat dan tempat tinggal dan geografi. Orang Norwegia yang merasa dilahirkan dan memiliki gen sejahtera tak perlu ngoyo mengejar harta. Jam 4 kantor-kantor tutup, orang diberi keluasan berkumpul dengan keluarga, mengantar anak berenang atau nonton pertandingan sepakbola. Seorang pemenang lotre US$ 500 ribu membiarkan saja uangnya berbiak di rekening banknya. Sementara ia terus menanam kentang. Bagi petani ini, uang itu tak penting, "Saya tak bisa membayangkan jika saya berhenti bekerja."

Geografi dan identitas kemakmuran inilah yang luput dari ramalan The Economist itu.

Thursday, May 03, 2007

JENDERAL LAPANGAN TENGAH



Sepakbola menyimpan dan melahirkan banyak istilah baru. Kata-kata dari luar lapangan pun bisa masuk dan diterima dengan baik dalam peristilahan sepakbola. Misalnya, "Dida (kiper AC Milan) dengan gampang memetik bola". Jika ada yang bilang bahasa Indonesia itu miskin, tengoklah kolom-kolom dan berita sepakbola. Di sana istilah bagus, aneh, gak nyambung, bergelimpangan.

Kita pun akrab dengan istilah "jenderal lapangan tengah". Siapa yang mengenalkannya? Entahlah. Para komentator pertandingan dan wartawan memakainya setiap kali mengupas Michael Ballack, Steven Gerrad, atau Frank Lampard. Jenderal di sini tentu mengacu kepada "gelar politis" dalam dunia tentara. Biasanya inilah orang yang paling tinggi jabatannya. Panglima TNI kita jenderal bintang empat--satu level di bawah Soeharto yang punya lima bintang. Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan pengertian lain kepada istilah ini, yaitu "orang yang paling berpengaruh dalam satu kelompok".

Anehnya, dalam sepakbola tidak demikianlah artinya. Frank Lampard bukan kapten, baik di klubnya, Chelsea, maupun kesebelasan nasional Inggris. Gerrad kapten Liverpool, tapi hanya pemain tengah di Inggris. Ballack kapten di kesebelasan Jerman, tapi cuma pemain tengah di Chelsea.

Sebab kaptenlah yang mengatur irama permainan. Ia perwakilan dari pelatih di lapangan. Seorang kapten harus bisa bernegosiasi dengan wasit jika ada prikik yang merugikan timnya. Karena itu Park-Ji Sung diledek habis-habisan oleh wartawan Inggris ketika menyandang ban kapten Manchester United. Orang Korea Selatan ini belum lama main di MU. Bahasa Inggrisnya belum lancar benar. Bagaimana ia bicara dengan wasit?

Kapten, sementara itu, adalah pangkat perwira pertama dalam dunia militer. Jadi terbalik-baliklah pemakaian istilah ini dalam sepakbola. Jika kata "jenderal" diambil dari dunia tentara, makna, fungsi, dan kedudukannya ditanggalkan. Seorang kapten akan memberi hormat kepada seorang jenderal, dalam sepakbola yang terjadi sebaliknya.

Jenderal tidak memimpin pasukan saat pertempuran. Ia mengendalikan dari jauh. Seorang kolonellah yang memimpin pasukan saat perang. Kenapa Ballack, Lampard atau Gerrard tidak disebut kolonel? Karena julukan jenderal lebih tepat untuk para pelatih yang duduk di pinggir lapangan mengamati permainan.

Rafael Benitez, Alex Ferguson, atau Jose Mourinho, sering terlihat menggerakkan tangan dan kaki sebagai perintah-isyarat kepada pemainnya. Dia jugalah yang punya kewenangan mengganti pemain yang dinilai kurang sesuai dengan strategi. Karena itu dialah jenderalnya.

Tetapi, salah istilah seperti ini sudah umum terjadi dalam bahasa Indonesia. Kesalahan jenderal dan kapten ini pun mungkin sudah ditemukan oleh Jaya Suprana ketika menyusun kamus kelirumologi.

Wednesday, May 02, 2007

DRAMA



Daniel Agger menebus kesalahan di Stamford Bridge. Di kandang Chelsea itu, pemain sepak bola asal Denmark itu lalai memepet Didier Drogba. Agger salah cara mengawal. Ia seperti memicing Andriy Sevchenko yang tak perlu adu badan. Drogba yang menjulang 2 meter harus dikawal hingga jatuh. Akibatnya, Joe Cole menyambar operan Drogba hingga berbuah gol. Liverpool kalah 1-0.

Di Anfield, markas Liverpool, tadi pagi dalam semifinal kedua Piala Champions, Agger sukses menghambat laju Drogba. Pemain Pantai Gading itu nyaris tak berkutik. Hanya sekali, Drogba bisa lolos lalu menendang dengan keras bola ke kiper Pepe Reina. Itu pun, sebetulnya, Drogba dalam posisi offside. Sisanya adalah pertandingan yang seru. Cole, kebetulan, pembuat sebab gol Agger.

Ia mengganjal Steven Gerrard, 25 meter di sisi kanan gawang Petr Cech. Pemain Chelsea menyangka Gerrard akan menendang bola langsung ke mulut gawang. Nyatanya ia mengoper pelan ke arah Agger yang berdiri bebas. Gol di menit 22.22 itu bertahan hingga 90 menit.

Tak hanya Drogba yang tak berkutik. Sembilan pemain lainnya juga sama. Frank Lampard jarang disorot kamera sedang menggiring bola, atau mengatur serangan dari tengah lapangan. Essien yang biasanya gesit dan kokoh di tengah, kerepotan sebagai bek. Lain-lainnya seperti frustrasi.

Beruntung bagi Liverpool karena punya Agger yang dibeli dari Brondby IF, Denmark, 5,8 juta pound, Januari 2006. Sebab, setelah itu tak ada gol lagi. Crouch di depan tak berfungsi. Kuyt agak lumayan ketika sundulannya membentur mistar dan golnya di anulir karena kepalanya lebih maju dari John Terry. Rafael Benitez rupanya mengandalkan Jemaine Penant untuk menggempur Chelsea dari sayap--cara yang ia tempuh ketika mengurung Chelsea di babak kedua semifinal pertama, kendati Penant, waktu itu, telat diturunkan.

Kali ini Benitez telat memasukkan Robbie Fowler. Seharusnya pemain gaek inilah yang menemani Kuyt sebagai penyerang, setelah duet Kuyt-Crouch tak menghasilkan banyak peluang gol. Terry sudah tahu bagaimana membuat Crouch tak pernah punya bola enak untuk ditendang atau disundul. Fowler baru dipasang di menit akhir.

Karena tak ada gol lagi, penalti--kekerasan paling sadis dalam sepakbola modern itu--dipakai untuk menentukan tim yang akan ke final di Yunani nanti. Kali ini Jose Maurinho, pelatih Chelsea, gagal membaca mental pemain. Ia memasukkan Arjen Robben dan Geremi sebagai penendang bola. Dua pemain ini baru dua-tiga kali menendang bola sebelum pertandingan usai. Padahal, keduanya belum menyatu dengan emosi pemain lainnya yang berkeringat selama 120 menit. Tendangan keduanya pun bisa dibaca Reina. Kemana Essien? Kemana Drogba?

Saya selalu suka Mourinho: mulut besarnya, overcoat dan jasnya, cara dia membuat dan mengubah strategi. Saya kira, dia pelatih terbaik saat ini. Ferguson bagus tapi selalu membawa masalah pribadi ke lapangan. Beckham, Nistelrooy, Keane, jadi korban egoisme pelatih Manchester United ini. Saya suka Moourinho karena ia tipe palatih yang tahu bahwa sepakbola juga sebuah drama.

Ia menciptakan drama itu di luar lapangan. Omong besarnya memang bikin jengkel. Tapi, seperti Simon Cowel di American Idol, Mourinho seringkali membuktikan omong besarnya itu. Ia orang yang penuh percaya diri. Karena dialah, salah satunya, yang membuat Liga Inggris selalu seru dan menjadi liga terbaik di dunia, di dalam maupun di luar lapangan.

Di Anfield, Mourinho terlihat tenang, atau ditenang-tenangkan. Maklum, pemainnya tak komplit betul. Banyak yang cedera. Ia seperti sudah tahu timnya bakal keok di Anfield. Dan itu terbukti. Gerrard, you'll never walk alone. Ada pemain ke-12 yang membantu: penonton. Dari sanalah drama tercipta dengan jumlah aktor puluhan ribu.

Thursday, April 26, 2007

TENTANG HARAPAN



Di negeri yang kekuasaannya begitu bebal, harapan dan pesimisme sama naifnya dengan urusan hidup sehari-hari. Di kantor saya, “berita buruk” kadangkala disortir, kalau bisa diganti dengan “berita baik”, agar ada variasi dan orang tak selalu berkerut kening setiap kali membaca majalah. Misalnya, tentang seseorang yang jadi kaya karena mengolah sampah. Orang-orang yang menumbuhkan harapan dan berbuat sesuatu bagi orang di sekelilingnya. Pejabat yang menolak suap.

Seringkali upaya itu gagal. Berita baik semacam itu sulit sekali ditemukan. Yang tampil akhirnya tetap “berita buruk”: korupsi pejabat A, kolusi petinggi B, kecurangan di sana, kebohongan di sini. Dan berita buruk ditulis, selalu ditulis, agar orang tak mengulangi keburukan itu, agar ada perubahan ke arah yang lebih baik. Opini, editorial, tajuk rencana, juga ditulis untuk menyuarakan sikap dan jalan yang mungkin bisa ditempuh untuk setiap masalah yang muncul.

Sebuah harapan yang terdengar kian aneh. Di Guatemala, wartawan tak cukup hanya menulis. Mereka berkampanye. Seperti yang dilakukan José Rubén Zamora. Ia pemimpin redaksi El Periodico, yang harfiah berarti Koran. Zamora mampir ke kantor karena diundang sebuah lembaga untuk mengajarkan teknik investigasi bagi wartawan Indonesia. Oleh IPI, Zamora dinobatkan sebagai salah satu dari 50 pahlawan kebebasan pers. Tentu saja karena ia tak henti membongkar skandal di negerinya, dan selalu lolos dari upaya pembunuhan.

Barangkali riwayat hidup semacam itu tak lagi aneh. Di negara-negara berkembang selalu saja terdengar ada wartawan yang gigih membongkar keburukan pemerintahnya. Kita tak kekurangan jenis wartawan seperti dia. Yang membedakan adalah cara Zamora membongkar kebobrokan itu. Sebermula ia menetapkan tentara di negerinya sebagai musuh. Para tentara sering berkolaborasi dengan mafia narkotika mengeskpor mariyuana ke Meksiko, ke Amerika. Para tentara juga korup dan sering meneror wartawan di sana.

Kemudian, setelah selesai membongkar satu kasus, Zamora membuat iklan. Ia memajang foto para “tersangka” dari hasil investigasi para wartawannya. Tak hanya di korannya, tapi di media massa seluruh Guatemala. Di sana berita dan fakta saja tidak cukup. Iklan itu tak berhenti sampai ada reaksi. Misalnya, tersangka itu mengundurkan diri dari parlemen, menteri, atau jabatan publik lainnya. Atau rakyat turun ke jalan berdemontrasi. Satu upaya yang tak ditemukan di Indonesia.

Kita hanya menulis, lalu berharap keadaan berubah. Tiap hari, setiap pekan, kita membaca penyelewengan dan korupsi. Dari bulan ke bulan terus begitu. Nyatanya perubahan tak kunjung datang. Di mana salahnya? Seseorang pernah bertanya kepada petinggi di negeri ini tentang satu kasus. Seseorang teman saya itu malah kena marah kenapa kasus itu ditulis. Jadi, memang naif sekali berharap di sini. Kekuasaan begitu bebal.

Berita korupsi bisa jadi hanya cerita pengantar tidur. Lalu kita lupa karena besok urusan baru menunggu. Berita kolusi mungkin hanya asyik jadi bahan obrolan di waktu senggang atau menunggu kantuk sepulang kantor di kereta malam. Setelah itu hilang.

Kita memang sudah lama terkena paralisis. Sejak urusan kian banyak membelit. Sejak berbagai masalah bertubi-tubi menghimpit. Sejak banyak soal tak selesai-selesai: pembunuh Munir, luapan lumpur... Kita pun angkat bahu setiap ditanya apa harapan besok pagi? Betapa mengerikan...

Monday, March 26, 2007

P, F, V



Karena saya orang Sunda, orang sering tak percaya akurasi pengucapan dan penulisan kata yang mengandung fonem F dan V. Setua ini masih susah jika mengucapkan Faperta. Lebih enak dan jelas jika menyebutnya lengkap: Fakultas Pertanian. Bunyi F di awal dan P di tengah itu begitu menyiksa. Kalau terkontrol sering berhasil. Celakanya, kata itu acap meluncurkan sekenanya menjadi "Paferta". Alhasil, orang sering tertawa. Biasanya, saya sadar jika cadel itu sudah ditertawakan. Ah, ini sih sudah genetis.

Tapi, cadel itu sering bikin kacau. Dan ternyata saya tak sendirian. Misalnya, ketika saya menulis Jalan Palatehan di kawasan Blok M itu. Redaktur saya tak percaya jika begitulah memang penulisan dan pengucapannya. Google, buku-buku alamat, menjadi pelampiasan untuk mengecek. Hasilnya sama. Ada yang pakai F dan ada yang pakai P. Yang memakai P ada 10 halaman, dan yang memakai F juga 10 halaman.

Manakah yang benar? Saya kukuh dengan P karena di kartu nama seseorang yang berkantor di sana tertulis Palatehan, bukan Falatehan. Jalan tengah diambil. Jalan itu tak ditulis demikian. Hanya dibubuhkan "kawasan Blok M" semata. Deal.

Sepekan kemudian, si Palatehan ini muncul lagi. Nama jalan ini harus ditulis, tak bisa diwakilkan dengan nama kawasan. Redaktur yang mempercayai memakai F mencantumkan nama Falatehan. Sampai lolos redaktur bahasa, lolos redaktur kreatif, sampai terbaca ke seluruh dunia. Saya mengejeknya bahwa itu lidah yang "terlalu Jawa". Jadi, manakah yang benar? Saya sih tetep memakai Palatehan. Ini nama jalan yang diambil dari nama seorang panglima pendiri kota Jakarta. Entahlah, jika sang panglima pergi ke Demak orang di sana memanggilnya Falatehan.

Sejarah Palatehan sendiri masih kabur. Ada yang menyebut itu nama lain dari Fatahillah yang tak lain Sunan Gunung Djati. Tapi seorang doktor di Bandung memastikan jika kedua nama itu adalah dua orang yang berbeda. Ia meneliti sejarah Cirebon untuk promosi profesornya. Fatahillah seorang Turki yang bergabung dengan Kesultanan Demak mengusir Protugis. Sunan Gunung Djati atau Syarif Hidayatullah seorang ulama keturnan Nabi yang menyebarkan Islam di pesisir utara Jawa.

Kekaburan yang sampai pada pelafalan. Mungkin saya salah karena berpatokan hanya pada kartu nama yang si pembuatnya berpatokan pada nama jalan resmi. Dan nama-nama jalan resmi, di negeri kita yang tercinta ini, tak bisa begitu saja dipercaya. Jalan Latuharhari saja ditulis dengan dua model penulisan yang berbeda. Satu Latuharhari dan lainnya Latuharhary. Padahal ini jalan yang sama di daerah Menteng yang plangnya cuma terpisah 100 meter.

Baiklah. Tradisi kita memang bukan dari barang cetak. Kita dilahirkan dan hidup dari cerita-cerita. Apa bedanya Latuharhary dan Latuharhari jika diucapkan? Tapi, astagfirullah, di mana-mana memang dua nama ini dipakai orang. Johannes Latuharhary dan Johannes Latuharhari--mengacu pada seorang pejuang kemerdekaan dari Maluku yang meninggal pada 1959.

Kacau nama begini, anehnya, tak pernah dipersoalkan. Padahal mereka sudah menjadi nama publik yang dipakai menjadi nama gedung, nama jalan, dan seterusnya. Apakah kita memakai Soekarno atau Sukarno? Soeharto atau Suharto. Media asing konsisten memakai Suharto dan Sukarno. Media lokal konsisten pula memakai Soekarno dan Soeharto. Gadjah Mada atau Gajah Mada? Yang penting, barangkali, soal konsisten. Salah-benar toh siapa yang menentukan? Kebenaran itu relatif, Bung. Konsistenlah agar kita tak dicap plin-plan. Konsisten salah juga tak apa-apa.

Fonem P, F, dan V kian kacau jika menyangkut soal peluluhan. Aktif, misalnya. F di sana akan berubah menjadi V jika menjadi "aktivitas". Tapi tak jarang juga yang kukuh memakai "aktifitas". Yang lebih lucu verifikasi. Google mencatat kata ini dan kata kembarannya: ferivikasi sama banyaknya. Astaga. Apakah penulisnya orang Sunda? Mungkin. Tapi, saya kira, cadel F, P, dan V bukan monopoli orang Jawa Barat saja. Kasus Palatehan itu contohnya.

Wednesday, February 28, 2007

Monday, January 22, 2007

AL ASHR



Mikail tiba-tiba bisa membaca surat Al Ashr dengan lengkap. Dari ayat 1 sampai 3 tanpa putus. Dan benar. Saya terkejut, bukan saja karena anak 2,5 tahun bisa hapal satu surat, tapi siapa yang mengajarinya? Kami berpisah belum ada 24 jam. Dia ke rumah nini karena liburan sudah usai. Ibunya juga heran karena merasa belum pernah mengajarinya secara khusus menghapal surat itu.

Kami belum berpisah lebih dari 24 jam. Sebelumnya dia tak pernah menyinggung-nyinggung surat itu. Setiap akan tidur dia hanya membaca doa tidur. Lalu minum susu, mendengarkan dongeng sambil mengelus guling, lalu tidur. Sampai pagi.

Saya memang suka mengajaknya ke masjid jika salat magrib atau isya. Dia mungkin mendengar imam membaca surat itu. Lalu, seperti anak kecil lainnya, surat itu menancap di ingatannya. Jika salat di rumah, saya juga baca surat itu. Mikail memang suka ikut jadi makmum. Takbiratulikhramnya dan sedekapnya lumayan sempurna. Al Fatihahnya masih lupa-ingat. Selalu lupa rukuk dan langsung mencium sajadah tanpa menekuk lutut--tengkurap lalu berdiri lagi.

Dia bisa mengulang surat Al Ashr ketika saya minta lagi, lewat telepon. Artinya dia memang hapal. Sampai sekarang, kami belum tahu dari mana ia bisa hapal surat itu. Dia hanya tertawa setiap kali ditanya...

Friday, January 19, 2007

GOSIP

Di kampung, hampir setiap orang tak punya privasi. Apa yang disebut rahasia pribadi masuk ke setiap beranda rumah para tetangga. Setiap orang tak bisa menyembunyikan sesuatu, bahkan aib sekalipun.

Orang kampung selalu punya cara untuk tahu apa yang sedang dialami, sedang terjadi, pada hidup orang kampung lainnya. Atau gosip itu memang datang sendiri. Tapi, ini terjadi sebuah wilayah yang masih rimbun oleh pohon bambu, ada jerit anak-anak main petak umpet, dan para orang tua bergerombol di beranda sambil melihat bulan.

Gosip, karena itu, merebak lebih ganas dibanding tayangan hiburan (karena info pada istilah infotainment bisa bukan berarti apa yang kita perlukan, yang menonjol hanya tainmentnya saja). Jangan harap bisa menyembunyikan kehamilan anak perawan. Jangan coba menutupi sedang bertengkar dengan adik atau kakak karena berebut warisan. Hal-hal pribadi, yang terjadi dengan keluarga kita, pasti akan diketahui juga oleh tetangga yang lain.

Seorang tetangga akan mengabarkan gosip itu saat bercengkrama di beranda sehabis pulang dari sawah. Tapi gosip di kampung tak sampai membunuh karakter seseorang. Apa yang disebut carracter assasination (betapa menggelembungnya istilah ini) tak berlaku di kampung-kampung. Seseorang yang kena gosip tak sedap masih diterima bergaul dengan tetangga yang lain, bahkan mendapat sambutan yang manis.

Barangkali karena gosip di sana berkeliaran dari beranda ke beranda saja. Tak dicetak, tak bisa dikliping, seperti di kota--sebuah "peradaban" lain yang sering dianggap modern. Para penerima gosip tak punya "bukti" jika ingin menuding langsung di depan orangnya. Toh, hukum sosial tetap berlaku juga. Dengan malu, dengan isolasi sehari-hari.

Tapi kenyataan itu kini berbalik. Di wilayah yang orangnya membaca gosip, bukan mendengar, bukti saja tak lagi cukup memberikan sanksi. Seorang pezina dan maling nasional bahkan dikasihani dan digemari. Tandatangannya laku dan orang berebut minta foto. Ah, zaman memang, mungkin, menghendaki demikian.