Wednesday, August 04, 2010

KUKEMBALIKAN ENGKAU

Kukembalikan engkau pada sepi
pada gema yang pudar digubah puisi
pada purnama yang tegak sendiri
setelah kemarau sengit sebuah Juni

Jangan nangis. Sebab senja segera rimis
ketika cahaya kisut malam meningkap kabut
Adakah yang lebih sendiri
dari susut akasi musim semi?
Adakah yang paling pilu
dari keretak jarum-jarum waktu?

Maka Kuhantarkan engkau pada sunyi
setelah kita tempuh cinta yang rumit ini

1998

Tuesday, May 25, 2010

BOGOR

DI Bogor, orang boleh tak memakai helm saat berkendara dan membonceng dua orang di jalan raya, jalan utama, jalan yang rame. Polisi tak mempedulikan kendati para pengendara motor yang banyak ini lewat pelan-pelan di depan mereka. Saya tak hanya sekali-dua melihat orang yang dibonceng tak pakai helm.

Suatu kali saya janjian dengan seorang teman lama untuk buka puasa di sebuah restoran di Jalan Pajajaran. Dia datang memakai sepeda motor baru karena baru dua bulan lancar menungganginya. Selesai makan dia mau antar saya ke stasiun dengan motornya. Saya tertegun, bagaimana bisa? Dia tak bawa helm dua karena menyangka saya bawa mobil [asem! Ini barang yang tak berani saya bayangkan memilikinya]. Dia ketawa. Nyante aja, katanya. Polisi tak akan menangkap pembonceng yang tak pakai helm.

Benar juga. Kami selamat sampai stasiun, meski melewati pak polisi yang mengatur angkot yang suka ngetem dan berhenti mendadak. Dan teman saya ini tak memakai jaket menembus udara malam Bogor sehabis hujan deras. Saya sadar saya memakai ukuran-ukuran Jakarta untuk heran dan tertegun. Di Jakarta, saya tak berani membonceng teman yang tak memakai helm karena pernah dua kali ditilang akibat nekad. Di Jakarta, tubuh kita berbedak polusi jika tak memakai jaket.

Polusi Bogor mungkin tak setebal itu, tapi jalanan kini padatnya bukan main. Sewaktu saya sekolah di sini-- dan apa yang disebut factory outlet belum tumbuh, halaman kampus masih bisa dipakai main bola bukan mal mewah--jalanan masih lengang. Mahasiswa takut pulang menyusuri trotoar sehabis kuliah malam karena sering dicegat waria yang bosan menunggu pelanggan. Gerimis jadi kuning menyiram Tugu Kujang yang lengang. Walhasil, pengendara mestinya sadar bahwa helm itu perlu, tak sekedar gaya.

Tapi, di mana sih pertumbuhan kota dibarengi pertumbuhan pranata dan alat-alat sosialnya. Sawah-sawah kini jadi kompleks perumahan tanpa pembenahan jalan menuju ke sana. Padahal setiap supir angkot dimintai uang oleh petugas berseragam Dinas Perhubungan. Pertanyaan kemana uang itu jadi terdengar naif. Jalan di lampu merah di depan kantor walikota itu bergelombang tak keruan. Dari stasiun sampai ujung Panaragan juga sama saja. Pengendara yang tak akrab terajrut-ajrut kalau lewat sini.

Saya bayangkan, jika pemerintah daerah tak punya uang memperbaiki dan merawat jalan raya, mestinya mereka memanggil para pengembang itu, yang sudah mendapat keuntungan dengan menjual banyak rumah. Patungan saja. Misalnya, pengusaha yang menyediakan aspal, pemerintah yang menyediakan alat-alat beratnya. Pengusaha yang menyumbang batu split, pemerintah yang menyediakan tukang-tukangnya.

Barangkali itu keinginan yang terlalu mewah. Sudah berabad-abad Bogor disebut Kota Hujan karena air dari langit bisa turun 2-3 kali dalam sehari, dengan petir-petir yang mengerikan. Tapi mal dan kantor tak menyediakan tempat menyimpan payung--kecuali hujan sudah membuka peluang usaha ojek payung. Lantai mal pun jadi becek karena payung pengunjung meneteskan sisa hujan.

Birokrasi memang sering telat mengimbangi pertumbuhan ekonomi, apatah lagi pertumbuhan keinginan manusia.

Tuesday, February 09, 2010

TEMAN KHAYALAN

ANAK-anak punya imajinasi yang tak terbatas. Mika punya tiga teman khayalan yang tinggal di Silourenkins, sebuah desa entah di mana yang selalu dia ceritakan kepada setiap orang dengan antusias. Teman-temannya punya nama yang unik: Gor, Lok, dan Mot. Dari frekuensi penyebutannya, agaknya Lok yang paling dekat dan menjadi teman terbaik. Sebab, "Gor selalu nakal kalau main". Sementara Mot yang paling pendiam karena selalu ikut apa saja permainan teman-temannya.

Ketiganya suka naik angkutan kota, sebab Mika selalu terpesona pada moda angkutan ini. Ia hapal bentuknya, tulisan di kaca, bentuk jendela dan kaca spion, dashboard, stir, lagu-lagu, speaker, jenis lampu, cat, dan cara supir menyetirnya. Saya baru tahu dari dia bahwa angkutan kota di Ciomas atau Lampung punya ciri khas masing-masing. Angkot Zedap yang kacanya dibuka berdiri--bukan digeser-- dengan dahsboard kelihatan kabel-kabelnya itu selalu memutar lagu-lagu ST 12. Atau angkot Shagal yang selalu ngebut tapi punya lampu dan speaker yang bagus dan mewah. Kemarin sore saya membuktikannya.

Dan Gor, katanya, selalu ngebut jika nyetir angkot. Mereka sering main kejar angkot di lereng dan sawah. "Waow, aku pernah nyungsep di jurang...." Untuk teman khayalannya, saya selalu minta Mika mengenalkannya, dan ia selalu menjawab bahwa, "Itu hanya khayalan." Baiklah. Lain kali saya ingin dideskripsikan keadaan Silourenkins karena ia bisa menyebut detail sawah dan sungainya, jalan kelok, dan lumbung-lumbung padinya. Dan ia menggambar Desa Silou pada sebuah sore. Saya takjub karena ia meyakini warna sore adalah oranye....

Saya tak ingat, apakah dulu punya teman-teman khayalan seperti itu.