Tuesday, December 08, 2009

ANUGERAH ADIWARTA SAMPOERNA 2009










Ini kemenangan tim investigasi Majalah Tempo. Sebab dua artikel itu dikerjakan oleh begitu banyak orang. Yosep Suprayogi, Philipus Parera, Nunuy Nurhayati, Ismi Wahid, Ramidi, adalah orang-orang yang pernah sengsara mengerjakan dua liputan itu berbulan-bulan. Untuk merekalah penghargaan-penghargaan itu. Saya bangga pernah bergabung dengan orang-orang yang senantiasa bisa melucu di saat genting dan buntu menemukan fakta dan merangkai alur yang terputus dalam rimba cerita yang terserak.

Juga untuk Pak Lambang Babar Purnomo, seorang arkeolog yang tak pernah saya kenal semasa hidup tapi jadi begitu intim setelah beliau meninggal, dibunuh pada sebuah subuh karena kegigihannya menguak megaskandal pencurian benda purbakala. Saya bangga pernah menuliskan sekelumit perjuangan hidupnya. Hidup itu sebuah tugas, kata Pak Lambang kepada orang-orang yang dicintainya. Dan dia sudah menunaikan tugas itu dengan baik. Dialah yang layak mendapat tempat, layak untuk dicatat.

Wednesday, December 02, 2009

CERITA TENTANG SEBUAH NOTES




SIANG ini saya terkejut karena ada amplop putih berlogo Foreign Press Center tergeletak di meja kantor. Itu jelas amplop buat saya karena nama dan alamat kantor saya tertulis di sana. Saya kenal tulisannya: tulisan tangan Ota-san dari Nippon Press Center. Saya makin terkejut karena isinya notes dan pulpen yang tertinggal di restoran tradisional Jepang di Akasaka, Tokyo. Saya memang makan malam di sana dua pekan lalu.

Astaga. Bagaimana notes itu bisa kembali ke sini? Isinya tak terlalu penting. Hanya catatan belanja bulanan dan wawancara singkat dengan Kazuo Kodama, Dirjen Hubungan Eksternal Kementerian Luar Negeri Jepang. Ota-san pasti melihat cover notes itu yang berlogo majalah Tempo lalu mencocokkan dengan puluhan kartu nama tamu-tamunya pekan lalu. Cocoklah dengan nama saya dan mengirimkannya ke sini.

Ia memang pernah mengirim email mengabarkan soal notes itu. Saya bilang buang saja karena isinya tak penting. Eh, dia susah payah mengembalikannya. Saya tak henti terkagum-kagum bagaimana barang itu bisa kembali ke tangan saya dalam waktu cepat. Saya pernah ketinggalan topi dan sekotak kartu nama di sebuah restoran di Yogya. Barang itu tak kembali hingga kini...

Wednesday, November 25, 2009

EAT, PRAY, LOVE



ORANG Amerika bisa menulis hal-hal remeh dengan sangat panjang. Dan, asemnya, memikat. Elizabeth Gilbert menceritakan kisah hidup dan perjalanannya mengunjungi Italia, India, dan Bali selama setahun pada 2003. Sebuah perjalanan yang ia namakan "penyembuhan diri". Ceritanya ini sedang dibuat filmnya dengan bintang Julia Robert, Javier Bardem, dan Brad Pitt.

Gilbert seorang yang tak tahu apa yang menimpa dirinya. Ia mencintai suami yang sudah hidup bareng denganya selama delapan tahun, enam tahun di antaranya terikat perkawinan, tapi sekaligus ingin meninggalkannya tapi ia dan kita tak tahu kenapa. Ia tak membuka masalahnya itu, juga penyebab kenapa ia jadi sama asing dengan lelaki yang dikenal dan digilai sejak masih kuliah itu. Hanya, katanya, mungkin problem tak adanya anak dalam perkawinan itu.

Kita hanya tahu bahwa ia bermasalah dengan dirinya sendiri. Secara samar-samar, barangkali, masalahnya adalah kecukupan hal ihwal di usia sangat muda, hidup di New York dengan sebuah rumah besar dan apartemen di Manhattan, dan sudah menulis beberapa buku. Ia menikah muda setelah pacaran yang penuh gelora dan luber romantisme dengan calon suaminya. Praktis, Gilbert tak memerlukan apa-apa lagi di usia belum genap 30. Dan ia terperangkap dalam keberlimpahan itu hingga perlu lari dari hidupnya yang lama, mencari "keseimbangan baru".

Gilbert ke Italia, belajar Yoga dan filsafat Hindu ke India, lalu ke Bali yang sudah dikunjunginya dua tahun sebelumnya saat ia diutus majalahnya meliput liburan yoga. Ia bertemu Ketut Liyer, keturunan kesembillan dukun Bali, dan diramalkan hidupnya bakal habis tak lama lagi lalu menemukan hidupnya kembali jika mengunjungi lagi Bali. Dan ia datang kembali, setelah proses perceraian yang alot dan emosional. Di Bali ia bertemu pria Brazil setengah abad yang memikat hatinya, pandai memuja, dan memanjakannya di ranjang. Gilbert pun menemukan hidupnya yang baru, menuliskan kisahnya itu, dan bukunya laris di mana-mana.

Tapi yang paling menarik dari buku ini adalah pernak-pernik kecil tentang Bali, hal-hal yang tak banyak diketahui bahkan oleh orang Indonesia sendiri. Misalnya, soal pengobatan kemandulan yang memakai jasa para sopir angkutan umum jika yang bermasalah para suami. Penyembuh akan mengatakan istri-istri itu perlu terapi khusus yang tindakannya tak boleh ditemani para suami. Atau, tutorial bersenggama untuk pasangan yang frigid. Juga hal-hal kecil lain tentang urusan tanah dan kepercayaan di sana.

Wednesday, November 18, 2009

PEJABAT JEPANG



DIA seorang laki-laki yang sudah 34 tahun jadi diplomat. Jabatannya kini Sekretaris Utama merangkap juru bicara Kementerian Luar Negeri. Sebagai orang yang sudah melanglang buana, Pak Kodama tak sungkan bersalaman ketika pertama bertemu, tak seperti orang Jepang kebanyakan yang hanya membungkuk jika bertemu dan berpisah untuk mengucapkan salam. Kami makan malam di sebuah restoran tradisional Jepang di kawasan Akasaka yang tak pernah tidur. Akasaka adalah satu kawasan supersibuk di Tokyo karena di sini mangkal pusat hiburan dan gedung-gedung menjulang.

Kodama-san seorang yang hangat. Dia bisa ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja. Dan dia hapal dari mana saja kami berasal. Ketika satu persatu 11 wartawan Asia-Pasifik bertanya kepadanya, Kodama-san menyebut negara kami dan menceritakan kenangan-kenangannya ketika berkunjung, di sela tempura, udon, dan bir Asahi yang klasik. Ceritanya unik dan lucu-lucu.

Dan sewaktu pulang, kami masih mengobrol di depan restoran. Di bahu jalan ngejogrok Honda hitam besar. Saya pikir itu mobilnya. Ternyata bukan. Pak Kodama pamit duluan dan berjalan cepat menuju stasiun subway di seberang jalan. Sendiri meneteng tas tanpa pengawalan. Kata seorang stafnya, setiap hari dia memang pulang balik naik subway ke kantornya. Dua direkturnya juga pulang sendiri-sendiri ke arah berlawanan.

Lagi-lagi ini memang soal transportasi publik yang nyaman. Para pejabat sudah biasa berjalan kaki atau naik sepeda ke kantor. Birokrasi juga jadi efesien karena uang pajak tak perlu keluar untuk menggaji dua-tiga pengawal untuk melayani para pejabat ini. Juga tak banyak biaya untuk mobil dinas. Para pejabat publik, seperti juga bentuk kantor-kantornya, tak berbeda rupa dengan manajer toko atau pekerja swasta. Sama-sama berjas dan dasi.

Menurut seorang direktur transportasi di Pemda Tokyo, selama enam tahun terakhir jumlah mobil pribadi berkurang 10 persen. Pemakainya beralih ke transportasi massal seperti kereta atau bus atau sepeda atau berjalan kaki saja, selain karena harga mobil mahal minta ampun. Pemerintah memang sedang gencar berkampanye mengurangi emisi karbon. Apalagi Perdana Menteri Hatoyama sudah mencanangkan mengurangi emisi karbon hingga 25 persen tahun depan. Target yang berat mengingat Jepang satu dari lima negara yang paling banyak menyumbang karbon dioksida.

Dan sebelum rakyatnya tergerak mengikuti program pemerintah, para pejabat memberi contoh langsung dengan jalan kaki ke kantor. Seperti Kodama-san yang segera lenyap masuk ke stasiun bawah tanah...

Tuesday, November 17, 2009

KOTA YANG TAK TIDUR DALAM KESUNYIAN



SEORANG Jepang berkata kepada seorang Indonesia, di stasiun Kyoto pada jam sibuk, ketika orang berjubel dan kami hampir tak bisa ke Tokyo karena pintu Shinkansen menutup sedetik kemudian. "Saya selalu suka orang Indonesia," katanya. Seorang Indonesia, teman saya ini, sambil nyengir menjawab. "Oh, terima kasih. Suka apanya?" "Selalu telat dan apapun bisa dibikin lucu." Teman saya ini, dan saya, keterusan ngakak. "Tentu saja, dan kalian menjadikan apapun sangat serius."

Karena itu mungkin Jepang jadi negeri maju meski minim sumberdaya alam. Mereka serius dengan apapun. Jadwal kereta tak bergeser barang semenit. Yang telat berlari sudah pasti ketinggalan karena pintu otomatis menutup dan gerbong beringsut begitu sampai pada jadwal. Dan kami hampir ketinggalan karena si teman itu masih memaafkan dirinya yang masih bingung memilih cenderamata. Kami berlari di antara ribuan orang yang bergegas [anehnya, tak satupun yang tabrakan]. Dalam engah kami masih bisa ngakak. Masih untung bisa ngejar.

Kita punya untung yang tak pernah habis. Untung ini untung itu bahkan ketika sudah celaka keliwat-liwat. Orang Jepang yang tak punya banyak persediaan untung mengerjakan banyak hal dengan kecepatan yang tak mungkin kita kejar, alih-alih mengimbanginya. Time is money tanpa time tak akan dapat honey. Tapi gerak gegas dan serba tertib itu melahirkan kota-kota yang sunyi. Orang berjalan, duduk, atau berlari dalam diam di bawah lampu-lampu yang tak pernah tidur. Di Tokyo atau Osaka, di Hiroshima atau perbukitan Kitakuwada, kota-kota berwajah sama.

Friday, November 13, 2009

TIP



MEMBASMI korupsi bisa dimulai dari hal-hal kecil. Misalnya, jangan memberi tip kepada pramusaji sehabis makan, kepada petugas hotel, kepada tukang parkir. Di Jepang, urusan tip menjadi urusan sangat serius. Memberi tip adalah dosa dan harus dihukum. Di bandara, di restoran dan hotel, tertera jelas aturan yang melarang memberi tip. Yang ketahuan memberi akan didenda 10 persen dari harga yang kita bayar. Kalau ketahuan memberi tip kepada pramusaji, harga akan dinaikkan sebesar 10 persen, begitu juga harga kamar.

Memberi tip memang mendorong orang untuk korup. Ini bentuk suap halus atas nama jasa. Tip membuat uang yang beredar tak masuk hitungan karena itu lolos dari pajak. Di negeri tertib seperti Jepang, ekonomi bawah tanah seperti ini bisa mengganggu stabilitas. Dengan tak masuk pajak, pemerintah kesulitan mengetahui pendapatan setiap warga. Dengan begitu pemerintah jadi susah memprioritaskan program apa yang paling mendesak. Sebab pajak bisa mendorong orang sadar tentang hak berwarga negara.

Di Jepang, pajak adalah instrumen menegakkan keadilan. Uang pajak yang menjulang itu dikembalikan ke warga berupa kebijakan dan pelbagai fasilitas publik yang bikin hidup jadi nyaman. Ketika emisi karbon dioksida kian mencemaskan karena kebutuhan energi untuk industri dan rumah tangga kian tinggi, pemerintah harus punya program menguranginya. Tentu butuh uang. Maka pemerintah pun berencana memungut pajak perubahan iklim kepada industri dan setiap penduduk.

Tentu saja rencana ini ditentang. Industri tak setuju. Tapi sebuah survei oleh Kementrian Lingkungan menunjukkan warga tak keberatan jika pemerintah memungut uang setara scangkir kopi [1.800 yen] per bulan. Seorang guru bahasa Inggris warga Chiyoda yang saya tanya juga mengaku tak keberatan. "Sebab ini menyangkut hidup kita di depan," katanya.

Dengan adanya aturan pajak linkungan ini [karena itu banyak program mengurangi emisi bisa memakai uang ini], sanksi juga bisa diterapkan. Yang menghasilkan CO2 banyak akan membayar pajak banyak pula. Maka orang terdorong dengan sendirinya mengurangi emisi karbon dengan, antara lain, beralih ke teknologi ramah lingkungan atau hidup hemat energi. Daripada beli mobil yang bisa kena sepuluh jenis pajak, mending naik sepeda atau kereta saja. Industri juga jadi kreatif membuat teknologi baru karena banyak orang membutuhkannya.

Ini terbalik dengan di Indonesia. Kita justru memberi insentif kepada mereka yang mau melaksanakan program pemerintah yang manfaatnya untuk kita-kita juga. Barangkali ini beda negeri kaya sumberdaya alam dengan yang cekak. Orang Jepang dituntut kreatif karena tak banyak yang bisa mereka manfaatkan. Sementara kita tak perlu susah mikir: keluar rumah bisa metik daun untuk makan malam.

Sama halnya dengan tip atawa uang bawah tanah itu. Kita mati-matian ingin bebas dari korupsi, tapi kultur dan mekanismenya tak disiapkan. Konon underground economic semacam ini mencapai 70 persen rasio seluruh ekonomi Indonesia. Jadi, pajak yang hampir Rp 1.000 triliun itu hanya 30 persen dari uang beredar yang tercatat atau dilaporkan. Tak mengherankan karena di Jakarta setiap orang mensubsidi rakyat Rp 5.000 per hari [untuk parkir gelap, pengemis, pengamen, pak ogah].

Tarulah ada 5 juta orang di Jakarta yang begini, uang tak resmi yang beredar sudah mencapai Rp 25 miliar per hari! Jika pajak penghasilan 30 persen, berarti pemerintah kehilangan peneriman Rp 7,5 miliar. Edan.

So, mulai sekarang jangan kasih tip, plis...

Tuesday, November 10, 2009

TOKYO



TOKYO tak bisa menghindarkan diri dari kejumudan metropolitan. Di bawah jembatan layang di jalan Chiyoda, seorang pengemis tidur dekat parkir umum sepeda. Kepalanya disanggah majalah-majalah bekas yang tebal. Kantong tidur birunya sudah lusuh dan robek di jahit-jahitannya. Hanya kepalanya yang menyembul tertutup komik yang mungkin baru selesai dibaca. Tokyo pada November lumayan dingin. Angin menghembus 20 derajat.

Pengemis kita ini tidur begitu nikmat, tak peduli di sekelilingnya orang bergegas dengan jas dan overcoat. Di seberang sana, seorang tukang semir duduk di pinggir kaki lima yang lebar, yang juga dipenuhi orang-orang dengan gerak gegas yang murung. Jalanan macet di setiap tikungan lampu merah. Panjangnya tak jauh beda dengan macet di Jalan Sudirman di Jakarta pada pukul 3 atau 4 sore. Tapi tak ada jerit klakson. Mobil dan motor antri jauh di belakang garis stop. Tak ada yang nyalip tak terlihat sepeda yang menyelip. Tak ada deru, sonder debu, meski merk mobil dan motor dan sepeda itu sama dengan yang kita pakai di Jakarta.

Tapi Tokyo bukan Kyoto. Di Ibukota zaman Edo itu, tak ada satupun puntung rokok atau bungkus kacang tercecer. Di Tokyo, trotoarnya lumayan kotor, oleh bekas makanan dan daun yang gugur. Bahkan di sungai Chiyo airnya dipenuhi gulma yang tak habis-habis kendati dua motor but menyapunya bolak-balik. Di selter-selter tempat merokok puntung masih saja terjungkal ke lantai ketika penghisapnya berniat melemparnya ke asbak umum.

Di tempat ini selalu saja banyak orang mengepul sambil menunggu lampu menyeberang menyala hijau. Dua tiga hisap, seteguk dua teguk minuman ringan. Laki perempuan, tua muda, berhenti sejenak menghisap tembakau. Saya ikut di barisan mereka. Di hotel tak boleh merokok sehingga atase pers Kementerian Luar Negeri yang mengundang saya ke sini berkali-kali minta maaf karena "menghambat kebiasaan saya merokok." Astaga. Saya bilang, justru ke Tokyo ini saya berharap bisa mengurangi menghisap barang laknat ini.

Atase ini seorang perempuan dengan bahasa Inggris yang bagus karena sudah bisa menghilangkan sengau Nihonggo. Ia serius menjelaskan bagaimana aturan merokok di tempat umum di Jepang. Dia sendiri tak merokok, tapi terasa benar bahwa ia menghormati orang yang memilih jalan hidup memenuhi paru-parunya dengan nikotin. Alih-alih membenci dan menjauhi para ahli hisab ini.

Barangkali, itulah yang disebut orang sebagai peradaban...

Wednesday, November 04, 2009

INDONESIA



NEGERI ini memang tak pernah kekurangan drama. Prosa manapun tak ada yang bisa melampaui kejijikan dan ketidakmungkinan yang terjadi di Indonesia. Drama-drama [nyata] di Indonesia menempatkan prosa [yang khayali] ke gradasi paling rendah. Di negeri ini, yang khayali itu kalah dengan yang nyata-nyata dilakukan para aktornya. Maka benarlah Chernishevsky: dunia lebih indah [sekaligus lebih bejat dong, Tuan Nikolai] ketimbang karya seni.

Anda mungkin nonton Inglourious Basterd yang sedang diputar di bioskop-bioskop itu. Kita jijik melihat kelakukan Kolonel Hans Landa, pemimpin SS yang pintar itu, yang selalu bisa mengorek keterangan paling tersembunyi dalam setiap hati manusia. Kita jijik melihat Letnan Aldo Reine membalas kekejian Nazi dengan membelek kulit kepala setiap Nazi yang berhasil dibunuh anak buahnya, meski Aldo bukan seorang Yahudi atau punya saudara seorang Yahudi.

Tapi Inglourious hanya film Quentin Tarantino. Keluar dari bioskop kita bisa kembali makan ayam goreng kering yang diimpor Kolonel Sanders dengan lahap dan nikmat. Inglourious hanya film. Sama fiktifnya dengan The Departed yang bercerita tentang perselingkuhan polisi dengan pemimpin bajingan di Boston. Tarantino dan Martin Scorsese barangkali perlu ke sini segera: menonton drama nyata paling menjijikan yang pernah ada di dunia. Persekongkolan para bajingan.

Friday, October 30, 2009

CARA MENJADI BAJINGAN

MENJADI bajingan adalah sebuah keharusan dalam perang. Dan Quentin Tarantino menyajikan cara menjadi bajingan tengik yang paling menyebalkan lewat Inglourious Basterds, seraya mengejeknya. Dia menertawakan kebrutalan Nazi membantai Yahudi dan menyeringai terhadap sikap Amerika dalam membalas kekejaman itu. Tentu saja Tarantino memakai kacamata abad 21 ketika mengejek kebiadaban di luar akal sehat itu.

Pada abad 20, di tahun 1941, para idiolog berlomba tampil menjadi penguasa dunia. Dan Nazi tampil dengan kebanggaan narsis bangsa Arya memusnahkan Yahudi yang menjadi najis sejarah dan dunia. Di abad ini, ketika peradaban mencapai puncak, narsisisme semacam itu menjadi menggelikan. Dalam sebuah pertemuan, misalnya, terselip ejekan dari para bajingan anak buah Letnan Aldo Raine, "Hmm, kita duduk di antara bangsa Arya yang agung."

Tapi meski berlatar sejarah, cerita film ini sepenuhnya fiktif. Dibagi ke dalam lima bab--setiap bab menjadi pemisah yang efektif untuk menyatukan puzzle cerita--Inglourious dimulai ketika Kolonel Hans Landa menginterogasi LaPadite, seorang petani di sebuah desa di Prancis. Pak Padite dicurigai menyembunyikan satu keluarga Yahudi. Dialog keduanya sungguh menegangkan. Sikap dingin Landa mengorek keberadaan Yahudi itu meneror Padite dan kita yang tahu di gudang lantai bawah seorang ibu, ayah, anak gadis, dan balita menahan suara ketakutan. Padite hanya menangis ketika Landa bertanya apakah ia menyembunyikan mereka di gudang bawah tanah, bukannya sudah pergi ke Spanyol seperti pengakuan di awal interogasi.

Anak gadis keluarga Yahudi itu, Shosanna Dreyfus, kemudian lolos dari berondong peluru tentara Jerman. Dia kabur dan mengganti identitas menjadi seorang gadis Prancis pemilik sebuah bioskop kecil di desa Loussana. Bioskop ini kelak menjadi pertemuan para pemimpin Nazi--termasuk Hitler--yang menonton film propaganda dengan kelompok Aldo Reina (Brad Pitt). Hitler sudah lama jengkel dengan kelompok Aldo yang menyebut diri Si Beruang Yahudi karena membunuhi tentara Jerman dengan membelek kulit kepala dan memberi tanda Nazi di kening korbannya.

Dan pusat film ini adalah Landa dan Aldo. Aktor Christoph Waltz, aktor asli Austria ini, memerankan Landa dengan memukau. Setiap gerak-geriknya yang gemulai justru menyebalkan dengan kemampuan elokuen yang mengaggumkan. Ia selalu bisa mengorek petunjuk sekecil apapun untuk menangkap musuh-musuh Jerman, terutama para Yahudi yang menyamar. Dan dari setiap pertanyaan itu selalu berujung dengan pengungkapan fakta yang tak terduga.

Aldo selalu menyungging senyum menjengkelkan setiap membicarakan Nazi. Ia diutus Amerika mengumpulkan para Yahudi dengan kemampuan membunuh Nazi secara keji dan melumpuhkan mereka untuk menghentikan perang. Brad Pitt harus ngomong dengan suara perut dan mulut camoh sepanjang film. Capek kita mendengarnya.

Begitulah Tarantino. Humornya gelap. Cara mengejeknya bikin mual. Seperti film-filmnya yang lain, cara menertawakannya dibumbui muncrat darah yang telanjang dan dialog-dialog yang meneror. Ketika menangkap seorang tentara Nazi di sebuah hutan, misalnya, Aldo menceritakan bagaimana seorang anak buahnya membunuh seorang Nazi dengan menghajar kepalanya dengan tongkat baseball hingga otaknya buyar dalam sekali ayun, untuk mengorek keterangan keberadaan markas Nazi. Kita sudah ngeri lebih dulu sebelum tongkat itu benar-benar teranyun melumat kepala tentara itu. Muncrat darah dan erang kesakitan itu adalah inti filmnya, karena semua tokoh di film ini adalah para bajingan yang terbentuk oleh sebuah perang absurd di zaman modern.

Thursday, September 17, 2009

PERTANYAAN ANEH SEHABIS BUKA PUASA



AGAK aneh dan menggelikan bahwa saya ditanya tentang perkawinan. Dan dia bertanya amat serius, pada malam sehabis buka puasa. Perut kenyang, mengantuk, tak bisa gerak, dan dia meminta sebuah pertimbangan apakah perkawinan itu mesti atau tidak untuk dirinya, seorang perempuan lewat 30 yang bisa dengan enteng putus dan jadian dengan laki-laki baru kenal.

Dan saya tak heran dengan pertanyaan semacam ini. Ia kerap melontarkan pertanyaan yang konyol dan sia-sia. Dia tahu, saya kadang menyesal mendengarnya, tapi dia akan terus dan terus. Malam itu, malam dengan bulan yang lewat sempurna, dia bertanya: "Apakah saya perlu mengawini laki-laki ini?"

"Tergantung. Kamu butuh laki-laki atau suami?"

Sampai Ramadan hampir habis, dia tak bertanya lagi.

Tuesday, September 01, 2009

KAIN



KACA restoran pom bensin di Jalan Basuki Rahmat, dekat pasar Gembrong, Jakarta Timur, itu ditutup kain kuning dengan tulisan: Selamat menunaikan ibadah puasa plus gambar hotdog yang sedang mengepul. Di siang terik begitu, ucapan itu seperti sedang meledek. Sebab di balik kain kuning itu, kaki-kaki bergoyang.

Dan kain itu memang tak ditujukan untuk kita, orang yang di luar restoran--tak cuma orang yang sedang puasa. Kain-kain penutup di warung makan dan restoran dipakai untuk menutup dan memberi rasa nyaman kepada mereka yang duduk di dalam. Barangkali itulah cara menghormati orang yang berpuasa yang kian melenceng. Kain-kain tak lagi berfungsi menutup hawa nafsu bagi mereka yang berpuasa. Sebab tanpa ditutup pun kita tahu di dalam banyak orang yang sedang makan atau merokok. Sedang minum jus atau es blewah.

Cara "menghormati" itu adalah peninggalan zaman euphimisme, ketika segala tindak tanduk hanya berfungsi dan berhenti sebagai formalitas. Demi toleransi dan saling menghormati antar penduduk, kain itu perlu dibentangkan meski praktis tak berfungsi menumbuhkan toleran. Toh, pada warung yang terbuka tanpa kain pun kita bisa cuek.

Sebab itulah hakikat puasa: menahan diri dari godaan nafsu yang telanjang. Pada akhirnya, iman bukan soal yang mesti ditutupi.

Thursday, August 27, 2009

TENTANG KISAH SETAHUN LALU



TAHUN lalu, menurut perhitungan Hijriah, kami duduk di taman ini, Taman Amir Hamzah di Matraman, Jakarta Pusat, setelah hujan yang selintas, sebelum waktu berbuka tiba. Hari ini, tahun ini, peristiwa itu seperti terulang: kami duduk di bangku tembok yang sama, menghadap ke arah yang sama, dengan perut keroncongan yang sama, dengan pemandangan taman dan hilir mudik orang-orang yang sama. Bahkan penjual es buah di pojok jalan juga sama, dengan arah gerobak dan posisi yang sama.

Betapa setahun adalah waktu yang cepat. Situasi setahun lalu tak ada beda.
Nasib kami masih seperti tahun lalu, dengan rutinitas yang sama seperti tahun lalu, bahkan dengan perasaan yang sama tiap kali menempuh puasa dan menanti waktu buka. Seseorang dari kami curiga jangan-jangan nasib abang penjual es buah juga tetap sama, dengan rambut tetap gondrong dan tubuh ceking, dengan senyum dan raut muka yang tak berubah ketika mengucap terima kasih sesaat setelah menerima uang. Seingat saya harga es buah juga sama dengan setahun lalu: Rp 5.000 semangkuk.

Yang lain barangkali hanya ingatan yang berkerumuk. Peristiwa terjadi antara dua Ramadan. Tapi praktis ingatan itu tak mengubah sedikitpun lanskap kenangan saat duduk di bangku taman itu sambil menyeruput sop buah dan melumat beberapa risol. Ingatan itu hanya mewarnai cara kita mensyukuri apa yang kita dapat, bahwa hidup tetap berjalan tanpa bisa kita cegah--ditandai dengan buah dan bahan-bahan risol yang berbeda dengan setahun lalu--meski kita tak memberi perubahan berarti ke dalamnya.

De ja vu adalah momen yang mengasyikan ketika kita sampai pada sebuah syukur.

Friday, August 21, 2009

KANSAI



-- untuk m

Ketika dingin menghembus bumi
ketika lampu-lampu siaga di teluk ini
kemana lagikah akan kita cari
anak yang bermimpi tentang nagasaki?

Osaka hanya sebuah singgah
ketika orang tersesat di gedung tengadah
kemana lagikah hendak kita tanya
bahkan setelah kiyamijudera?

Kecemasan ini, cintaku
selamanya tak akan bisa kita mengerti
sebab kudengar ia memanggilmu
"Ibu, ibu, aku masih di sini
di rahim ketakutanmu."

Maka
sebelum cahaya mengusir salju
sebelum lampu susut kelabu
berbaringlah di gerbong-gerbong arashiyama

aku segera memasukimu

2008

Thursday, August 20, 2009

TAK ADA MELATI DI JAYAGIRI



TAK ada melati di Jayagiri, tak ada tatapan penuh kasih, hati yang teduh, dan kecupan yang lembut. Yang ada adalah deru trail dan matahari menerobos lebih leluasa. Orang berlomba naik ke Tangkuban Parahu dengan sepeda motor, menerabas gawir-gawir yang rimbun, mengotori daun-daun dengan karbon monoksida, menderu campur debu...

Jalan-jalan pun banyak bercabang. Tebing-tebing hanya menyisakan bekas trek yang sudah tak dilewati pendaki, tapi tetap gundul karena pohon enggan hidup di sana lagi. Kini tumbuh trek-trek baru yang landai karena digilas roda motor, diinjak para pencari rumput, diteruskan para pendaki.

Pohon-pohon terluka oleh vandalisme. Di sebuah akasia, misalnya, tertoreh "Aku cinta padamu, Ratna...." dengan bulat hati tertancap anak panah. Betapapun ini romantika vandalisme tahun 80-an, cara menyatakan cinta begitu abadi dari generasi ke generasi. Betapapun itu melukai mahluk hidup yang lain. Akasia itu akan menanggung luka itu seumur hidupnya, tanpa bisa meneruskan pesan itu kepada Ratna, Rini, Riri...

Jayagiri kini begitu panas, kotor oleh sampah plastik dan bekas bungkus makanan sepanjang jalan. Pinus meranggas seolah tahu nasib mereka tak akan lama lagi. Pemerintah sudah menunjuk sebuah perusahaan untuk membabatnya, menggantinya dengan kebun kopi, mungkin bangunan-bangunan yang mentereng. Jayagiri barangkali segera akan tinggal kenangan. Anak-anak kita akan tahu kelebatan dan keteduhannya hanya dari lagu Iwan Abdulrahman yang diciptakannya tahun 1967.

Saya mendaki punggungnya 16 Agustus lalu dan kecele: tak ada bau embun yang bersarang di ujung-ujung daun, tak ada desau pinus dan humus yang lunak, tak ada harum angin, tak ada hutan kelabu meski sudah hujan, tak ada rimba, tak ada melati, keindahan tumpas di Jayagiri....

Tuesday, August 18, 2009

LIPUTAN INVESTIGASI*



Bagja Hidayat**



Seorang terpelajar harus adil sudah sejak dalam pikiran...
[Pramoedya Anant Toer, Bumi Manusia]



Rapat redaksi Tempo, 2014.
SEBUAH liputan investigasi seringkali dimulai dari pertanyaan sederhana. Liputan tentang tambang emas di Busang, Kalimantan Timur, oleh Bondan Winarno pada 1997 dimulai dari pertanyaan: kenapa mayat Michael de Guzman cepat sekali ditemukan di kelebatan hutan tropis Kalimantan? Padahal, banyak pesawat jatuh tak diketemukan bangkainya hingga sekarang.

De Guzman adalah seorang ahli eksplorasi perusahaan penambangan emas Bre-X asal Filipina. Ia yang menyampaikan bahwa Busang menyimpan cadangan emas dalam jumlah banyak. Bre-X kebanjiran duit dari investor yang ingin membeli sahamnya di bursa saham Toronto, Kanada.

Tiba-tiba ia dikabarkan mati dengan terjun dari helikopter yang membawanya. Mayatnya ditemukan mengambang di rawa tiga hari kemudian. Kecurigaan Bondan bekerja: bagaimana bisa benda seberat 80-90 kilogram jatuh dari ketinggian mengambang di hutan rawa?

Liputan Bondan kemudian menemukan bahwa Guzman memalsukan kematiannya untuk menghindari jerat hukum karena Busang ternyata hanya pepesan kosong. Wartawan yang kini terkenal sebagai pembawa acara kuliner di televisi itu berhasil membuktikan bahwa itu mayat orang lain. Berdasarkan cerita keluarganya, Guzman memiliki gigi palsu di rahang atas. Sementara menurut dokter forensik yang ditemuinya, mayat itu tak memiliki gigi palsu satupun.

Hidup Guzman tetap misterius sampai sekarang. Tapi liputan Bondan menguak kongkalikong antara penguasa Orde Baru dengan perusahaan eksplorasi emas asal Kanada itu. Tahun lalu ada kabar pengadilannya di Kanada tetap berjalan dan ditemukan bukti-bukti baru ihwal kebohongan eksekutif dan para peneliti di Bre-X.

Dalam meliput kasus itu, Bondan telah mempraktekkan naluri wartawan investigasi yang paling dasar: sikap skeptis. Ia menyebutnya metode "daya bertanya".

Seorang wartawan investigasi akan terus meragukan temuan-temuannya, mengolah kembali informasi dan cerita yang ia terima, memverifikasinya, lalu mengonfirmasikannya kepada banyak sumber. Sikap skeptis sebetulnya tak hanya harus dimiliki wartawan investigasi. Setiap wartawan harus memiliki sikap ini. Sebab skeptis akan menyelamatkan wartawan terjerumus ke dalam sikap partisan, tak seimbang, memihak.

Di Tempo ada tim khusus yang menangani berita-berita investigasi. Ini desk yang menelisik informasi yang masih sumir tapi menarik yang waktu penelusurannya tak cukup hanya sepekan—ritme terbit majalah ini. Waktu yang dibutuhkan tak selalu sama dari setiap cerita. Ada yang pendek, ada juga yang panjang karena susah konfirmasi dan verifikasinya. Bertahun-tahun kami mengelola desk ini akhirnya sampai pada kesimpulan: tak ada yang mudah dalam berita investigasi.

Sebuah cerita awalnya kelihatan gampang ditelusuri dan ditulis, tapi ternyata membutuhkan waktu lima bulan sampai pada kesimpulan akhir. Pada akhirnya kami tak pernah menggolongkan berita gampang atau berita susah. Sebab gampang atau susah metodenya tetap sama: disiplin verifikasi dan konfirmasi dengan sikap skeptis secara terus menerus.

Liputan tentang kematian Lambang Babar Purnomo, seorang arkelog yang sedang menangani pencurian dan pemalsuan arca di Museum Radyapustaka, Solo, dimulai dari pertanyaan sederhana: kenapa dia yang segar bugar tiba-tiba mati ketika sedang mengusut kasus ini?

Penelusuran atas kematiannya—melalui wawancara dengan puluhan teman, kolega, rival, dan keluarganya, ditambah catatan hasil otopsi—membuhulkan kesimpulan ia dibunuh. Penyidikan kematiannya juga menguak persekongkolan Keraton Solo, pengusaha terkenal, kolektor, calo, pedagang barang antik, hingga makelar benda seni dari balai lelang terkenal di luar negeri.

Lambang hanya pelanduk yang terjepit di antara permainan para gajah itu. Dua pekan lalu Aliansi Jurnalis Independen memilih liputan tentang mafia purbakala yang terbit akhir September tahun lalu sebagai liputan terbaik.

Cerita soal akal-akalan biaya admin listrik juga tak dimulai dengan setumpuk dokumen atau bahan cerita bombastis. Mula-mula cerita seorang anggota tim yang baru saja membaca sebuah surat pembaca di koran. Ia merasa heran karena surat keluhan soal biaya administrasi dalam pembayaran setrum secara online tak sekali-dua muncul. Tak hanya di koran, keberatan pengenaan pungutan itu juga muncul di pojok diskusi maya, blog, situs jejaring sosial. Berhari-hari dengan keluhan yang sama.

Tim ini juga baru sadar ada komponen biaya itu di tagihan listrik rumah mereka. Lalu mereka memutuskan memverifikasi secara serius soal itu di tengah liputan lain yang sudah ditentukan waktu terbitnya. Verifikasi kepada orang bank dan orang dalam di PLN menghasilkan kecurigaan ada sesuatu yang salah dalam penerapan biaya admin listrik. Kita tak pernah tahu biaya ini karena tak dibahas bersama komponen tarif di DPR. Ujug-ujug ada dengan besaran yang sudah ditentukan.

Kecil, memang. Hanya Rp 1.500-Rp 8.000 per tagihan. Tapi kalikan jumlah itu dengan 40 juta pelanggan. Kemana uang publik itu mengalir? Siapa yang menikmatinya? Bagaimana pungutan itu bisa muncul? Kenapa pembayaran telepon yang juga melalui online tak dikenakan biaya administrasi?

Sederet pertanyaan itu menuntun pada beberapa orang sumber yang mengetahui riwayat pungutan ini dan menguak praktek kotor penilapan uang publik secara diam-diam. Kami menyebutnya korupsi legal, seperti ketika kami menelusuri penjualan mobil mewah melalui jalur diplomatik setahun sebelumnya.

PLN memberi privilege kepada sebuah perusahaan jasa online untuk mengelola pungutan ini bersama bank-bank yang ditunjuk. Perusahaan ini mengelola data pelanggan listrik tak melalui proses lelang. Pengelola perusahaan ini ternyata para pejabat atau bekas petinggi perusahaan negara itu. Yayasan PLN juga ternyata punya saham di perusahaan ini.

Alhasil, ini cerita yang sangat menarik. Apalagi ketika proses konfirmasi berjalan sumber-sumber di dalam PLN, perusahaan jasa, dan bank memberi keterangan berbeda-beda. Pemilahan informasi dari pelbagai sumber menunjukkan mana informasi bohong mana cerita yang betul-betul terjadi. Sebulan lalu tulisan yang terbit Januari 2009 ini menggondol Mochtar Lubis Award.

Seorang redaktur menyebut proses liputan investigasi seperti mengupas bawang: selapis-demi-selapis sampai ketemu intinya. Inilah yang membedakan liputan investigasi dengan liputan jurnalistik lainnya. Liputan investigasi ditulis secara mendalam, topiknya seringkali luput dari perhatian banyak orang, menyingkap hal tersembunyi atau disembunyikan, menghasilkan kesimpulan yang jelas tentang siapa yang bersalah, dan kebenaran yang disajikan bukan berdasarkan omongan orang tapi karena temuan fakta di lapangan.

Liputan investigasi berbeda dengan liputan tentang investigasi. Yang kedua, sumber ceritanya para penyidik yang memberi informasi tentang sebuah kasus yang sedang mereka tangani. Wartawan menceritakan bagaimana aparat hukum memproses sebuah kasus hingga ketemu terdakwanya dan bagaimana kasus itu terjadi. Ia tak menggali sendiri cerita dari sumber-sumber pertama, memilah, dan menunjuk siapa yang salah.

Liputan tentang skandal Watergate oleh dua wartawan Washington Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein, pada 1972 adalah reportase investigasi murni pada awalnya, sebelum para penyidik menelusuri kasus korupsi yang menjungkalkan Richard Nixon dari kursi Presiden Amerika Serikat. Dimulai dari liputan kasus pencurian dokumen di kantor Partai Demokrat di Gedung Watergate, penelusuran “Woodstein” sampai pada aliran dana untuk kampanye Nixon.

Karena sifatnya yang investigatif, liputan jenis ini seringkali membutuhkan teknik khusus. Misalnya, menyamar. Dalam liputan aborsi di Jakarta Februari lalu, tim Tempo harus menyamar untuk membuktikan rumah-rumah bersalin dijadikan tempat praktek aborsi. Cara ini ditempuh karena mendatangi klinik dengan mengaku wartawan tak menghasilkan cerita apapun.

Dalam dunia jurnalistik—di Indonesia maupun dunia—menyamar masih menjadi perdebatan dari sisi etika. Sebab prinsip utama kerja wartawan adalah akuntabilitas. Ia tak boleh berbohong kepada narasumbernya. Para wartawan harus menjelaskan posisinya sehingga orang yang diajak berbicara tahu omongannya akan dikutip dan muncul di media. Menyamar hanya jalan terakhir yang ditempuh karena tak ada pilihan lain.

Informasi off the record dan sumber anonim juga harus diperlakukan secara ketat. Informasi off the record harus dilihat dari motif orang yang menyampaikannya. Apakah kebenaran materi atau hanya sekadar fitnah belaka. Sumber anonim punya beberapa syarat: apakah si sumber orang yang menyaksikan sebuah peristiwa, saksi kunci, atau terancam keselamatannya jika identitasnya dibuka.

Woodstein mendapat petunjuk penelusaran kasus Watergate dari seorang yang diberi nama sandi Deep Throat—judul sebuah film semi porno yang sedang populer saat itu. Identitasnya baru terkuak pada 2005 ketika ia muncul di depan publik dan dikenalkan sebagai Mark Felt, Direktur FBI zaman Nixon. Petunjuknya yang sangat terkenal kepada Bernstein adalah: follow the money... Felt meninggal pada 2007.

Kemunculan Felt atas inisiatifnya sendiri menjawab kepenasaran publik. Tapi wartawan harus membuka identitas sumber anonimnya jika kelak terbukti si sumber menyampaikan sebuah cerita bohong dengan tujuan memfitnah. Karena itu sebelum wartawan setuju memuat ceritanya, ia harus memverifikasi cerita itu ke sumber lain dan mengonfirmasikan posisinya dalam kasus yang sedang ditulis.

Sebab tanggung jawab wartawan kepada publik karena ia menulis hal-hal yang menyangkut kepentingan orang banyak. Publik berhak dan harus tahu bagaimana metode kerja wartawan sampai menghasilkan informasi yang mereka tulis. Dalam dunia demokratis, liputan jurnalistik bisa menjadi referensi bagi orang banyak untuk menentukan tindakannya.

Pada liputan aborsi kami menyiasatinya dengan jalan konfirmasi. Kami mengirim orang yang berbeda setelah wartawan yang menyamar menjadi pasien mendapat bukti beberapa rumah bersalin tempat praktek dokter terhormat dan terkenal di Jakarta melakukan aborsi. Kami beritahu bahwa orang yang datang itu wartawan. Kami memberi ruang para dokter dan bidan itu menyanggah cerita yang diperolehnya. Sebulan setelah liputan itu terbit, polisi menggerebek klinik aborsi yang kami tulis.

Meski dituntut bersikap skeptis, wartawan harus tetap mengedepankan sikap adil. Wartawan tak dibenarkan memvonis sikap narasumber sampai benar-benar ketemu fakta yang dapat ia pertahankan. Wartawan senior Goenawan Mohamad kerap mengingatkan bahwa “kebenaran ada di mana-mana, termasuk di tempat-tempat yang tidak kita suka.”

Pada akhirnya, wartawan mesti mengingat aforisme Minke, seorang wartawan Medan Prijaji, dalam novel Bumi Manusia yang ditulis Pramoedya Anantar Toer seperti dikutip pada awal tulisan ini.

* Materi Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Lanjut Nasional di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jurai Siwo Metro, Lampung, 14 Agustus 2009
** Wartawan majalah Tempo

Bahan bacaan:

1. Winarno, Bondan. 1997. Bre-X : Sebungkah Emas di Kaki Pelangi. Penerbit Inspirasi Indonesia, Jakarta
2. Kovach, Bill dan Tom Rosenstiel, 2004. Elemen-elemen Jurnalisme. Institut Studi Arus Informasi, Jakarta
3. Gaines, William C., 2007. Liputan Investigasi untuk Media Cetak dan Siaran. Institut Studi Arus Informasi, Jakarta
4. Mohamad, Goenawan. 1997. Seandainya Saya Wartawan Tempo. Institut Studi Arus Informasi dan Yayasan Alumni Tempo, Jakarta
5. Toer, Pramoedya Ananta. 1980. Bumi Manusia. Hasta Mitra
6. Kurnia, Septiawan Santana. 2003. Jurnalisme Investigasi. Yayasan Obor Indonesia

Wednesday, August 12, 2009

TETANGGA



INILAH yang selalu saya rindukan tiap pulang kampung: ketemu dan ngobrol dengan orang-orangnya. Saya mudik karena adik saya menikah dan ada hajatan kecil. Tetangga dan saudara berkumpul, menyiapkan makanan, penganan, untuk tamu dan handai taulan.

Dulu sewaktu disunat, saya paling suka menyelinap ke dapur yang dijubeli ibu-ibu yang sedang masak: nongkrong di depan hawu dan mendengarkan mereka ngobrol, sampai panitia penyambutan mencari-cari karena anak sunat harus dipajang di dekat panggung hiburan agar para undangan mudah menaruh amplop di peci atau melihat luka penis sudah mengering atau belum.

Saya nostalgia dengan masuk ke dapur. Kali ini membawa kamera. Setelah jeprat-jepret saya nongkrong di dekat sumur yang agak gelap. Bapak-bapak sedang istirahat setelah mencuci piring, sambil merokok. Dua orang berdagang es di Jakarta, dua lagi bertani. Kami mengobrol ke sana kemari. Dua lagi sambil bolak-balik mengangkut piring dan gelas kotor dari ruang prasmanan.

Seseorang--dia bapak dua anak yang baru menikahkah anak perempuannya--berbicara tentang perbedaan anak dan tetangga. Katanya, waktu berkumpul anak dan orang tua sangat singkat. Ia sendiri memiliki anaknya cuma selama 20 tahun, sebelum mendapat mantu yang memboyong putrinya ke rumahnya sendiri atau ke Jakarta untuk sebuah kerja. Tanggung jawab pun berpindah ketika ijab kabul pernikahan.

Tapi dengan tetangga, katanya, tak ada limit waktu kapan berpisah. Justru dengan para tetanggalah hidup lebih sering bersinggungan. Para tetangga kadangkala jauh lebih tahu apa masalah kita ketimbang anak-anak, yang jauh dari rumah. Mereka yang akan menolong pertama kali ketika kita ketiban musibah. Sedangkan anak-anak harus ditelpon dulu jika kangen ingin ketemu.

Anak-anak pasti akan meninggalkan rumah, tapi tetangga tak akan jauh-jauh dari rumah. Sebab, para orang tua mendidik anak-anaknya mandiri, yang berarti harus bisa hidup sendiri jika tiba waktunya. Pada tetangga kita membangun hubungan justru agak kelak tak hidup sendiri.

Saya manggut-manggut. Ia berbicara tentang sesuatu yang saya alami, tapi tak saya pikirkan. Ia merumuskan sebuah hal umum yang akan dialami oleh siapa saja, tapi sering luput dari renungan siapa saja. Ia berbicara tentang kecenderungan yang terjadi dari zaman-ke-zaman, apalagi ketika urbanisasi tak lagi bisa dicegah karena kota tetap menjanjikan sebuah harapan dan dusun tetap saja sebagai kampung halaman.

Bagi saya dan adik saya, rumah ini hanya sebuah kenangan. Karena besok saya tak memilikinya lagi, tak meniduri kasurnya lagi, tak mencium bau sorenya lagi. Kami akan kembali ke Jakarta, ke sebuah rumah lain yang bukan tempat asal dan masa depan kami. Rumah dan kampung ini hanya sebuah masa lalu dengan kenangan-kenangannya yang terus membetot ingatan, tapi tak mudah disinggahi. Kami harus pergi lagi setelah dua tiga hari tinggal, seperti ritual keluarga zaman industri.

Bapak-bapak inilah yang akan terus berkomunikasi dengan bapak-ibu saya, secara nyata di sawah, pekarangan, di jalan, dalam rapat-rapat desa, atau saat bertamu. Saya mungkin juga begitu, 15 atau 20 tahun lagi.

Friday, August 07, 2009

HATTRICK



SESEORANG menelepon dengan nada rusuh. Saya tak bisa mendengarnya dengan jelas apa yang sesungguhnya dia bilang. Apalagi dalam brisik kereta Cirebon Express dan gusah remang bangun tidur. Rupanya itu panitia Apresiasi Jurnalis Jakarta. Dia--sepertinya perempuan--sedang memastikan apakah saya yang nominator bisa hadir atau tidak dalam acara. Dia menelepon jam 11.23, sementara acara jam 12.00.

Kepastian itu tiba sejam kemudian. Seorang kawan menelepon. Saya hapal suaranya, meski tak melihat nama di layar ponsel. Dia--kali ini laki-laki--menelepon sedetik setelaha juri mengumumkan pemenangnya. Jadi dia omong pelan sekali dan kedengaran brisik di belakangnya. Katanya, tulisan "Lambang dalam Pusaran Mafia Purbakala" menang dalam penghargaan itu untuk kategori media massa cetak. Setelah itu sandek bertubi-tubi. Rupanya benar, tulisan itu menang.

Ini liputan tentang Lambang Babar Purnomo, seorang arkeolog yang dibunuh karena ketekunannya mengungkap pencurian, pemalsuan, dan kepemilikan ilegal benda purbakala. Temuan dan ucapannya di koran selalu tajam dan tak khas seorang Jawa yang ewuh pakewuh. Ia dibunuh pada sebuah subuh, 8 Februari 2008. Polisi sampai kini masih menyimpulkan ia jatuh dari sepeda motor Honda 800 di jalan Ring Road.

Padahal, bukti-buktinya banyak yang mengarah bapak empat anak itu dibunuh. Laporan forensik juga jelas menyebutkan ia mati akibat kekerasan tumpul. Seorang saksi juga melihat ada orang lain pada menit ketika Lambang meregang nyawa. Buku teks anatomi menyebutkan jika ruas leher nomor 2 dan 4 patah, Lambang akan mati seketika. Ternyata tidak. Ia masih sempat minta tolong. Artinya, ia masih bisa bicara sebelum lehernya patah. Artinya, jika pun ia jatuh dari sepeda dan masuk ke selokan, ia belum mati. Ia tak mati karena sial jatuh ke parit. Seorang reserse mendukung kesimpulan ini. Dan ia memetakan bagaimana jaringan "Thomas Crown" sudah lama mengincar Lambang.

Kematian Lambang membuat banyak kasus purbakala mandeg. Kasus pencurian arca memang sempat mendudukkan pengusaha Hashim Djojohadikusumo di persidangan. Ia bebas. Hanya dua yang masuk penjara, para pencuri di tahap awal.

Penghargaan ini untuk Pak Lambang, seorang yang suka humor, ringan hati, selalu berbaik sangka pada orang, dikenang dan dicintai anak dan istrinya, dan selalu teguh memegang pendirian. Saya bangga telah menuliskan sejumput riwayat keteguhan hidupnya.
Beritanya di sini dan di sono.

Friday, July 24, 2009

DARI MOCHTAR LUBIS AWARD



BERITA baik bisa dimulai dengan kejengkelan. Gara-gara KPU konon kata presiden mau dibom, Jalan Diponegoro diblokir. Saya harus belok ke Kuningan untuk menuju Hotel Santika di Petamburan, Jakarta Barat.

Di Mampang, yang biasanya boleh balik kanan menuju Jalan Gatot Subroto, kali ini polisi membuang semua pengendara ke Jalan Tendean. Jadilah saya terdampar di CSW. Niatnya mau belok kanan agar sampai Palmerah lewat Jalan Gelora. Tapi sebuah Panther menghalangi belok itu sehingga saya tersasar hingga Velbak. Harapan terakhir, belok kanan di Jalan Arteri.

Di sinipun tak lagi bisa belok kanan karena sudah ada jalan bawah tanah. Saya harus balik kanan di Pondok Pinang. Ampun. Mata sepet perut keroncongan dan macet seusai magrib itu bikin malam Jumat terakhir di bulan Juli menjadi sempurna. Tapi sampai juga di Santika meski sudah dihalangi taksi yang membawa dua anak muda yang berciuman di jok belakang sewaktu akan belok di Slipi.

Dan susah sungguh mencapai Santika terbayar saat pengumuman Mochtar Lubis Award, sebuah penghargaan jurnalistik paling prestisius di Indonesia. Dua laporan jadi juara. Soal biaya admin listrik dan aborsi. Sungguh, Juli yang menyenangkan.

Beritanya ada di sini dan di sini


Wednesday, July 22, 2009

SEANDAINYA AMERIKA TAK ADA LAGI



SEANDAINYA Amerika tak ada lagi apakah sosialisme akan bangkit atau seorang khalifah tampil di hadapan kita? Apabila Amerika tak lagi tercantum pada peta, karena krisis tak habis-habis, bahagiakah hidup kita?

Masa depan mungkin punya sejarah, tapi hari esok seringkali tak bisa ditentukan hanya oleh hari ini. Kejutan-kejutan muncul, peristiwa-peristiwa baru meledak tanpa sempat direncanakan, dan hidup seakan-akan tak memiliki jeda. Tapi, bisakah dunia berjalan tanpa Amerika?

Krisis ini seakan-akan sebuah penanda awal bahwa dunia sedang menjalani keniscayaannya sendiri: berubah menjadi polar-polar yang kian banyak. Dulu, ketika Rusia dan Amerika masih menjadi dua blok yang saling mengancam, dunia selamat karena sebuah pensil. Ini sebuah kisah yang saya lupa sumbernya, tak jelas kronologi dan logikanya, tapi terus mengiang karena ia sebuah contoh baik tentang keseimbangan.

Syahdan, di teluk babi itu Soviet sudah siap mengarahkan misilnya. Tak ada lagi menunggu: Amerika sudah tamat hari itu. Amerika harus dihancurkan dan namanya dihapus dari peta. Amerika tentu tak tinggal diam. Mereka juga mengarahkan moncong misil ke sana. Ada yang memperkirakan misil dua negara ini jika digabung tujuh bumi tak bisa menampung daya ledaknya. Pendeknya, dunia menjelang kiamat sebelum waktunya.

Seorang profesor Amerika kemudian mengirimkan serbuk misil itu yang ia susupkan lewat pensil, ke karibnya di St. Petersburg. Si karib yang juga profesor nuklir itu tahu apa yang bakal terjadi: perang tak akan menguntungkan siapa-siapa. Adu misil itu hanya sebuah tiket pertemuan lanjutan di neraka. Lobi-lobi itu berhasil. Amerika setuju menarik misilnya kembali, Soviet juga akur tak menggempur musuhnya itu. Bumi selamat, lalu kita menyaksikannya kian sekarat. Terbunuh pelan-pelan.

Dan Soviet hancur oleh kesalahannya sendiri. Tinggal Amerika sendirian di menara gading. Ia leluasa menggempur Irak, melumat Afganistan, pamer senjata untuk alasan yang mereka buat sendiri. Musuh diciptakan agar energi yang tak keluar dulu itu bisa disalurkan. Dunia praktis berayun dari bandul Amerika saja. Pemain-pemain lain hanya menonton sambil mengurut dada. Dan salur-salur energi itu bikin kita sengsara, bikin kita mengutuk hidup yang kian hari kian rudin.

Kini Amerika menempuh jalan Soviet itu. Mungkin mereka hancur dan kekuatan baru muncul yang menuntun hidup kita ke arah yang lain. Tapi, tentu tidak dengan cara yang sama: mengebom orang-orang tak bersalah yang sedang lewat atau ketemu dan sarapan di restoran hotel.

Thursday, July 09, 2009

ANAK

TAK ada yang lebih membahagiakan selain dikenang oleh anak-anak sendiri. Seperti Michael Jackson. Di hari pemakamannya, Paris--putri pertamanya yang 11 tahun--mengatakan hal yang paling mengharukan :

"Sejak saya lahir, Daddy adalah ayah terbaik yang bisa kalian bayangkan. Dan aku ingin mengatakan bahwa aku mencintainya dengan sangat". [Hollywood Insider]



Monday, June 29, 2009

PERKAWINAN

DIA menelepon sambil tersedu. Perempuan yang merungkupkan syal ke kepalanya untuk menahan hembusan angin mesin pendingin, yang duduk di sebelah saya dalam sebuah bus yang membawa kami ke Bandarlampung.

Dia menelepon sambil tersedu, dalam isak yang tertahan, dan bicara yang dipelan-pelankan. Bus sudah mau masuk pelabuhan Merak. Artinya, itu hampir jam 00. Saya sempat tidur sebentar tadi, karena playlist mp3 sudah melewatkan tiga lagu yang tak saya ingat: Sad Song, Try Not to Remember, dan Breaking The Habit, lalu terbangun karena grasak-grusuk perempuan itu mencari teleponnya.

Tak jelas benar apa yang dia obrolkan. Lagipula, telinga saya penuh oleh lagu-lagu unplugged Nirvana. Saya mencoba tidur lagi, mengingat kejadian yang sudah lewat, membayangkan kejadian yang akan datang, peristiwa berkelebatan saling susul, yang sedih, yang lucu, yang konyol, yang bikin dongkol, kenangan-kenangan masa kecil, masa setengah besar, masa besar, betapa hidup penuh kejutan, selalu ada benang merah dari setiap peristiwa, dan di luar skenario manusia ("Tuhan itu pelawak ulung," kata seorang tokoh dalam A Father's Affair, sebuah novel dari Karel Glastra van Loon, yang mengisahkan pencarian seorang ayah mencari ayah anaknya).

Saya hampir memasuki alam bawah sadar [ini istilah hipnoter Rommy Rafael yang sebelum ia terkenal, istilah itu saya temukan dalam biografi Sigmund Freud], ketika perempuan itu tiba-tiba bilang, "Maaf ya, kalau saya tadi mengganggu." Dalam rembang pikiran dan ingatan, saya menduga itu bukan suara untuk si peneleponnya. Itu maaf untuk orang lain.

Saya buka mata dan menoleh, dia melihat saya, mengangguk. Jadi jelas, itu maaf untuk saya. Daripada disebut tak sopan, saya copot earphone lalu balas mengangguk dan bilang "Oh, tak apa..." Saya menduga percakapan basa-basi itu akan berakhir sampai sana, meskipun agak aneh juga. Saya belum pernah menemukan sopan-santun Timur semacam itu: meminta maaf kepada orang asing dalam kendaraan umum karena takut mengganggu setelah bertelepon sambil menangis.

Dan percakapan itu tak berhenti sampai di sana. Dia--sampai sekarang saya tak berhasil mengingat wajahnya--bilang lagi, "Tak ada perkawinan yang sempurna." Ha? Jadi itukah yang bikin dia menangis? Apakah di telepon itu suaminya atau orangtuanya atau anaknya atau adiknya atau selingkuhannya atau ... Saya tak mau menduga-duga. Dia menunduk. Dan tentu saja saya tak menanggapi kalimat terakhir itu. Saya betulkan duduk, memeriksa sandaran kepala, memastikan tas ada di tempatnya. Jelas saya tak sedang bermimpi.

Saya tak memasang lagi earphone, kalau-kalau dia bicara lagi. Dalam kepala saya bilang, tentu saja tak ada perkawinan yang sempurna, yang ada adalah perkawinan yang disempurnakan. Dan sempurna adalah definisi yang paling absurd, untuk sebuah hubungan antar manusia. Bagaimana dua orang yang berbeda isi kepala bisa saling menaut dan mengait lalu menempuh satu tujuan yang sama. Dan perkawinan adalah hasil peradaban manusia yang paling lucu, lagi-lagi ini kutipan dari Karel van Loon. Di sini kita terbiasa berusaha melucu dengan membedakan perkawinan dan pernikahan.

Tapi sampai bus masuk kapal, sampai pikiran saya capek menduga-duga, dia diam saja dan terus menunduk. Ujung syal menghalangi mukanya dalam temaram lampu bus malam. Mungkin dia menyesal kelepasan ngomong, kepada orang asing yang duduk bersebelahan sekitar 6-7 jam. Mata saya yang belum terkatup dua malam mulai berat. Ketika alam atas-sadar terkumpul lagi, bus sudah hampir masuk stasiun Tanjungkarang. Saya buru-buru turun dan lupa berpamitan kepada perempuan yang bertelepon sambil tersedu.

Thursday, June 25, 2009

WAJAH

DUNIA adalah mahaprosa dan puisi sekaligus. Nasib sering terasa begitu main-main dan kerap terlampau memaksa mengajak berpikir.

Sebelum Putu Wijaya menulis cerita tentang seseorang yang ketinggalan kepala di bandara Changi, lalu menukarnya dengan kepala seorang perempuan Amerika di Cengkareng, di Madiun seorang nenek tak punya wajah karena kanker ganas yang menggerogoti kulit mukanya.

Mula-mula tahi lalat di hidung yang gatal dan panas, lalu hidung itu hilang, kemudian mata, tulang pipi, kening, dan bibir atas. Setelah 34 tahun menahan gatal dan panas, wajah Tumini itu gerowong sedalam 10 senti.

Ia praktis tak bisa apa-apa. Selain di kamar, ia menutupkan kain ke lubang itu hingga yang tampak hanya bibir bawah saja. Bicaranya ngirung dan udara terlihat menghembus ke kain itu dari dalam kepalanya.

Suaminyalah, kakek Marko yang sabar, yang menyediakan keperluan istrinya sehari-hari: memasak nasi, menyapu halaman, merebus air, menyuapi, menuntun ke kulah di belakang rumah. Ia harus mengumpulkan satu juta tiap bulan untuk membeli obat-obat generik dari warung untuk mengurangi derita istrinya. Wajah Marko tirus tapi gurat-gurat di pipi dan keningnya menyimpan cerita tentang ketabahan dan kesetiaan.

Dan Tumini masuk televisi, wajah bolongnya tersiar ke jutaan ruang-ruang keluarga. Banyak orang datang menawarkan bantuan: sekadar memberi bekal sampai menawarkan operasi plastik. Tumini menolak.

Ia merasa sudah tua dan tak akan hidup lebih lama lagi. Ia sudah menahan panas dan gatal itu selama 34 tahun. Sakit adalah tarikan napasnya yang telah akrab dengan tubuhnya yang tipis. "Saya ingin menghabiskan sisa hidup dengan suami saya, di sini, di gubuk ini," katanya.

Di televisi itu Tumini juga tertawa. "Nasib telah begitu tertib, pada Sakit dia juga telah jadi karib..."

Monday, June 22, 2009

PADA BHISMA, JUGA AMBA

EPOS Mahabharata menjadi kisah menyedihkan sebab ada begitu banyak orang mau berkorban untuk sesuatu yang musykil, karena itu nasib seperti mengutuknya.

Salah satunya Bhisma. Ketika namanya masih Dewabhrata, ia seorang putra mahkota Hastinapura. Ia copot sendiri gelar itu karena rasa hormat kepada ayahnya, Baginda Sentanu, yang ingin menikah lagi. Tak cuma itu, pangeran tampan yang pendiam dan suka merenung ini bersumpah tak akan kawin seumur hidup agar keturunan istri baru ayahnya itulah yang meneruskan dinasti. Konon, para dewa menarik napas dalam-dalam mendengar sumpah itu. Bhisma, Bhisma...

Dan cerita sedih Mahabharata pun dimulai. Hastinapura kemudian diteruskan Wicitrawirya, anak sulung Setyawati, permaisuri baru itu. Agar kerajaan itu terus, agar dinasti itu tak putus, Bhisma pergi ke kerajaan Kasi yang sedang menggelar sayembara mencari suami untuk tiga anak perempuan: Amba, Ambika, dan Ambalika. Bhisma bertempur dan mengalahkan semua penantang. Ia memboyong tiga putri itu untuk adik tirinya yang segera akan dinobatkan.

Wicitrawirya memilih Ambalika, putri sulung yang kelak melahirkan putra mahkota berwajah pucat: Pandu. Konon, bukan dari benih Wicitrawirya sebenarnya Pandu lahir. Wiyasa, seorang resi, lewat ke keputren dan diam-diam meniupkan sukma ke rabu Ambalika. Dan begitulah sebermula kemunculan putra Pandawa, lima pangeran yang menempuh hidup sengsara karena berselisih dengan Kurawa--cucu-cucu Wicitrawirya dari percintaan gelapnya dengan Ambika.

Perselisihan itu dimulai ketika Pandu, raja baru, tiba-tiba meninggal ketika lima anaknya masih bayi. Destarastra, pangeran buta dari rahim Ambika, naik tahta. Mahabharata pun kian membingungkan tentang siapa sebenarnya yang berhak atas kerajaan itu. Pandawa dan Kurawa saling klaim, menaruhkan kekayaan, harga diri, istri, sampai kerajaan, lalu mengakhirinya di padang Kurusetra dalam sebuah perang brutal 15 tahun kemudian. Bhisma ada di pihak Kurawa. Ia juga yang menjadi panglima tentaranya.

Bhisma mati oleh puluhan anak panah yang menghujam seluruh sendi, hingga ia tak bisa mencium tanah karena panah-panah itu menyangga tubuhnya. Tapi pangeran bijak itu, menurut sais keretanya yang menyusun laporan untuk Destarastra, meninggal dengan tersenyum. Matanya berbinar ketika anak panah terakhir menembus merihnya.

Ia tahu siapa yang menembaknya: seorang ksatria cantik ramping yang melesat mengendarai kuda dengan akurasi bidikan panah setara Arjuna, putra tengah Pandawa. Dialah Srikandhi. Tapi ketika panah pertama menembus belikatnya yang tak terlindung lalu roboh bertelekan lutut, Bhisma tengadah dan berseru, "Amba..."

Dan Bhisma mati dengan senyum, seolah telah menuntaskan dan menutup penyesalan yang pedih. Dan ia menyeru Amba.

Memang, putri itu telah ia kembalikan ke istananya, setelah sebuah pengakuan yang mengharukan. Amba bersumpah tak akan menerima pinangan siapapun, kecuali Pangeran Salya, kekasih yang amat ia cintai. Tapi Salya yang bimbang menolak karena menganggap Amba sudah tak suci lagi dan malu telah kalah dalam pertarungan sayembara itu. Amba pun linglung. Ia keluar istana sebagai orang yang ditolak dan direnggut. Ia masuk hutan, menjadi pertapa, dan menderita.

Sejak itu Bhisma menyesali perbuatannya. Penyesalan yang selamanya menggelayuti wajahnya yang teduh. Ia tak bisa menelan tapi juga tak sanggup memuntahkan penderitaan Amba. Maka Bhisma menyeru namanya pada napas yang penghabisan. "Amba telah menyongsongku," katanya kepada Arjuna. "Amba telah menebusku..."

Friday, June 19, 2009

CITA-CITA

APA salahnya menjadi wartawan. Ini pertanyaan yang pantas untuk Megawati, anak kedua Soekarno--pendiri Republik, orator ulung, dan penulis yang menggetarkan. Megawati, di podium itu, berdiri menyimak pertanyaan seorang mahasiswa. Seperti seorang Ibu, ia bertanya apa cita-cita mahasiswa itu? Mahasiswa itu menjawab: menjadi wartawan. Megawati menimpalinya tak seperti seorang Ibu: cita-cita kok cuma jadi wartawan.

Saya tak tahu adakah satu cita-cita melebihi cita-cita yang lain, sehingga cita-cita menjadi wartawan adalah cita-cita yang lebih rendah ketimbang cita-cita, misalnya, menjadi presiden. Saya tak tahu juga, setidaknya belum pernah membaca, apakah Megawati bercita-cita jadi presiden--keinginan yang luhur menurutnya--ketika seumuran mahasiswa itu.

Megawati pasti generasi agraris yang mewarisi cara pandang feodal. Ia masih mengidentikkan cita-cita dengan jabatan atau gelar, atau sesuatu yang berhubungan dengan prestise dan status sosial. Sehingga yang terbayang dari "gantungkan cita-citamu setinggi langit" adalah bukan membuat keinginan yang tak mungkin digapai tapi mengharapkan suatu jabatan paling tinggi. Dengan punya jabatan tinggi, karena itu uang banyak, kau akan bisa memerintah dan membayar apapun untuk keinginan dan hidupmu.

Anak-anak sekarang akan menjawab "menjadi presiden" tiap ditanya apa cita-citanya. Tak ada, atau belum pernah saya dengar, ada yang bilang bercita-cita menjadi petani. Sebab petani, di negeri agraris tapi bergaya industri ini, berada jauh di level paling rendah status sosial kita. Petani identik dengan kemiskinan dan kerja otot yang tak keren. Kecuali Mikail, anak saya.

Sejak dua tahun ia sudah punya cita-cita. Mula-mula ia bilang "aku ingin menjadi tukang parkir" karena kagum pada tukang parkir di sebuah rumah sakit yang sanggup memundur dan memajukan mobil tanpa menyentuhnya. Lalu menjadi supir truk karena berjuta-juta kali menonton video Adventures of Zimmo. Kini, hampir lima tahun, ia ingin menjadi supir angkot sebab bisa memodifikasi mobil semau-maunya, memutar lagu keras-keras, lalu dibayar penumpang. Neneknya pernah mengajari agar menjawab "menjadi dokter" kalau ditanya orang apa cita-citamu. Mikail tak mau, dan saya mendukungnya.

Karena itu apa salahnya menjadi wartawan? Bukan karena ini profesi mulia, tapi karena tak ada profesi yang lebih luhur dari profesi yang lain.

Wednesday, June 17, 2009

DARI SEBUAH BUKU HARIAN

SESEORANG menulis kalimat-kalimat ini, pada sebuah buku harian, atau buku coretan karena ia menampung apa saja, tentang apa saja: kisah sehari-hari, jumlah pengeluaran dan belanja bulanan, puisi, aforisme, sketsa, outline sebuah--agaknya--cerpen dan novel, juga catatan perjalanan, tanpa tanggal:


Dulu, saya suka bangun pada sepertiga malam, hanya untuk memandang wajahmu. Wajahmu. Menyidik-nyidik adakah wajahku, gurat keakuanku, di sana. Saya tak ingat apakah saya berhasil. Selalu setiap mencari aku pada kamu, saya menemukan bahwa kita justru seperti buku yang terbuka, buku yang akan menampung halaman-halaman untuk kita isi bersama.

Dulu, saya rutin bangun pada akhir malam, hanya untuk mengecup pelupukmu. Mencari pandang yang telah menaklukanku. Sebab masih kusimpan tatapmu itu di uluhatiku. Kusimpan dan kukumpulkan ia untuk bekal perjalanan panjang ini. Atau kubuka jika aku kangen pada hujamannya, pada bentang kenangannya.

Dulu, saya bangun sebelum subuh, hanya untuk mematri rautmu yang teduh. Rautmu yang mengingatkanku pada Ibu. Aku mencintai raut itu, raut yang lembut dan tabah dan teguh, raut yang menjadi rumah tempat saya istirah selepas tetirah dari jauh benua-benua.

Dulu, saya hentikan mimpi sebelum pagi, cuma untuk mengelus keningmu yang senggigi. Kening yang meredam kecemasan tentang esok yang tak sempurna. Kening yang menampung segala mimpi tentang beranda yang penuh bunga-bunga.

Dulu, aku sudahi malam setelah memasukimu....

Monday, June 15, 2009

USIL

SAYA duduk di sebuah warung kopi di Pacifik Place, pada sebuah sore yang berangin. Menghidu Capuccino yang agak pahit. Lampu-lampu menyala bahkan di pojok-pojok yang tak perlu. Orang lalu lalang. Wangi, bersih, otot yang mengkal, rambut yang ogah tertiup angin, dada yang penuh, alis yang lancip. Seharusnya saya nikmati saja kopi dan pemandangan itu. Banyak sekali manusia bagus, mereka seperti tak lahir dari rahim ibu.

Tapi, selalu tiap kali nongkrong minum kopi--tentu saja ditraktir--di gedung yang menghabiskan ribuan watt setrum untuk sebuah kesenangan seperti itu, kepala saya penuh: apakah orang-orang ini pernah susah. Masalah hidup apa yang membuat dunia mereka jadi sempit? Terlalu sukar menebak kejumudan dalam wajah-wajah segar dan terawat semacam itu.

Mereka antri di Blitz Megaplex, memesan kopi yang rasanya tak bisa saya bayangkan, membuka Internet dengan Apple atau Blackberry, jalan bergandengan atau duduk berpelukan, tertawa renyah lalu berciuman. Di mall itu tiba-tiba saya merasa sendiri, betapa dunia kian asing. Kota melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang makin musykil.

Rupanya saya tak sendiri. Seorang teman bercerita ia habis spa di sebuah hotel bintang lima. Ketika kakinya baru masuk air mawar pada ritual paling awal pijat seluruh badan itu, pelayan yang meremas betisnya bertanya yang membuat ia ingin menceritakan rutinitas setiap Sabtu itu. "Ibu capek. Apa sih yang membuat ibu capek?" Mbak ini tak percaya di balik kulit porslen begitu ada yang bisa capek dan stres.

Saya dan mbak pijat itu berpikir yang sama: manusia menggosipkan manusia lain dalam kepalanya. Kepada teman ini--seorang bankir dengan gaji besar, tinggal di apartemen, kemana-mana selalu diantar sopir, lulusan universitas bergengsi di London, jadi member lapangan golf dan pijat hotel mewah--berulang-ulang saya bertanya, apa sih pekerjaan kamu? Maksudku, bagaimana kamu bekerja hingga digaji begitu besar?

Sebab, saya belum pernah bekerja--suatu tindakan yang ditukar dengan uang--selain pekerjaan sekarang. Kadang-kadang saya tak merasa bekerja karena pekerjaan ini terlalu banyak bengongnya, melamunnya, setelah wawancara sana-sini, mengobrol itu-ini, merangkai dan memverifikasi informasi. Waktu saya kecil dan tak begitu paham ketika ditanya apa cita-cita: bekerja itu mengajar di depan murid atau memberi penyuluhan kepada para petani tentang bagaimana membuat tanah kian gembur. Bukan duduk di depan komputer sambil memegang dagu atau kening, lalu pulang dan mendapat uang.

Bankir kita yang suka kelakar dan omong kosong ini berseru: pikiranmu usil. Tapi ia tertawa. Katanya, kurang lebih, "Saya capek karena saya juga bekerja 10 jam sehari, tanggung jawab saya besar, sehingga saya dibayar sepadan. Saya juga pernah hidup susah. Jadi, boleh dwong, saya menikmatinya."

Saya tertawa dan saya setuju. Otak manusia memang usil. Kita suka membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Itulah kenapa para psikolog menyebut kita mahluk sosial. Dan karena itu dunia menjadi seru dan berarti.

Wednesday, June 10, 2009

DI BATAS YOGYA

DI batas Yogya, senja mulai sempurna ke arah tenggara, ketika pesawat mengendap dan hari segera jadi malam. Saya duduk di pojok ruang tunggu Adisucipto karena pesawat telat satu jam sambil membaca Tuesdays with Morrie, sebuah buku tipis memikat yang ditulis Mitch Albom, seorang kolumnis di Detroit Free Press, yang merekam hari-hari akhir bekas dosennya--meskipun kutipan dan pemikiran Morrie Schwartz tentang cinta, harapan, hidup, mati, dan pernikahan, terasa ganjil.

Di sebelah, dua orang bule duduk berpelukan. Mungkin suami-istri, mungkin pacaran. Mungkin 30 atau 35. Mungkin mereka habis liburan, mungkin mau melanjutkan kerja di Jakarta. Saya menebak yang pertama: suami-istri 35 tahun yang akan pulang sehabis pakansi. Yang perempuan menyandarkan kepala ke dada yang laki-laki. Tangan kiri laki-laki memeluk pundak perempuan, lalu menciumi kepala, kening, dan pipi.

Saya terkejut dan tak lagi konsen membaca ketika sayup-sayup saya dengar yang perempuan bertanya: "Bahagiakah kita ini, sayang?" Saya terkedut, pertanyaan semacam ini dilontarkan seorang asing di sebuah bandara yang ramai saat pesawat telat, di sebuah negeri yang tak lama mereka singgahi, sehabis berlibur. Saya terkejut betapa ini pertanyaan serius yang tak mudah dijawab. Ada "kita" dan "bahagia".

Bagaimana "bahagia" (dengan "B") bisa melebur ke dalam dua subjek yang terpisah, yang punya sikap, pandangan, perasaan, dan pikirannya sendiri. Dan "Bahagia", mahluk jenis dan dari abad berapa ia? Bahagia adalah kata paling misterius yang berhasil dirumuskan manusia. Kita tak pernah tahu mengapa kita punya perasaan ini, seperti kita tak tahu ada rasa takut pada hantu padahal kita belum pernah melihatnya. Sebab, perjuangan hidup adalah pergulatan menjadi bahagia. Bagaimana pergulatan itu terumuskan menjadi sebuah pertanyaan yang menuntut?

Saya tak mendengar laki-laki itu menjawab. Saya lihat dia melepas earphone dari telinganya, memandang lekat-lekat perempuan di dekapannya, tatapan yang menyidik: seriuskah pertanyaanmu, sayangku? Saya tak lagi mengerti apa yang mereka obrolkan. Sepertinya serius sebab pelukan mereka lepas, mimik mereka tegang. Sementara saya tak lagi konsen membaca Morrie yang sudah sampai Selasa ke-11.

Dan pertanyaan itu mengganggu betul. Saya ingat sebuah tulisan yang terpacak di sebuah restoran dekat Hotel Hyatt di Jalan Palagan, Monjali. "Kebahagian bukan tujuan, tapi..." Saya tak tahu apalagi yang menjadi tujuan hidup penulis pamflet itu. Ia sepertinya tak berhasil menemukannya. Karena ia hanya menulis bahwa bahagia hanya sebuah antara. Dari apa? Tak ada. Bukankah bahagia adalah sebuah final? Maka saya lebih senang pada tulisan di sebuah taksi yang membawa saya ke Malioboro. Momen hidup paling penting adalah bersyukur dan berbuat baik.

Seperti Morrie Schwartz, dosen sosiologi terkemuka di Universitas Brandeis, Boston. Ketika hidupnya tinggal dua tahun, ketika ALS menyerang syarafnya perlahan-lahan hingga lumpuh dari kaki hingga ujung rambut, profesor 78 tahun yang berdansa di Harvard Square setiap Rabu sore ini tahu betapa hidup menyenangkan ketika justru tak lagi punya dan bisa apa-apa. "Aku makin menikmati ketergantungan ini," katanya kepada Albom, bekas mahasiswanya yang setia, pada Selasa ke-8, ketika ia tak lagi bisa menyeka kotorannya sendiri dan perawat itu yang mengelap tinjanya.

Dengan kata lain, bahagia dalam kasus Morrie adalah suatu masa ketika ia siap kehilangan segalanya. "Hidupmu akan terasa lebih indah," katanya, "ketika kamu mengerti bahwa kamu akan mati besok. Dan ketika kau siap dengan kematian, kau akan mensyukuri hidup." Pada perempuan bule itu, ia mempertanyakan kebahagiaan justru ketika ia sedang memiliki lelakinya. Karena itu pertanyaan semacam ini mengesankan bahwa ia tak bahagia ketika ia takut kehilangan. Sikap ketergantungan yang agak berbahaya, sebetulnya. Sebab di dunia, memiliki adalah sebuah kefanaan yang pasti. Sebab hidup bukan lagi sebuah syukur yang tulus.

Tentu saja, saya hanya bisa menebak apa gerangan yang terjadi dalam hubungan dua orang asing itu. Mungkin hubungan mereka sedang kritis sehingga butuh berlibur berdua yang sayangnya tak memulihkan keadaan, mungkin hanya pertanyaan iseng, atau sekadar bumbu dalam percintaan. Saya ingin menyodorkan sebuah kutipan Morrie yang ganjil tentang sebuah hubungan pada pagina 93. "Jika kau ingin tahu bagaimana mencintai dan punya ikatan mendalam dengan pasanganmu, kalian harus punya anak." Tapi, sebelum kepala saya penuh menebak-nebak, sebelum pikiran saya sempurna menyanggah kutipan Morrie, petugas memberi tahu waktu boarding telah tiba.

Di batas Yogya, senja tak lagi kentara, ketika pesawat menderu dan hari benar-benar telah malam.

Tuesday, June 09, 2009

SEKADARNYA TENTANG ADONIS

IA datang ke kantor dan berbicara tentang puisi, agama, dan kebebasan. Adonis adalah penyair Arab paling penting saat ini. Buku puisinya Songs of Mihyar The Damamscene menjadikannya kandidat penerima hadiah Nobel tahun lalu. Ia kalah suara dari Orhan Pamuk, penulis Turki yang menulis Snow dan Istanbul dengan memikat: memadukan cerita politik dengan misteri dan percintaan yang ganjil.

Adonis datang ke Jakarta, berceramah di Komunitas Salihara, dan berbicara soal ketegangan seni dan agama. Ia sendiri tak percaya Tuhan. "Saya percaya pada kebebasan, bukan Allah," katanya melalui penerjemah. Penyair kelahiran Suriah 1930 ini berbicara dalam Arab dan Prancis--tanah air kedua yang ia tinggali lebih dari 30 tahun, setelah eksil karena keberpihakan politiknya yang sosialis. Adonis sempat mengajar di Universitas Sorbonne dan menjadi profesor sastra Arab di sana.

Meski tak percaya Tuhan ia tak menjawab pertanyaan soal apakah ia atheis. Katanya, atheis adalah istilah agama yang jelek maknanya. Karena percaya kebebasan ia tak ingin mengecam orang beragama karena mengecamnya sama saja seperti orang beragama yang mengecam para atheis. "Saya di luar agama, di luar atheis, mari kita bicara dengan bebas."

Nama aslinya Ali Ahmad Said Esber. Anak petani miskin ini menulis puisi sejak usia 13. Tiap kali mengirim puisi dengan nama Ali, redaktur koran di kota selalu menolaknya. Ia kemudian membaca cerita tentang Adonis, laki-laki tampan yang mati dimakan babi yang melahirkan orang Suriah. Ini juga nama sungai di Libanon--negeri lain yang ia tinggali cukup lama--yang berwarna merah jika musim panas. Ali kemudian menempelkan Adonis di bawah puisi-puisinya. Ajaib, redaktur koran menerima dan memuat syair-syair itu. Sejak itu nama Adonislah yang dikenal dunia untuk merujuk laki-laki kecil gondrong dengan mata menyala ini.

Yang menarik tentu saja pembahasannya soal ketegangan antara syair dan ajaran, meski bukan sesuatu yang sama sekali baru. Bagi Adonis, syair adalah teks yang melampaui dan ada setelah agama. Jika agama memberikan jawaban, syair atau seni pada umumnya mengusung pertanyaan. Karena itu agama adalah keyakinan dan kepercayaan, sesuatu yang sudah final dan selesai. Kita beragama karena agama itu menyediakan jawaban tentang Tuhan dan kebenaran. Sementara kebenara puisi tak memberikan jawaban. Kebenarannya akan terus berubah dan tak selesai.

Jika kebenaran pada agama ada di belakang teks, kebenaran puisi berada di depan teks. Pada agama, kebenaran ditemukan, pada puisi kebenaran itu dicari. Dan syair yang bagus adalah puisi yang membakar bahkan melampui keyakinan zamannya. Syair-syair Al Hallaz membakar kepercayaan manusia tentang Tuhan yang transeden dan di luar alam semesta ini. Sebab, syair-syair Hallaz justru membumikan Tuhan yang hidup dalam keyakinan dan iman--karena itu abstrak--menjadi dekat dan ada di sekitar kita.

Maka Quran adalah syair pada zamannya, abad ke-6. Ketika Quran berubah menjadi ajaran yang sakral ia selesai sebagai seni. Ia berubah menjadi ajaran dan agama. Ia memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pada zaman ketika wahyu diturunkan. Lalu tidakkah syair akan berubah juga menjadi agama jika puisi membakar dan melampui keyakinan zamannya? Adonis menjawab bahwa seni punya batas. Ia tak akan menjelma menjadi ajaran, karena seni selamanya melempar pertanyaan.

Karena itu agama bukan sumber puisi. Para penyair yang mencari bahan puisi dari agama, dalam keyakinan Adonis, akan melahirkan puisi-puisi kelas dua. Tak hanya agama, puisi yang lahir dari ideologi tertentu, bahkan dari keyakinan tertentu niscaya melahirkan puisi yang dibebani oleh keyakinan itu. Padahal puisi mencari kebenarannya sendiri. Maka seorang penyair, sebermula, selain menaklukan bahasa, adalah bebas dari segala hal ihwal. Sebab keterkekangan akan melahirkan sensor-diri sejak mula.

Saya tidak tahu bisakah kita menjadi manusia yang murni dan terlepas dari segala hal? Adonis mungkin bisa. Ia lalu mengutip sebuah puisi Ommar Khayyam:

kalau kau siksa aku karena dosaku
apa bedanya aku dengan engkau, tuhanku?

Monday, June 08, 2009

HUJAN BULAN JUNI

SAPARDI Djoko Damono pasti menulis puisi itu ketika dunia dan bumi masih normal, ketika musim tertib dan cuaca masih karib. Maka penyair ini menyebut hujan bulan Juni sebagai rintik air yang tabah, bijak, dan arif, karena ia turun membasahi tanah yang kering untuk memberi napas kepada akar pohon bunga itu. Dulu, hujan bulan Juni seperti cinta ibu yang selalu menunggu.

Kini, hujan bulan Juni adalah guruh yang sengit dan tak bisa ditebak, petir yang salah musim, rintik yang keliru waktu. Matahari tak sekadar cahaya, tapi dengus medusa yang menghisap titik embun ke langit yang tengadah lalu mengubah udara di bumi yang merekah. Hujan bulan Juni hari-hari ini seperti rindu seorang anak yang kelewat membludak.

Tuesday, June 02, 2009

SAD SONG









Sing a sad song
In a lonely place
Try to put a word in for me
It's been so long
Since I found this place
You better put in two or three
We as people, are just walking 'round
Our heads are firmly fixed in the ground
What we don't see
Well it can't be real
What we don't touch we cannot feel

Where we're living in this town
The sun is coming up and it's going down
But it's all just the same at the end of the day
And we cheat and we lie
Nobody says it's wrong
So we don't ask why
Cause it's all just the same at the end of the day
We're throwing it all away
We're throwing it all away
We're throwing it all away at the end of the day

If you need it
Something I can give
I know I'd help you if I can
If your honest and you say that you did
You know that I would give you my hand
Or a sad song
In a lonely place
I'll try to put a word in for you
Need a shoulder' well if that's the case
You know there's nothing I wouldn't do

Friday, May 29, 2009

PUISI-PUISI

SERENADE

jika engkaukah itu
yang tegak di muka pintu
katakanlah, engkau cinta
kepada kata
kepada cuaca dan gema
agar tak ada lagi duka

jika engkaukah itu
yang membawa rindu ungu
tunjukkanlah, engkau setia
kepada Usia
kepada suara yang palsa
agar tak ada lagi justa

2000

29 MEI


pada malam genting itu, perempuan
ruang menyempit dan kota jadi asing
kudengar gagak dari lorong yang hening
ini kali hari pembantaian?

tapi, tapi kaudatang dari tasik yang jauh
--seperti sebuah lagu fals tahun 80
ketika bulan utuh langit kian jenuh
menjemput kenangan yang kelak runtuh?

2008

KEPADA SIAPA


kepada siapa hujan kutitipkan
mungkin pada pagi
kepada siapa dingin kukabarkan
barangkali pada sunyi
kepada siapa sendiri kusandarkan
mungkin pada janji
kepada siapa puisi ini kunyanyikan

jika rindu tak jemujemu menghampiri

2000

KUKEMBALIKAN ENGKAU


Kukembalikan engkau pada sepi
pada gema yang pudar digubah puisi
pada purnama yang tegak sendiri
setelah kemarau sengit sebuah Juni

Jangan nangis. Sebab senja segera rimis
ketika cahaya kisut malam meningkap kabut
Adakah yang lebih sendiri
dari susut akasi musim semi?
Adakah yang paling pilu
dari keretak jarum-jarum waktu?

Maka Kuhantarkan engkau pada sunyi
setelah kita tempuh cinta yang rumit ini

1998

Thursday, May 28, 2009

PADA AKHIRNYA SENI SEPAKBOLA


BARCELONA menjadi klub terbaik Eropa dengan menjuarai Liga Champions tahun ini. Tim Joseph Guardiola itu memang layak mendapatkannya. Barcelona memainkan sepakbola sebagai sebuah seni: memadukan keindahan, kerjasama yang apik, taktik yang jitu. Manchester United yang menjadi lawannya praktis hanya bisa menyerang di 10 menit pertama. Kampiun Liga Inggris itu tak bisa membalas dua gol yang dicetak Samuel Eto'o dan Lionel Messi

90 menit sisa pertandingan menjadi milik Xavi Hernandez dan kawan-kawan. Barcelona hanya melakukan empat kesalahan mengoper bola dan tak satupun offside. Messi tak buru-buru ingin memasukan bola ke gawang Edwin van der Sar. Ia mengendurkan serangan dan menyurutkan tekanan jika peluang tak terbuka lebar, lalu mengalirkan bola-bola pendek di tengah, ke sayap, ke belakang, sebelum menusuk lini belakang United. Serangan mereka sama solidnya dengan pertahanan. Ketangguhan lini tengah sama bagusnya dengan kecermatan dari sayap.

Meski tiga bek utama Barcelona tak main karena cedera dan dihukum kartu merah, tak satupun kesalahan yang dibuat Puyol, Pique, dan Toure. Juara Liga Spanyol itu, sekali lagi, memainkan sepakbola indah bahwa pertahanan terbaik adalah dengan menyerang dan ketajaman serangan dibangun oleh kerja keras dari lini bawah. Dua gol mereka tak didapat dari serangan balik atau tendangan bebas.

Sebaliknya, satu-satunya peluang United hanya terjadi ketika Cristiano Ronaldo menendang bola mati sejauh 28 meter dari gawang Victor Valdes di menit ke-5. Selebihnya mereka grogi bermain. Ronaldo tak lagi mendapat peluang enak menendang bola. Rooney kerap tak diberi umpan bagus, Anderson sering salah mengoper, Park-Ji Sung kelihatan demam panggung, Ryan Giggs juga tak berkutik. United pun gagal menjadi klub pertama yang mempertahankan juara liga paling bergengsi di dunia itu.

Barcelona layak mendapat trofi dan gengsi itu. Mereka telah menyajikan sebuah drama ketika menundukkan Chelsea di semifinal. Bermain dengan sepuluh pemain ketika mereka kalah 0-1 justru--dengan kesabaran dan keuletan--mereka bisa membalas gol itu di menit-menit akhir. Di stadion Olympico Roma itu mereka seolah-olah hanya tinggal memanggul trofi itu saja. United sudah kalah jauh sebelum peluit ditiup.

Dan begitulah sepakbola. Olahraga ini diciptakan sebermula memang untuk keindahan. Tentara Cina dan Jepang memainkan olahraga ini tahun 5.000 sebelum masehi untuk memahirkan kungfu dan tontonan yang menghibur. Eropa mencuri dan mengadopsinya justru dengan sejarah kelam kekerasan. Kebrutalan itu kini telah sirna dari lapangan dan pindah ke luar stadion: kekerasan justru dilakukan oleh para penonton.

Tak heran jika sepakbola mendapat perhatian serius para pemikir. Albert Camus merasa berutang budi kepada olahraga ini karena, katanya, mempertontonkan soal moral dan tanggung jawab. Pada akhirnya sepak bola, kata Milan Kundera, adalah panggung teater terbesar yang menyajikan drama, moral, sejarah, peradaban manusia, sepanjang 2 x 45 menit.

Wednesday, May 27, 2009

LAGU ANAK


ANAK-anak sekarang tak tumbuh dengan lagu-lagu tentang sawah yang hijau, gunung yang rimbun, laut, atau senja yang ceria, tentang liburan ke rumah kakek lalu main lumpur dan menggembala kerbau. Kini lagu-lagu mereka tentang cinta dan patah hati. Anak saya menolak menyanyikan lagu Tasya dan lebih hapal lagu-lagu Peterpan atau Derby Romero, atau ST12, atau Hijau Daun.

Saya yang tak rajin menonton televisi tercengang-cengang setiap dia menyanyikan lagu yang belum pernah saya dengar. Saya memelototi tivi untuk tahu syair dan nada lagu itu jika hari libur. Tapi gagal. Lagu itu belum masuk televisi, baru diputar di stasiun-stasiun radio. Dan Mikail menyerapnya dari angkutan kota yang mempopulerkan lagu lebih dulu ketimbang televisi.

Tentu saja dia tak mengerti apa yang dia nyanyikan. Berbeda dengan puisi, kekuatan sebuah lagu tak terletak pada syairnya. Asosiasi dan harmonisasi bunyi itulah yang lebih dulu merasuk ke bawah sadar kita. Toh kita bisa menikmati sebuah lagu berbahasa Inggris atau Spanyol tanpa harus mengerti apa sebenarnya yang diucapkan penyanyinya. Pada sebuah lagu, kenangan tak tersimpan pada kata dan kalimatnya.

Dan syair lagu tak menuntut keteraturan logika. Syair lagu Sakura itu sungguh tak bisa dimengerti tanpa dinyanyikan. Karena itu, betapapun syair sebuah lagu berantakan secara tata bahasa ia tak mempengaruhi cara bertutur kita.

Barangkali karena itu saya tak terlalu cemas. Anak-anak menyukai bernyanyi. Otaknya jauh lebih gampang menyerap hal ihwal yang tersampaikan dengan nada. Mikail jauh lebih cepat menghapal bilangan 1-10 dalam bahasa Inggris dengan menyanyikannya mengikuti jingle film kartun-kereta Thomas and Friends, ketimbang mengingat bahwa enam itu dilafalkan "six".

Dan zamannya mungkin memang sudah lain. Lagu-lagu agraris yang memuja alam dan hidup ala Hindia Molek sudah selesai. Generasi sekarang adalah generasi yang tak lahir dengan cerita tentang liburan ke kampung. Dan kampung tak lagi melahirkan para petani, melainkan pedagang dan orang kantoran. Urbanisasi (sekaligus ruralisasi) telah memangkas satu generasi yang lebih dekat ke alam industri. Dan ini zaman Internet ketika patah cinta diumumkan di blog dan status Facebook. Saya baru mengetik di laptop ketika umur 20, Mikail sejak 2 tahun sudah leha-leha nonton video tentang truk di You Tube.

Setiap anak, setiap orang, punya romantisme dan kenangannya sendiri.

Tuesday, May 26, 2009

KEMATIAN-KEMATIAN YANG MENGERIKAN

KEMATIAN kini tersaji kian brutal. Seorang bocah empat tahun mati tersiram kuah bakso mendidih dari gerobak ibunya ketika sepasukan pamong praja menghardik para pedagang di Jalan Boulevard, Surabaya. Siti Khoiyaroh, bocah itu, tewas setelah dirawat empat hari di rumah sakit.

Di Tangerang, seorang pelacur meninggal karena ketakutan ditangkap polisi sipil lalu menceburkan diri ke sungai. Alih-alih menolong, para polisi itu ramai-ramai merajam tubuh Fifi Ahyani, 42 tahun, yang megap-megap tergulung arus. Fifi tewas dan tubuhnya ditemukan esoknya.

Saya bisa bayangkan ketakutan itu. Suatu Ahad pagi di Monas, ketika orang-orang bersepatu Nike terengah berlari, para pedagang terengah karena semobil petugas dengan wajah mengeras datang merazia. Di depan saya, seorang ibu yang panik menabrakan gerobak dagangannya kepada dua pembeli yang belum sempat memberinya uang. Ia terbirit menyeret gerobak itu, meninggalkan anak bayinya yang menjerit ketakutan.

Kita pun pasti ingat Sukardal, dari tahun 1980, yang menggantung diri karena petugas tibum merampas becaknya. Kekerasan itu, kekerasan itu ternyata tak putus-putus. Mereka terbunuh dengan rasa takut yang kalut. Mungkin juga rasa marah yang tertahan. Sebelum mati, Sukardal menulis makian dengan darah di tembok rumahnya.

Bagi Ibu Siti, untuk Fifi Ahyani, buat Sukardal, dorongan bakso, menjual selangkangan, dan becak adalah hidup, alat mereka menyongsong hari esok. Dari bakso dan mengayuh pedal itulah harapan untuk masa depan anak-anak mereka tumbuh. Dan harapan itu dibunuh oleh mereka yang mewakili negara, yang hidupnya kita tanggung dengan pajak yang kita bayar.

Tapi mengeluh seperti ini rasanya sudah terdengar klise. Kita sudah sama tahu negara tak pernah peduli kepada kita. Negara sudah lama absen menjamin hari esok yang menjanjikan. Mungkin orang-orang seperti Siti dan Fifi dan para pedagang di Monas atau Sukardal salah, atas nama peraturan, ketertiban dan kebersihan kota. Tapi kenapa harus dengan cara brutal itu mereka diburu. Dan untuk siapa ketertiban dan kebersihan itu sebenarnya?

Di Solo, walikotanya tak bosan-bosan membujuk para pedagang kaki lima agar mau diatur dan ditata. Ia undang mereka sarapan di rumahnya, ia datangi mereka di tempat mangkal, seraya terus membujuk bahwa lokalisir tempat kuliner itu baik buat mereka juga. Baru pada pertemuan ke-59, para pedagang itu setuju dengan ide Pak Walikota. Tak ada kekerasan, tak ada yang mati dengan rasa takut yang akut.

Hidup memang bukan sebaris headline, tapi dari kematian dan kejadian macam itulah kita menempuh dan mengisikan makna ke dalamnya.