Wednesday, April 30, 2008

SURAT SEORANG YANG DIAMPUTASI PARU-PARUNYA

Menjadi wartawan rupanya ada gunanya juga. Seorang ibu dari Deli mengirim surat kepada seorang teman. Ia berterima kasih kepada teman itu karena telah menulis sebuah laporan yang membuat hidupnya kembali bergairah.

Syahdan, paru-paru kiri ibu dua anak ini membusuk, sejak kecil. Ia sudah muntah darah, dan tak ada cara lain kecuali organ busuk itu dibuang. Biaya amputasi Rp 70 juta, biaya yang tak mudah bagi seorang asisten apoteker di Medan. Lalu ia membaca laporan itu tentang seorang bapak yang rahangnya membusuk karena sebuah tumor ganas bersarang di dagunya.

Bapak itu sembuh setelah ditolong sejumlah dokter yang berpraktek di kapal Mercy, kapal perang Amerika yang luasnya tiga kali lapangan sepak bola. Para dokter membuang rahang itu dan menggantinya dengan tulang rusuk. Bapak itu kini bisa meneruskan hidupnya dengan nyaman: bisa kembali makan, minum, dan berbicara.

Selesai membaca laporan tiga halaman di majalah Tempo itu, ibu dari Deli ini berdoa, agar Tuhan mendekatkan kapal itu yang sudah pergi dari laut di sekitar Aceh itu, setelah tsunami menghantam di akhir 2004. Dan gempa hebat masih mengguncang dataran Sumatera. Mercy harus mundur untuk merawat kembali korban mala dahsyat itu. Ibu Deli itu lalu ke sana, paru-parunya diamputasi, dan ia kini mengaku lebih optimistis menjalani hidup.

Di akhir suratnya, ia menulis begini: "...teruslah menulis, dan bersemangat, karena anda tidak tahu kebaikan kecil bisa berharga bagi orang lain..."

Tuesday, April 29, 2008

SEORANG TEMAN YANG GUSAR

"Untuk apa sebetulnya kita susah-susah menulis ini," seorang kawan menyerbu dengan pertanyaan itu sambil membolak-balik sekumpulan tulisan investigatif. Ia, mungkin, sejenis banyak kawan Anda juga yang geram dengan keadaan. Setiap hari ia membaca pelbagai berita penangkapan koruptor, setiap pekan ada saja maling yang dicokok, setiap bulan sebuah tulisan investigatif--yang mengulik hingga tuntas sebuah kasus--muncul, toh makin banyak saja orang yang korupsi. Buktinya, berita-berita semacam itu kian meruyak.

Ia pernah menjadi bagian dari sebuah tim investigasi sebuah majalah. Ia tahu betapa tak mudahnya menulis kasus-kasus dengan dalam. Perlu energi ekstra dibanding liputan biasa. Butuh kejelian, data yang cukup, kerja lebih keras, dan kadang-kadang nekad. Lalu keadaan pun tak berubah: korupsi dan penyelewengan, juga persekongkolan, kian menggila.

Saya tak bisa menjawab, meski saya merasakan apa yang ia rasakan. Mungkin karena sepenanggungan itu, saya tak bisa menjawab atau sekadar menanggapi. Tadinya, saya ingin menimpali begini, pernyataan yang sering diulang-ulang oleh para ahli jurnalistik: bahwa media tak bertanggung jawab terhadap perubahan dari kebobrokan yang mereka tulis. Perubahan itu tanggung jawab mereka yang hidup dari pajak kita, para pejabat itu. Wartawan hanya membuka kebobrokan itu, tak perlu ikut repot memikirkan dan mencari solusinya.

Saya merasa, kini, jawaban seperti itu sama frustrasinya dengan orang-orang seperti teman saya itu. Kita menulis, lalu menunggu perubahan. Kita menulis, lalu pasrah, dan tahu tulisan semacam itu akan segera dilupakan. Barangkali jawaban frutrasi semacam itu hanya bisa dilontrakan di "zaman normal", di sebuah peradaban, bukan zaman ndableg seperti sekarang ini.

Sebab di Amerika sono, ketika wartawan Washington Post menulis kebobrokan layanan rumah sakit tentara (lalu menggondol Pulitzer yang prestisius itu), semua jadi sibuk. Kepala rumah sakit diganti, semua perawat disingkirkan, presiden memerintahkan--secara terbuka--reformasi di rumah sakit itu.

Saya baca laporan berita itu, ah, rasanya jauh lebih sederhana dibanding liputan-liputan wartawan di sini. Tulisan itu hanya "menemukan" penderitaan para tentara yang terluka di medan perang Irak atau Afganistan, lalu menyiarkannya. Di sini, laporan investigasi ditulis hingga ketemu "para tersangkanya" mereka yang bersekongkol menilap duit-duit kita, modal sosial kita untuk menikmati hidup lebih baik. Toh, keadaan tak berubah juga, termasuk pejabat-pejabatnya, termasuk maling-malingnya.

Tapi, agak muluk juga seorang wartawan bekerja mengharapkan perubahan semacam itu. Tugas kami memang cuma sebatas itu. Tak lebih. Meliput, menuliskan, lalu menyiarkan. Titik. Selesai sampai di sini. Sebab, kami tidak tahu adakah mereka yang punya kekuasaan itu membaca berita tentang mereka.

Mungkin membaca. Sebab, mereka ini kemudian ikut mengumpat keadaan juga, lalu berapi-api menyodorkan sebuah solusi. "Kuncinya, memang hukum harus ditegakkan," kata seorang pejabat, yang lama hidup di luar negeri yang tertib dan punya sistem hukum yang rapi dan kuat, mencapai doktor dari universitas terkemuka, kemejanya licin, dan rambutnya mengkilap pomade.

Lalu ia bercerita soal ketertiban di negara yang pernah ia tinggali itu. Semuanya bagus, semuanya bikin iri, semuanya menawarkan surga-dunia. Ia pun minta dikutip untuk satu-dua pernyataan, beberapa solusi yang ia tawarkan, dua-tiga patah petuah dan luapan kejengkelan, lalu menyodorkan amplop. "Sekadar untuk bensin," katanya.

Barangkali, ini sebuah cerita yang sudah jadi umum di sini. Tapi, saya kian tahu, kenapa teman saya itu begitu gusar.

Saturday, April 19, 2008

RUMUS TEPAT WAKTU

Kita seringkali lebih menghargai orang yang terlambat dibanding yang tepat waktu.
Di masjid-masjid, orang lebih mementingkan salat sunah dibanding salat wajibnya. Setelah semua selesai sunahpun, salat wajib kadang belum dimulai juga karena ada seseorang yang biasa jadi imam belum datang. Celakanya, sang imam itupun begitu datang masih sempat-sempatnya salat sunah. Padahal, ada ayat yang memerintahkan agar orang Islam segera salat begitu waktunya tiba.
Dalam undangan-undangan, saya sering menjumpai acara dimulai pukul 09.00 WIB. Prakteknya, acara baru mulai pukul 10.00 WIB. Itupun jika semua sudah datang. Jika ada satu undangan saja yang belum datang--apalagi orang penting--pembawa acara akan mengumumkan kita harus sabar menunggu kira-kira setengah jam lagi.

Teman saya juga melakukan hal yang sama. Tujuannya justru agar semua orang tepat waktu. Ia menulis pukul 15.00 WIB untuk jadwal keberangkatan bus pukul 16.00 WIB. Celakanya, dia sudah mengumumkan jadwal keberangkatan pukul 16.00 WIB itu sebelumnya. Maka sia-sialah upayanya. Besoknya, bus tetap berangkat pukul 17.00 WIB.

Jurus teman saya itu kini sudah jadi jurus yang umum. Sebagian kita (barangkali) baru berangkat pukul 19.00 untuk undangan pukul 19.00. Sebagian kita menduga bakal ada orang lain yang telat dari jadwal itu.

Akhirnya, semua saling menunggu, semua saling menyangka setiap orang akan telat. Kita berangkat telat agar begitu datang acara bisa langsung dimulai. Sebab, menunggu adalah pekerjaan paling menjengkelkan, meski kita tahu keterlambatan kita menyebabkan orang lain menunggu juga.

Ini hanya soal faktor tabiat, belum memasukkan variabel macet. Bagi orang Jakarta yang menghabiskan dua jam umurnya di jalan, menghadiri sebuah acara harus mengalokasikan waktu untuk menempuh macet.

Jika macet kira-kira dua jam, semestinya kita berangkat tiga jam sebelum acara dimulai. Nah, setelah ditambahkan unsur "malas menunggu" tadi itu, jadinya kita baru menuju tempat acara satu jam sebelum dimulai. Kita mengalokasikan telat sekitar satu jam.

Maka di Jakarta, alasan terhadang macet adalah alasan yang wajar dan tak akan ada yang diprotes. Kita sudah sama saling maklum soal rumus tepat waktu yang merupakan penjumlahan dari durasi macet + malas menunggu itu.

Friday, April 04, 2008

JAKARTA



Ada juga orang Jepang yang menyalip di antrian masuk subway. Waktu itu, akhir Maret yang masih dingin, stasiun kereta Kyoto sibuk sekali di pagi hari. Orang-orang berlari karena jadwal keberangkatan tak bisa dicegah.

Saya yang membawa dua koper lumayan berat mengantri menunggu kereta ke bandara Osaka datang. Dari belakang, seorang (mungkin) nenek, menerabas barisan ketika pintu kereta terbuka lima menit kemudian.

Ia mendesak punggung saya hingga mepet ke daun pintu dan terjepit dengan penumpang di depan yang belum menjejakkan semua kaki di gerbong. Nenek itu buru-buru mencari kursi di dekat sambungan gerbong, dengan empat teman lainnya--yang semuanya memakai gigi perak. Saya berdiri dekat pintu bertelekan koper-koper.

Saya sudah lupa kelakukan empat nenek riang itu, ketika kaki menginjak lantai bandara Cengkareng. Pintu terbuka, udara gerah Jakarta menyapa. Para penjemput membentangkan nama-nama penumpang yang mereka nanti di pintu lorong pesawat. Astaga. Mereka berlari begitu jemputannya kelihatan: membawakan koper, menyalami, menyapa--itu jauh, jauh sekali, dari pintu imigrasi. Kok bisa? Ini sudah Jakarta--sebuah kota yang penuh deru campur debu.

Menuju meja imigrasi orang berlomba, saling mendahului, ambil posisi. Mengantri koper orang menyalip, tak peduli ada anak kecil kejepit. Mereka mungkin buru-buru, menyesuaikan dengan irama kota yang serba tergesa, entah untuk apa. Mungkin mencari udara terbuka untuk segera bisa merokok.

Dan di kantor pos, lima hari kemudian, orang juga saling menyalip menyodorkan bungkusan dan amplop kepada petugas, yang sibuk dan tak peduli dengan antrian. Seperti seseorang yang mengirimkan foto untuk "Harian Aceh Independen" itu.

Ia datang dengan sebuah amplop lebar, lalu--dengan menerobos lengan saya--melemparkannnya ke timbangan. Saya meliriknya, dan dia pura-pura tak melihat apapun. Petugas itu pun memeriksa berat amplopnya, dan mengesampingkan amplop saya untuk KPP Bandar Lampung itu, yang kecil dan putih itu.

Seharusnya, saya tak jetleg lagi.