Friday, April 11, 2003

DI ATAS KERETA REL LISTRIK




Semua bisa terjadi di atas gerbong kereta rel listrik. Konon di sana rakyat hadir seutuh dan sebenar-benarnya. Ada bau pesing keringat, ada penjambret, penodong, penipu, orang kantoran, orang setengah kantoran, orang berbaju rapi, orang berbaju kucel, dll.

Segala jenis kegiatan rakyat juga ada di atas gerbong kereta Bogor-Jakarta. Suatu sore, saat pulang kerja dan naik dari stasiun Pasar Minggu, saya dipalak seorang pemuda. Kereta lagi penuh-penuhnya. Orang berjubel, menahan napas, dan kaki pegal. Karena terus tergeser oleh penumpang yang naik dan turun, saya terdampar di dekat pintu sambungan gerbong. Saya bersandar sambil mendekap tas, yang isinya cuma sweeter, tape perekam, dan beberapa catatan nomor
telepon.

Di sebelah, dua anak muda duduk bersila di lantai gerbong sambil ngobrol. Tapi, yang seseorang lagi tampaknya malas meladeni omongan si teman yang satunya, yang setelah dicuri dengar, tak jelas apa tema pokok omongannya. Hingga ke Depok Baru, belum juga ada penumpang duduk yang turun. Saya masih berdiri. Saat kereta mendekat ke stasiun Depok Lama, anak muda yang ogah-ogahan ngobrol berdiri. Dia pamit akan turun dan berjalan menyelendap mendekat ke pintu.
Si anak muda satunya juga berdiri dan melambai. "Oke, jek," katanya.

Dia bertubuh kurus. Pakai kemeja lengan pendek bergaris. Rambutnya ikal agak gondrong. Pipinya agak cekung dengan jerawat kecil dan besar di sana-sini. Celana jins-nya agak melorot. Dia hanya pakai sendal jepit. Celingak-celinguk sebentar, lalu mendoyongkan wajah ke seseorang bapak yang duduk di sebelahnya. Rupanya dia menanyakan jam. Si bapak memalingkan muka usai menunjukan jam tangannya. Dia, kini tak bisa lagi memejamkan mata karena si anak muda terus bertaya hal-hal yang remeh temeh, hingga akhirnya, saya dengar bisikannya. "Ayo dong, Pak, saya sudah tak punya uang, beri saya seribu saja. Jangan sampai saya pakai kekerasan," katanya.

Tetangga duduk si bapak yang mendengar rengekan diakhiri ancaman itu saling pandang. Orang-orang mulai gelisah. Ibu-ibu memasang wajah takut. Saya diam saja. Si bapak tak kuat juga. Ia akhirnya merogoh saku dan memberi uang seribu. Si anak muda kini berpaling ke saya. Mula-mula ia basa-basi nanya "Abis pulang kerja, Mas?" Saya diam saja. Saya tahu, saya akan jadi korban palakan berikutnya. Karena pertanyaannya selalu tak dijawab, dia mengeluarkan jurus terakhirnya. "Berapa temen lu di sini? Temen gue ada sepuluh," ia mengancam. Saya mendelik. "Temen gue ada di setiap
pintu," saya balik menggertak.

Dia terus bertanya saya orang mana, kerja di mana, dan pertanyaan menelisik lainnya. Saya lirik mata setiap orang. Bapak-bapak di samping saya memalingkan muka, yang lainnya merem. Jangkrik! Dia terus mendesak agar saya mengeluarkan duit. Saya lirik kiri-kanan, menghitung orang yang disebut temannya. Tak ada anak muda sebaya yang bergelagat mengincar saya. Saya bersiap jika dia menjambak kerah baju atau memukul. Saya pikir, ini harus dilawan.

Kereta mendekat ke stasiun Bojong Gede. Dia terus merangsek. Saya diam saja. "Puih, tai luh!" Ia mengalah, berjengkat ke dekat pintu, dan loncat ke luar gerbong. Orang-orang kini memandang saya. "Dikasih berapa, Mas," seorang ibu bertanya. Dia tadi gemetar di bangkunya. Saya hanya mengangguk: lega juga. Orang kini menggerutu, mengumpat kelakuan anak muda tadi.

Di atas gerbong semua hal bisa terjadi. Setiap sore, yaitu setelah jam kerja usai, gerbong selalu penuh sesak. Itu saat yang pas, bagi setiap lelaki untuk menyalurkan hasrat seksnya. Seorang teman (perempuan) pulang dengan muka ditekuk. Ia baru saja "digagahi" di atas gerbong.

Dalam keadaan tak bisa bergerak karena terhimpit penumpang lain, menahan pegal, waspada dari pencopet, dan kesimbangan, ia merasa ada yang bergerak di bokongnya. Tangan kanannya berpegangan pada besi. Tangan kiri mendekap tas. Di depan, seorang bapak pura-pura tidur. Setiap kali kereta berhenti atau mulai berjalan, tubuhnya doyong ke kiri, atau terdorong oleh pernumpang di sebelahnya.

Saat turun di Bogor, ia toleh seseorang di belakang. Seseorang bapak berkemeja hijau. Si bapak turun tergesa. Teman saya baru sadar, setelah ia meraba celana belakangnya. Ada cairan lengket di sana yang sudah menyerap ke dalam pori-pori kain. Sesampai di rumah, ia menjerit, besoknya ia bercerita dengan berapi-api, jengkel, dan marah.

Seorang teman lain bercerita, seorang anak muda yang lain tercekat di sudut gerbong. Membuka risletingnya, dan mengeluarkan spermanya di sana. Ia baru saja menyentuh dan menggesek bokong dan dada mahasiswi-mahasiswi yang naik dan turun gerbong dengan tergesa.

Di atas gerbong, semua bisa terjadi. Dalam sebuah cerpen yang judulnya sama dengan tulisan ini, Hamsad Rangkuti merekam kesadisan anak sekolah yang membunuh anak sekolah lain dalam gerbong kereta. Di atas gerbong juga terjadi korupsi. Masinis tersenyum jika mendapat sogok dari penumpang yang tak beli tiket, tentu saja dengan uang yang jauh lebih kecil dibanding harga tiket sebenarnya.
Post a Comment