Friday, July 16, 2004

KISAH PEMIJAT BUTA

Lampung Post, 16 Juli 2004


PEMIJAT buta selalu lewat di depan rumah saya, setiap pukul delapan kurang lima menit. Selalu saja tepat waktu. Kami sudah tahu dia datang sejak masuk jalan komplek perumahan. Tongkat besinya yang ia ketuk-ketukan untuk menuntun arah jalannya menjadi penanda pemijat buta telah tiba.

Perkenalan saya dengannya terjadi pada suatu malam ketika badan ini pegal-pegal sehabis jalan-jalan ke kebun teh di Puncak. Kantor saya punya acara tahunan yang digelar di luar kota. Saya yang tak pernah jalan jauh harus menanggung akibatnya dengan merasakan remuk di seluruh sendi. Ditambah lagi tujuh jam terguncang dalam perjalanan Jakarta-Bandar Lampung. Sudah dua tahun ini saya tergabung dalam klab PJKA alias "Pulang Jumat Kembali Ahad". Setiap Jumat saya pulang dari Jakarta menengok istri yang kerja di Tanjung Karang dan kembali ke Jakarta lagi pada ahad malam.

Atas saran istri, saya setuju memanggil pemijat buta itu.

Saat dipijat itu, saya tahu umurnya baru 26 tapi dengan raut yang saya pikir sudah 40. Ia bahkan belum menikah. "Mungkin saya tidak akan menikah, Pak," katanya. Suaranya keras tapi dengan intonasi merendah. Ada nada putus asa. "Belum ketemu jodoh saja," kata saya. Menghibur. Ia tersenyum.

Ia mulai memijat kaki saya. Pijatannya keras hingga saya meringis dan meronta. Baru kali itu saya dipijat. Dan dia tahu kalau saya tidak pernah dipijat. Urat-urat Bapak masih kaku, katanya. Aku mengiyakan sambil menahan kesakitan.

Pijatannya detail. Setiap sendi ia raba, setiap otot dia pijat, pelan-pelan dengan tekanan tertentu sehingga urat-urat yang tadinya keras kini mengendur. Ia berpindah dari kaki kiri ke kanan dan memijat dengan detail dan tempat yang sama. Memijat, katanya, harus dimulai dari kaki kiri karena dari sana darah terpompa menuju jantung. Saya tidak tahu benarkah pendapatnya itu.

Ia mengaku baru enam bulan jadi pemijat. Saya terkejut, ternyata ia tidak buta sejak lahir. Ia baru kehilangan biji matanya pada usia 20.

"Saya sudah tahu rupa gadis cantik, Pak," katanya, terkekeh. Saya tertegun. Betapa tersiksanya dia, dunia yang terang berubah jadi gelap. Jika buta sejak lahir mungkin tak seberat itu penderitaannya. Tapi karena itulah dia jadi terlatih melihat dengan telinga, meraba dengan rasa. Nalurinya bekerja untuk menangkap dunia di sekelilingnya.

Dan inilah ceritanya, sepanjang memijat itu. Barangkali sejenis perkenalan untuk menggaet pelanggan bagi orang pertama seperti saya. Dari caranya bicara ia memang orang yang menyenangkan.

***

DIA selalu datang tepat waktu. Jam delapan kurang lima. Kalau saya belum sampai jam segitu, katanya, berarti saya tak keliling. Gampang sekali. Ia memang sudah jadi weker yang lebih tepat dibanding jam dinding di rumah-rumah kami. Ia selalu tepat tanpa punya jam di rumahnya. Dia juga tahu ketukan besi siapa di kejauhan sana. Ada beberapa pemijat di komplek sini. Dan setiap pemijat punya ketukan besi sendiri-sendiri, meski, menurut pendengaran saya, suaranya sama saja. Tapi ia menunjukan bahwa ketukan besinya teratur dengan pola 1-2-1. Sementara pemijat lain 2-1-2 atau 2-2-1 dan kombinasi dari tiga ketukan itu.

Semalam, kalau ada pasien--ini istilahnya bagi orang yang ia pijat--ia bisa memijat dua orang hingga tengah malam. Rata-rata satu orang dipijat dalam waktu satu-dua jam. Tergantung bentuk badannya, katanya. Kalau bapak yang sedang ini tangan saya masih cukup memegangnya. Tapi kalau yang gempal, saya suka capai sendiri sementara pasien saya belum puas juga. Ada pasien saya di ujung jalan sini yang belum bisa saya taklukan. Tentu saja yang ia maksud adalah Pak Maksum. Ia memang bertubuh gempal. Gendut dan liat. Pak Maksum rupanya menjadi langganan pemijat buta ini. Tapi dia hanya mau dipijat kepala dan pundak saja.

Ia tak pernah menyebut tarif. Tapi orang-orang seperti sepakat memberinya dua puluh ribu perak sekali pijat. Saya kira itu setimpal dengan keringat yang dikeluarkannya, juga modal membeli sebotol hand body lotion yang habis untuk lima tubuh. Ia pernah bangga karena ada orang dari Jakarta yang ia pijat dan memberinya uang lima puluh ribu. Karena setelah itu ia tak memijat dua malam.

Dulu saya tidak buta, katanya. Saya tumbuh normal seperti anak-anak yang lain. Bapak pasti tahu apa pekerjaan anak-anak kampung di seberang sana. Yang katanya suka mencuri jambu air punya orang komplek sini. Terus terang saja, Pak, saya salah satu pencurinya. Mohon maaf--

"Ah, nggak apa-apa. Namanya juga anak kecil."

Begitulah, Pak. Saya senang jadi anak kecil. Sebab anak kecil bisa bebas berlari dan mencuri. Bagi kami mencuri adalah keharusan karena kami tak pernah mengenal uang jajan. Bapak saya hanya buruh angkut di pasar. Sementara ibu saya jualan daun. Kami punya sepetak tanah yang ditanami pisang. Ibu saya menjual daun-daun itu, kadang juga pisangnya. Saya heran juga, orang-orang kaya sebegitu malasnya, hingga agar punya daun saja untuk bungkus harus beli. Tapi itu menguntungkan orang seperti kami. Karena daun tak kami beli, tapi bisa kami jual. Saya juga pasti jadi buruh angkut kalau sudah besar. Maka bapak menyuruh saya membeli kambing selepas khitan. Kata bapak, pasar bukan tempat bagus untuk hidup. Maksudnya hidup yang wajar. Banyak uang memang dari sana bisa dikeruk tapi jiwamu akan rusak. Maka uang salam tempel itu saya belikan kambing dua ekor. Betina semua. Agar cepat berkembang biak, kata bapak.

Saya hanya sekolah sampai SD. Guru di kampung itu sebenarnya menyarankan agar saya bisa sekolah ke SMP, tapi bapak melarang karena tak punya duit. Akhirnya saya hanya mengurus kambing yang sudah terasa hasilnya. Setiap setengah tahun satu induk beranak empat atau tiga. Itu berarti pada tahun ke tiga saya sudah bisa menjual satu kembing dengan harga seratus ribu. Kalikan saja harga itu dengan enam-tujuh kambing. Kecil memang jika dihitung dari setahun penjualan. Tapi sembari mengurus kambing itu saya juga jadi buruh angkut di pasar. Bapak akhirnya tak melarang lagi karena saya tak punya pekerjaan lain dengan satu pesan "jangan pernah ikut campur urusan orang". Lagipula saya sudah besar. Otot saya sudah kuat memanggul beban.

Di pasar itulah saya mulai mengenal kehidupan pasar yang dulu diminta bapak untuk dihindari. Benar kata bapak. Pasar itu kehidupan yang keras. Ada preman, pelacur, penjudi, pemabuk. Para penjual yang baik-baik itu, harus mengikuti pada mereka yang menyebut diri penguasa pasar. Ada banyak penguasa di sana. Punya kapling sendiri-sendiri. Tak jarang juga mereka jadi kuat karena menyetor juga pada aparat keamanan. Operasi hanya sesekali saja dilakukan. Dan itupun sudah kompromi sepertinya. Karena para pentolan preman tak kunjung juga ditangkap dan dipenjara.

Di pasar itu saya kenal Brewok. Preman kapling selatan. Di pasar itu ada lima penguasa, timur, barat, tengah, selatan dan utara. Tak ada yang tahu nama asli dan asal Brewok. Katanya, dia orang Medan, kalau bukan Palembang. Dua daerah itu biasanya yang mengirim orang yang sok jago di pasar-pasar Jawa dan Sumatera. Brewok mengenalku. Dia baik meski dia suka meminta uang dengan paksa jika sedang mabuk dan butuh rokok.

Dia suka minta dipijat. Saya yang remaja ini menurut saja, karena tak punya pilihan selain mengikuti apapun keinginannya. Orang-orang bahkan sudah menganggap saya sebagai muridnya si Brewok. Agak jeri juga sebenarnya. Sebab, dengan menjadi muridnya, berarti saya sudah menabung musuh kelak kemudian hari. Para penguasa pasar dan terminal sini pasti akan mengincar saya untuk berhadapan dan duel memperebutkan daerah kekuasaan.

Tapi peristiwa itu datang lebih cepat. Codet, penguasa timur--orang Madura yang ada bekas luka samurai di pipi kanannya, konon luka itu ia dapat usai berduel dengan jago pasar di Surabaya tapi ia kalah--mendatangi kami pada suatu malam. Ia tak terima daerahnya sedikit-demi-sedikit digerogoti Brewok. Ia menuntut perhitungan karena sudah banyak pedagang yang tadinya berada di bawah kekuasaannya kini sudah menyetor uang bulanan ke Brewok. Codet marah besar dan memukuli para penjual di pasar timur itu.

Brewok beralasan bukan kehendaknya jika para pedagang itu menyetor uang keamanan kepada dirinya. Para pedagang itu sendiri yang iklas membayarnya. Mereka merasa lebih aman jika berada dalam kekuasaanku, kata Brewok. Codet makin naik pitam dengan omongan Brewok seperti itu. Dua-duanya punya alasan yang sama kuat. Saya hanya menyaksikan mereka bertengkar dalam keremangan. Para penjual yang tidur di pasar dan pengemis yang mendengar pertengkaran itu terbangun tapi tak ada yang peduli. Karena ini pertengkaran yang ke sekian kali. Orang pasar paham betul, Codet dan Brewok adalah musuh bebuyutan. Mereka tak pernah akur baik soal daerah kekuasaan maupun soal kekuatan dan kesaktian. Dua-duanya selalu ingin pamer, dua-duanya selalu ingin dianggap hebat.

Akhirnya, yang dikhawatirkan itu terjadi. Mereka duel di pasar. Mula-mula tangan kosong. Dua-duanya sama kuat. Dua-duanya tahan dengan pukulan dan tendangan yang beruntun. Setengah jam perkelahian saya mulai mendengar suara aduh dan ringis dari keduanya.

Brewok akhirnya roboh lebih dulu. Untuk beberapa saat ia menelungkup di tanah pasar yang becek dan bau. Sementara Codet yang masih agak bertenaga saya lihat duduk di sampingnya. Tapi tak lama. Ia bangkit lagi lalu menghampiri tubuh Brewok yang masih telungkup.

Codet menjambak rambut dan kerah jaket Brewok yang lunglai. Satu pukulan menghantam lagi wajah Brewok hingga ia terjengkang. Saya kasihan juga melihatnya. Dalam keremangan itu saya bisa melihat darah yang muncrat dari tulang hidung yang remuk setiap kali sebuah pukulan atau tendangan sepatu Codet menghantam wajah Brewok. Muncrat berkali-kali hingga ia terkapar bersimbah darah dan peluh dan tanah becek pasar.

Codet seperti kesetanan. Ia terus menghajar tubuh yang sekarat itu. Saya terkesiap. Tiba-tiba, dalam huyung dan limbung, Codet mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Lalu ia mengangkat benda yang baru dicabutnya itu. Saya semakin bergetar karena cahaya bulan mengabarkan benda apa yang dipegang Codet itu. Cahaya bulan memberi kilatan pada bilah belati yang dipegang Codet. Teracung seperti moncong kematian yang siap menerkam. Ujungnya yang runcing dan tajam seolah siap menghantarkan nyawa Brewok ke akhirat.

Lalu keadaan sunyi.

***

"BAPAK pasti masih ingat pembunuhan yang menghebohkan dulu."

"O ya ya." Saya terjaga. Sudah dua jam saya dipijat rupanya. Hampir selesai. Saya hampir tertidur dan tenggelam dalam cerita dan ritmisnya pijatan pemijat buta ini.

"Sudah mendingan?" tanyanya.

"Lumayan," kata saya sambil menggerak-gerakan leher yang pegal dan nyeri.

Ia menyuruh saya duduk karena kini bagian kepala yang akan dipijat. Ia minta maaf sebelum memegang kepala saya dan mulai menjambak-jambak rambut dan menekan-nekankan jari-jarinya ke kulit kepala saya. Enak meskipun sakit karena jambakannya.

Beberapa kali saya sendawa. Katanya, mungkin saya juga masuk angin. Tapi anginnya sudah saya keluarkan, ia menambahkan.

Dia perlu sekali lagi memijat-mijat seluruh badan saya yang telanjang sebelum menuntaskannya dengan menarik-narik jemari tangan hingga berbunyi krek-krek.

Prosesi selesai. Ia duduk di kursi dengan keringat yang masih mengucur. Dia mengelap keringat di wajah dengan ujung kausnya. Ia memilih air dingin yang disediakan istri saya di meja. Dua gelas air dingin tandas diteguknya. Dia begitu muda dengan raut yang tua karena cambang yang dikerok tak rapi. Kelopak matanya yang kopong mengedip-kedip setiap ada suara yang ia dengar baik di pintu maupun gesekan telapak kaki saya dengan ubin saat keluar masuk ruang tamu dan ruang dalam.

"Masih mau keliling?" tanya saya sambil memutar-mutar pinggang yang masing ngilu.

"Ah, saya pulang saja, Pak. Sudah malam. Masih sakit-sakit, Pak?" Dia seperti tahu.

"Iya, nih, masih ngilu."

"Ditidurkan saja, Pak. Mandi air hangat dulu sebelum tidur. Besok pasti akan segar," katanya.

Saya hanya mengangguk sambil terus memutar-mutar setiap sendi yang seperti mau copot. "Eh, ceritamu belum selesai tadi. Bagaimana nasib si Codet itu?"

"Ya, begitulah, Pak."

"Begitu bagaimana? Ah, kamu belum selesai ceritanya tadi."

"Bapak pasti tahu kejadian yang menggegerkan di pasar delapan tahun lalu."

"Wah, saya bukan orang asli sini. Istri saya mungkin tahu karena sejak kecil ia hidup di sini".

"Ada preman yang mati dengan cara mutilasi," istri saya menyahut dari ruang dalam. Rupanya ia mendengar obrolan kami.

"Ya, itu Codet yang saya ceritakan itu."

"Maksudnya yang mati itu si Codet?" Pemijat itu mengganguk. "Lho, si Brewok lalu kemana?"

"Dia pingsan rupanya. Ia kabur keesokan harinya. Sebelum orang-orang datang dan pasar mulai ramai."

"Si Codet dibunuh siapa?"

"Siapa lagi, tidak ada orang lain selain kami bertiga."

Aku terperanjat. "Jadi kamu yang membunuhnya?"

"Begitulah, Pak. Saya dihukum lima tahun, karena hanya dituduh membantu Brewok membunuh Codet. Anak buah si Codet datang memberi perhitungan dan mencongkel mata saya. Masih untung saya tidak mati."

Suaranya datar. Ia meneguk air dinginnya lagi hingga tandas. Uang yang saya taruh di dekat gelas sudah ia ambil dan dimasukan ke dalam sakunya. Saya masih tercengang dengan pengakuannya. Hingga waktu ia pamit dan berdiri, saya hampir tak mendengarnya. Ia mengulang pamitnya dan menuju pintu yang terbuka. Di sana tongkat besinya ia sandarkan sewaktu masuk tadi. Aku menuntunnya hingga gerbang.

"Besok-besok kalau pegal-pegal lagi, jangan sungkan panggil saya, Pak. Panggil saja Brewok pasti saya datang."

Saya masih tercengang dan kian tercengang.

Bandarlampung, 2004
Post a Comment