Friday, November 12, 2004

MUDIK





Bisa jadi mudik, di sini, sudah jadi rukun Islam yang keenam :-)). Lebaran tak sempurna kalau tak mudik. Sensasinya bisa mengalahkan keruwetan jalanan. Kita bisa tahan menempuh kemacetan hanya karena ingin pulang. Dan saya begitu gembira mudik kali ini.

Tapi apa arti pulang sekarang? Kalau menyebut pulang orang bisa mengartikannya pada dua soal : pulang ke rumah kontrakan sehabis kerja; dan pulang dalam konteks mudik itu. Jakarta mungkin memang ditakdirkan jadi rantau yang asing. Kita malas balik lagi setelah melewati 1 Syawal.

Apapun lah. Ini kali hari sudah tak enak. Saya sudah mencium aroma rumah yang masih terpisah 15 jam. Selamat mudik. Selamat lebaran.
Post a Comment