Thursday, January 02, 2003

MENIKAH

menikah membuat kau menyesal, tapi tak menikah membuat engkau lebih menyesal ~ socrates.

Socrates mungkin benar dalam satu hal: ia benci pernikahan yang dilembagakan. Tapi, ia juga salah dalam hal lain: mengira bumi masih kosong untuk manusia. Menyesal, kenapa tidak dari dulu, ini terjemahan seorang kawan. Bisa juga.

"Selamat datang di dunia orang-orang tersesat." Itu ucapan selamat seorang teman kepada teman yang lain ketika teman yang lain itu akan menikah. Si teman ini sudah punya anak dua. Saya tidak tahu apakah ucapan selamatnya itu tulus. Yang jelas, ia juga setuju pada Socrates.

Minggu kemarin tiga orang teman sekantor dan satu teman kuliah menikah. Minggu ini seorang teman kuliah yang lain menyusulnya. Bulan Syawal mungkin bulan baik untuk menikah, terutama karena setiap hari diguyur hujan. Jakarta yang udaranya sudah digerus polusi saja bisa mencapai 27 derajat suhunya kalau malam [Jakarta sudah dianggap dingin dengan suhu sebesar ini].

Seorang teman kantor yang sudah masuk kerja lagi terlihat kuyu: muka pucat dan ada gelang hitam di bawa matanya. Ia kurang tidur. Katanya, seminggu sebelum menikah dan sesudahnya ia sudah begadang. Saya bilang, istrimu tak rela kau tidur denganya ya? Maksudnya si istri ini memaksa si suami begadang tiap malam. Si teman hanya mesem-mesem saja.

Katanya, orang yang sudah menikah sudah lebih maju selangkah di depan kita. Kita, tentu saja, kategori orang yang masih membujang. Saya tak punya sikap dengan idiom ini. Satu langkah di depan, saya kira, terlalu jauh. Memang, Chairil Anwar saja pernah bilang, "lahir, besar, kawin, dan mati" adalah siklus hidup seseorang. Alangkah sederhananya. Saya yakin, Chairil tidak sedang meledek hidup yang satir. Karena ia pun kawin, punya anak, mati muda, dan masuk IPTI (Ikatan Penyair Takut Istri).

Teman chatingku punya anak, tapi ia tidak kawin. Ia suruh pacarnya menghamilinya, lalu dipaksa meninggalkannya. Saya tidak tahu apakah ia pengagum Socrates. Ia tak pernah menyinggung-singgung soal filsuf yang mati minum racun cemara itu. "Saya ingin punya anak, tapi tak ingin punya suami," katanya memberi alasan. Untung anaknya laki-laki.

Coba kalau perempuan. Betapa repotnya. Karena sejak ia positif hamil, semua file pacarnya itu dimusnahkan. Semua kontak dilenyapkan. Seolah pacarnya itu tak pernah lahir ke dunia, menyimpan benih manusia di rahimnya. Kelak jika anaknya menanyakan bapaknya, ia akan bilang "Bapakmu sudah meninggal." Edan! Padahal, dalam Islam, yang wajib jadi wali menikah anak perempuan, ya, bapaknya itu.

Menikah memang merepotkan. Sepanjang yang saya tahu, bapak penghulu akan bertanya siapa yang jadi wali pengantin perempuan. Jika bapaknya, ijab qobul akan lancar. Tapi jika bukan bapaknya, pertanyaan akan berlanjut, kemana bapaknya. Pertanyaan berhenti jika si bapak sudah meninggal. Tapi jika tidak, pertanyaan akan terus dan terus hingga ijab qobul tak kunjung diucapkan. Jika bapaknya tak mau jadi wali harus ada surat kuasa bagi si wali perempuan. Itu pun jika alasannya kuat, misalnya, tinggal jauh karena cerai dengan ibunya. Saya kira, ini pun alasan yang tidak terlalu berat.

Maka itu, kata Zainuddin MZ, cerai adalah perbuatan halal yang dibenci Tuhan. Maka, jangan kawin kalau mau cerai. "Jangan menikah kalau tidak mau menyesal," kata Socrates kali yang lain.
Post a Comment