Thursday, November 10, 2011

PERANG BUBAT

Gambar dari www.dreamfield.pl
SENTIMEN orang Sunda kepada orang Jawa ternyata lahir di tahun 1928, bukan tumbuh dari abad 14 setelah Prabu Linggabuana dan putrinya Dyah Pitaloka dibunuh anak buah Gajah Mada dalam perang di lapangan Bubat, utara Trowulan, ibukota Majapahit.

Sentimen itu lahir setelah C.C Berg--seorang filologis Belanda--menerbitkan disertasi yang membahas Kidung Sundayana. Ini puisi yang ditulis seorang penyair Bali memakai bahasa Bali. Penulisnya menceritakan perang Bubat dengan rasa simpati untuk Raja Sunda itu. Penulis kidung ini adalah seorang yang diminta Hayam Wuruk untuk menjadi saksi pernikahannya dengan Pitaloka.

Para sarjana Indonesia ketika itu menyambut buku Berg dengan rasa curiga. Mereka menuding Berg hendak menghancurkan Sumpah Pemuda--seperti politik pecah belah Snouck Hurgronje di Aceh--yang baru dirintis. Sebab, buku Berg menyadarkan orang Sunda bahwa kejadian di Bubat adalah peristiwa memilukan sekaligus memalukan: bagaimana seorang raja yang dengan niat baik akan menjodohkan putrinya kepada Raja Majapahit justru ditolak dan dibunuh.

Bagi orang Sunda, Gajah Mada adalah penyebab segala rusuh itu. Dia dituduh hanya berambisi mewujudkan sumpah Palapa menyatukan kerajaan di Nusantara di bawah Majapahit. Tinggal Sunda yang belum takluk ketika itu. Meminang putri raja adalah cara elegan yang tak makan ongkos banyak. Di Bubat, Mada membelokkan niat pernikahan itu dengan persembahan. Pitaloka akan dijadikan sesembahan sebagai tanda Sunda telah takluk kepada Majapahit.

Tapi Agus Aris Munandar punya tesis lain soal niat di balik peristiwa itu. Ia arkeolog Universitas Indonesia yang bersemangat, berbapak Sunda beribu Jawa. Tadi siang ia datang ke kantor karena kami undang untuk berbagi ilmu soal kisah-kisah Panji dan sejarah Majapahit yang menjadi objek studinya bertahun-tahun. Menurut dia, Gajah Mada tak bisa disalahkan dalam pertumpahan darah pada suatu malam di tahun 1357 itu.

Syahdan, menurut Carita Parahyangan yang terbit 200 tahun setelah perang Bubat, Hayam Wuruk kepincut kencatikkan Pitaloka setelah melihat sebuah lukisan yang beredar di Majapahit. Ia pun mengutus pembantunya meminang putri Sunda itu. Linggabuana setuju mengawinkan anaknya dengan penguasa Jawa itu. Dan berangkatlah rombongan kerajaan mengantarkan calon pengantin perempuan dengan kapal.

Pada zaman itu, menurut Carita Parahyangan, berkembang adat matrilineal: orang tua perempuanlah yang melamar calon-calon menantunya. Tapi adat itu kini diplesetkan menjadi sebuah ejekan bahwa perempuan Sunda matrialistis: lihatlah, rajanya saja menyodor-nyodorkan anaknya untuk dikawin Raja Besar. Seorang teman batal kawin dengan orang Sunda karena ibunya termakan mitos gak karu-karuan ini. Matrilineal kemudian memang padam setelah perang Bubat, tapi terutama karena masuknya Islam ke tatar Sunda.

Gajah Mada, seperti terekam dalam Pararaton, rupanya tak tahu perjodohan tingkat tinggi antara Raden Cakradhara-Tribuwana Wijayottunggadewi dengan adik dan ipar mereka yang menjadi Raja Kediri, Wijayarajasa-Rajadewi Maharajasa. Orang-orang tua ini mendapat bisikan Dewata bahwa kelak mereka akan punya anak laki-laki dan perempuan. Dan mereka harus menjodohkan anak-anak yang belum jadi benih ini jika tiba waktunya nanti. Tribuwana kemudian mengandung Hayam Wuruk dan Rajadewi melahirkan Indudewi atau Dewi Sekartaji.

Perjodohan diam-diam ini tentu saja terusik oleh kedatangan Pitaloka. Panji Angreni Palembang merekam ketegangan di hari-hari terakhir hidup Linggabuana. Sesungguhnya Raden Cakra memerintahkan Gajah Mada untuk memberi pilihan kepada Linggabuana: menyerahkan putrinya sebagai sesembahan atau pulang tanpa ada perkawinan. Bagi Raden Cakra dinasti Majapahit akan terputus jika perkawinan itu terlaksana karena Pitaloka akan menjadi permaisuri sementara Indudewi hanya selir.

Linggabuana tak memilih salah satu tawaran itu. Ia ngotot menikahkan anaknya kepada Hayam Wuruk dengan cara pengantin prialah yang menjemput pengantin perempuan di Bubat dan Pitaloka menjadi permaisuri. Negosiasi buntu dan Raja Cakra habis kesabaran. Seperti ditulis Poerbatjaraka dalamCerita Pandji dalam Perbandingan (1968) Cakra sendiri yang memerintahkan Brajanata (Gajah Mada) membunuh Angreni (Pitaloka) jika Panji (Wuruk) tak bersamanya lagi.

Dan Gajah Mada menghadap putri Sunda itu dengan menangis. "Aku dapat perintah membunuh tuan," katanya. "Sebab jika tuan hidup, selamanya Panji tak akan mau kawin dengan putri Kadiri." Hari itu, Panji--yang tak tahu ada ketegangan di Bubat--dipanggil ke Pucangan oleh Rajadewi dan segera akan dikawinkan. Gajah Mada mencoba menghibur dengan menawarkan strategi menyembunyikan Pitaloka lalu menyelundupkannya ke Kediri agar bisa ketemu Hayam Wuruk. Nasi sudah jadi bubur, Hayam Wuruk tak lagi bisa bersamanya karena sudah menikahi Indudewi, sepupunya sendiri.

Dengan elegen, setelah air matanya habis, Pitaloka menyilakan Gajah Mada menyudahi hidupnya. Kebotendas yang disuruh menjadi algojo menghujamkan keris ke ulu hati putri malang ini....

Setelah itu, setelah itu, konon muncul larangan para bujangan Sunda tak mengawini orang Timur, esti larangan ti kaluaran.... Larangan yang, menurut Agus, sebenarnya lahir pada 1930-an. Anda punya tesis lain?

3 Juni 2010
Post a Comment