Thursday, February 17, 2005

MEMBACAKAN PUISI



Kenapa sekarang orang ramai-ramai membaca puisi? Di panggung, di plaza, di mall. Untuk mengumpulkan sumbangan buat Aceh orang membaca puisi. Tamara Blezinsky dan selebritas lainnya membaca puisi. Apa yang bisa dinikmati dari puisi yang dibacakan? Atau cerita pendek yang dibacakan.

Pengalaman membaca adalah pengalaman pribadi. Sebuah ekstase yang dinikmati sendiri. Saya merasakan bau pantai ketika membaca Senja di Pelabuhan Kecil. Saya tak mencium bau itu ketika puisi Chairil Anwar itu dibacakan di panggung, meski ada suara angin dan debur ombak yang dihadirkan lewat kaset. Pengalaman saya mencium bau pantai adalah pengalaman pribadi saya, suatu waktu, suatu ketika. Ada cerita, ada suasana, ada kenangan dari "bau" yang saya dapatkan itu, yang, mungkin saja, tak sama dengan orang lain.

Membaca puisi, kalau tidak salah Nietszche pernah merumuskannya, sebagai sebuah stimmung. Kita bisa menikmati sebuah puisi tanpa harus tahu artinya. Kita menangkap dan menikmati sesuatu di balik kata-kata, di belakang puisi itu--sesuatu yang tak tertulis. Karena di sana, penyair sedang menuliskan, menghadirkan, pengalamannya lewat kata. Pengalaman si penyair tentang bau tanah basah belum tentu sama dengan pengalaman yang ditangkap oleh pembacanya.

Tentu saja ini pertanyaan klasik. Dulu pernah ada bahasan yang mengharu-biru soal puisi gelap dan puisi terang, puisi mimbar dan puisi kamar. Mungkin sudah kuno jika pertanyaan itu diungkit lagi. Tapi saya selalu heran kenapa orang baca puisi. Ketika sekolah dulu, saya kerap malu jika ada teman yang karena tugas guru kesenian harus maju ke muka kelas membacakan Aku. Entah kenapa, perasaan merinding karena malu itu masih saja muncul hingga kini, meskipun Sitor Situmorang atau Sapardi Djoko yang membacakannya sendiri di sana. Bukan malu seperti yang dirasakan orang ketika ketahuan kelakuan belangnya, tapi malu karena kegagalan sebuah deklamasi. Saya tak menikmati puisi yang dibacakan.

Saya mencoba menemukan jawabannya. Mungkin karena budaya lisan masih saja berlaku. Tulisan mesti dilisankan agar orang tahu. Keberaksaraan belum menjalar ke tengah komunitas yang ogah membaca. Orang lebih senang mendengarkan cerita ketimbang membaca cerita. Di Polandia, ketika komunisme runtuh orang jadi malas datang ke acara pentas puisi. Mereka beralasan, televisi, radio, dan koran telah menyodorkan kebenaran dengan lebih akurat.

Akan berbeda jika sebuah puisi dinyanyikan, seperti diistilahkan orang dengan "musikalisasi puisi". Di sana kita mendengar dan menyesap tafsir lewat musik. Ah, sudahlah, ini mungkin pikiran iseng saja. Buktinya orang ramai datang ke gedung, ke plaza untuk melihat (mendengar?) orang baca puisi.
Post a Comment