Sunday, December 18, 2005

FILSUF



Socrates, teman saya, punya petitih yang baru saja ia resapi betul dan dipertimbangkan bolak-balik. "Untuk umur saya," katanya, "saya harus lebih banyak mengerti orang lain, bukan sebaliknya." Dia memang agak telat kawin.

Saya manggut-manggut. Itu rumusan yang persis saya dapatkan juga setelah tahu rasanya kawin dan beranak-pinak. Lalu kami tertawa setelah saling diam. "Telat atau tidak telat kawin ternyata bisa bikin orang jadi filsuf." Persis Socrates. Tentu saja Socrates betulan yang dari Yunani dan bapak filsafat itu.

Frase "mengerti orang lain" ternyata dasar dan awal dari sejarah filsafat. Setidaknya ini menurut Jostein Gaarder. Siapa yang tak kenal dia?

Empat novelnya sudah diindonesiakan. Dan Dunia Sophie--novel keduanya--meledak diterjemahkan ke 42 bahasa di dunia. Novel-novel penulis Norwegia itu memang berkeinginan memperkenalkan dan merangsang minat orang pada filsafat. Menurut Gaarder, kecenderungan orang malas menjawab pertanyaan "apakah dunia ini sebuah misteri?" karena kita terlalu sibuk dengan hal-hal duniawi, dengan kerja, dengan hidup sehari-hari. Karena itu menelaah kemisteriusan dunia saja sudah malas. Atau menjawab sekadar pertanyaan, "Siapakah aku?" "Dari manakah aku berasal?"

Baiklah. Kita kembali ke frase "mengerti orang lain". Menurut Gaarder, para filsuf di awal-awal perkembangannya lebih banyak laki-laki. Itu karena para lelaki lebih merasa penting untuk dipahami. Sedangkan perempuan lebih merasa penting jika bisa memahami. Karena itu para lelaki lebih berani unjuk gigi, tampil ke muka cari perhatian, dan lahirlah ilmu-ilmu filsafat. Lihatlah Socrates, kata Gaarder. Dia berkeliling menyapa orang-orang Yunani hanya untuk mengajaknya berdiskusi tentang hal-hal sepele di sekitar sampai ia dinyatakan orang berbahaya dan mengancam "demokrasi"--sesuatu yang ia kenalkan ke khalayak--hingga tiba saatnya ia dipaksa minum racun cemara.

Karena itu frase "mengerti orang lain" jadi lebih terkesan feminim. Maka para pengerti atau para pencari jawaban pertanyaan-pertanyaan filosofis itu dikenal dengan nama kaum "sophies". Dan Gaarder memilih nama Sophie, gadis 16 tahun, sebagai tokoh utama dalam novel Dunia Sophie itu.

Saya tidak tahu bagaimana perkembangannya kini. Tapi dalam dunia sekitar kita, kita pernah mendengar penyair Sapardi Djoko Damono pernah berkata bahwa "dunia sastra Indonesia terletak di tangan perempuan" karena begitu banyak penulis-penulis muda yang muncul dari jenis kelamin ini. Dan, sepertinya, mereka "menjanjikan". Di beberapa milis yang saya ikuti, mereka yang aktif berkomentar dengan bahan bacaan yang luas dan argumentasi yang mantap memang lebih banyak perempuan. Mungkin perlu ada survei, setidaknya dari kategori umur belasan, lebih banyak mana remaja laki-laki atau perempuan yang lebih suka membaca.

Untuk kasus Socrates, teman saya, mungkin bisa jadi terbalik. Karena itulah kami tertawa. Telat kawin memang bisa bikin orang jadi suka merenung-renung.
Post a Comment