Monday, July 10, 2017

RAWA-RAWA JEPANG



JEPANG seperti rawa-rawa: menyedot habis ideologi yang datang kepadanya hingga tunas apa pun tak akan tumbuh. Shūsaku Endō membuat tamsil ini untuk melukiskan periode paling gelap sejarah Jepang yang menolak Kristus dan iman Katolik di abad 16 dalam novel Chinmoku, yang diindonesiakan menjadi Hening dari versi Inggris oleh Gramedia. Martin Scorsese mendaur-ulangnya menjadi film,dengan bintang Andrew Garfield dan Liam Neeson, yang rilis akhir tahun lalu.

Garfield berperan sebagai Sebastian Rodrigues, padri Portugal yang dikirim gerejanya untuk menyelidiki kemurtadan Christovao Ferreira. Rodrigues adalah murid Ferreira. Ia tak percaya berita yang dibawa para pelaut Inggris dan Belanda yang Protestan dengan menyebut gurunya itu telah mengkhianati imannya karena tak tahan mendapat siksaan dari para samurai.

Ia pun berlayar ditemani dua padri lain. Mengitari Afrika menuju Goa di India untuk mendarat di Makau. Perjalanan mereka kurang lebih dua tahun. Dari Makau mereka harus menyelundup memakai jung bocor karena para gubernur Jepang telah memutus hubungan dagang dan diplomatik dengan Portugal.

Tak pernah terlacak dengan jelas penyebab pemutusan itu. Gejala xenophobia mula-mula terbit pada 24 Juli 1587, ketika Shogun Hideyoshi mengusir semua padri dari tanah Jepang saat mabuk. Sejak itu, meski surat pengusiran itu dicabut beberapa hari kemudian, sejarah gelap Katolik di Jepang dimulai. Hideyoshi benar-benar menetapkan pengusiran orang Kristen dan padri sepuluh tahun kemudian karena tersinggung oleh bualan para pelaut Spanyol yang menyebut besarnya kerajaan mereka tersebab jasa-jasa para misionaris.

Sebanyak 26 orang Kristen dan padri disalibkan pada pagi dingin Februari 1597. Kini, kita bisa menemukan tugu peringatan kematian mereka di dekat stasiun Nagasaki. Padri-padri lain diburu untuk agar mereka mengingkari iman Katolik, termasuk Ferreira. Ia sudah 33 tahun tinggal di Jepang dan punya pengikut sekitar 200 ribu, 10 persen penduduk Jepang yang menganut shinto ketika itu.

Ferreira ditangkap dan ia menyerah setelah menjalani hukuman ana-tsurushi—badannya diikat hingga sedada lalu digantung terbalik dan kepala dimasukkan ke dalam lubang kotoran hingga lutut. Agar tak cepat mati, jidatnya disilet sehingga darah yang berbalik menetes pelan-pelan ke telinga dan mulutnya. Mereka yang disiksa dengan cara ini akan mendengkur sepanjang waktu menahan kesakitan, lalu mati setelah sepekan. Rekor terlama adalah seorang perempuan Jepang yang menolak mengkhianati imannya terjungkir selama 14 hari sebelum sekarat.

Ferreira hanya bertahan enam jam. Ia menyerah dan menyatakan berhenti mengimani Yesus, menginjak-injak gambar Maria, dan berkhotbah bahwa ajaran Kristus penuh kepalsuan. Untuk membuktikan aib terbesar itu, Rodrigues berlayar ke Jepang. Juan de Santa Marta sampai ke Makau karena meninggal akibat malaria. Hanya ia, yang berusia 27, dan Fransisco Garrpe yang berhasil mendarat di Tomogi, sebuah dusun miskin dekat Nagasaki.




Investigasi Rodrigues dan misinya menyebarkan ajaran Yesus secara sembunyi-sembunyi di Jepang menjadi cerita menegangkan sepanjang novel ini. Ia dibantu Kichijiro, orang Jepang yang hidup tersaruk-saruk di Makau, bertemu dengan komunitas Kristen di Nagasaki. Hubungan Kichijiro dan Rodrigues digambarkan sebagai hubungan Yudas dengan Yesus menjelang penyaliban. Ia membantu, ia membual, tapi ia juga yang melaporkan persembunyian Rodrigues kepada para pejabat provinsi untuk imbalan 300 kepeng.

Lewat cerita dari mulut ke mulut, pelan-pelan Rodrigues mendapatkan cerita utuh biografi Kichijiro. Sebetulnya ia orang Katolik, tapi menyerah ketika dihukum gantung-terbalik bersama keluarganya. Hanya ia yang dibebaskan, lalu kabur ke Makau dengan perasaan bersalah yang tak tertanggungkan. Hidupnya yang miskin dan jiwanya yang lemah membuat ia menyerah pada uang dan ketakutan.

Rodrigues pun ditangkap. Namun, tak seperti yang ia dengar soal penyiksaan para padri, Gubernur Inoue—shogun yang memerintah Nagasaki ketika itu—memperlakukannya dengan baik. Di dalam sel, Rodrigues diberi makan tiga kali sehari, diajak masuk istana, dan diizinkan membantah pernyataan Inoue yang terkenal kejam. Rupanya itu perangkap agar ia lemah secara psikis sehingga gampang ditaklukkan ketika disiksa.

Rodrigues berpindah-pindah tempat tahanan. Setiap kepindahan ia dihadapkan pada adegan penyiksaan yang brutal penganut Kristen. Umatnya di Tomogi diikat dengan tikar jerami lalu dicemplungkan ke laut dalam. Pengikutnya di Nagasaki disalibkan di tepi laut hingga air pasang menghantam dan memakannya. “Lihatlah, Tuhan kalian tak menolong mereka,” kata seorang samurai. “Anda yang harusnya berkorban untuk mereka juga diam saja.”

Rodrigues menghadapi dilema paling menyakitkan dalam hidupnya sebagai padri. Pikirannya terseok-seok antara rasa bersalah tak bisa menolong umatnya dan keteguhannya memegang iman Katolik. Para algojo itu hanya meminta satu hal saja sebelum eksekusi: ingkari imanmu, wahai Bapa, maka semua siksaan ini akan berhenti. Orang-orang Kristen akan terbebas dari perburuan dan siksaan yang menyakitkan. “Katanya Anda datang ke sini untuk berkorban bagi mereka,” kata samurai yang lain. “Tapi justru merekalah yang berkorban untuk Anda.”

Rodrigues terdiam. Hatinya runtuh. Tapi ia diam. Ia tetap bungkam ketika menyaksikan Garrpe, yang berpisah di Tomogi untuk menghindari pengejaran samurai, mati tenggelam. Padri ceking itu memilih mengejar umatnya yang dicemplungkan ke laut lalu mati digulung gelombang. Garrpe memilih iman ketimbang mengingkarinya. Sementara Rodrigues hanya diam, tak berbuat  apa pun.

Hingga ia bertemu Ferreira di istana Inoue. Padri tua itu benar telah murtad. Ia bahkan tengah menulis buku dalam bahasa Jepang tentang kepalsuan ajaran Yesus. Tapi bukan di sini suspens novel yang mendapat Penghargaan Tanizaki ini. Ferreira dan Rodrigues terlibat debat sengit tentang iman, tentang Tuhan, tentang penyelamatan derita manusia. Argumen-argumen Ferreira sangat kokoh sehingga orang Katolik Nagasaki marah setelah membaca novel itu. Endo seperti merayakan ketidakhadiran Tuhan dalam derita manusia.

Di luar Rodrigues, nama-nama dalam novel ini bisa dilacak dalam buku sejarah Jepang dan catatan-catatan para pelaut Inggris dan Belanda. Kejadian-kejadian utama dalam novel ini juga tersimpan di museum-museum di Tokyo atau Kyoto. Agaknya, Pak Endo mendasarkan profil padri muda Rodrigues pada sosok Giuseppe Chiara, padri Italia yang menyebarkan ajaran Katolik di Jepang pada periode itu.

Dalam pelbagai wawancara, Endo, yang meninggal pada 1996 di usai 73, menyebut novelnya yang terbit pada 1966 ini sebagai karya sastra, bukan kitab teologi. Ia tak ingin mengkritik kelemahan iman Ferreira atau kepercayaan Jepang menolak Katolik. Ia ingin menguji tarik-menarik antara tradisi Jepang dan iman Katolik yang berkelindan dalam pikiran dan hatinya sejak lahir. “Saya harus mendamaikan konfrontasi rawa-rawa Jepang dan iman Katolik dalam diri saya,” katanya.

Meski akhir cerita novel ini tak sesuai harapan, saya membacanya dalam sekali duduk....

Post a Comment