Thursday, April 22, 2004

WARTAWAN



[Artikel yang menggoyahkan cita-cita jadi mantri kehutanan, heheh]

HARI ini saya menerima surat dari anak saya. Ia bercerita tentang pilihan masa depannya.

"Bapak, saya tidak akan jadi wartawan. Saya bukannya takut kepada kemiskinan. Saya tahu bahwa masa sulit kehidupan pers sudah bisa dikatakan telah berlalu di Indonesia. Saya tak ingin jadi wartawan karena saya takut kepada kata-kata.

"Saya takut bahwa di tanah air -- tanah air yang sangat Bapak cintai, tanah air yang dulu pernah Kakek perjuangkan kemerdekaannya -- kata-kata semakin sering mengalami metamorfose menjadi sesuatu yang aneh, ganjil, tidak menjadi dirinya sendiri lagi.

"Jangan marah. Bapak juga pasti tahu tentang itu. Kata-kata, di masyarakat kita, sering berhenti jadi perumus kenyataan. Karena kenyataan itu sendiri ingin ditolak. Jika saya katakan bahwa tukang becak itu miskin dan Pak Tintin kaya, kata-kata "miskin" dan "kaya" itu akan segera mengalami metamorfose, lebih dahsyat ketimbang ketika ulat menjadi kupu-kupu. Kata-kata itu tak lagi hanya suatu statemen tentang kenyataan, melainkan sesuatu yang lebih besar: jadi hantu, setan gergasi. Serba menakutkan.

"Masyarakat kita adalah masyarakat yang masih percaya bahwa 'kata kamu harimau kamu, mengerkah kepala kamu'. Memang, pepatah itu mengajarkan kearifan, agar kita berpandai-pandai mengucapkan sesuatu, agar tak mencelakakan diri kita. Tetapi pepatah itu juga, jika diletakkan dalam latar belakang sosial kita, mencerminkan rasa takut, rasa tidak pasti, ancaman yang terus-menerus, kepada kata-kata.

"Dan dalam keadaan itu, kata-kata hanya akan bisa lahir melalui proses negosiasi yang terus-menerus.... Saya tak yakin, Bapak, bahwa kata yang lahir seperti itu akan merupakan kata yang tak berselimut, tak bertopeng, tak berbedak. Sesuatu yang setidaknya 50% palsu atau tersamar.
"Terutama jika yang berkata-kata adalah mereka yang sebenarnya orang yang tak punya pelindung, atau orang-orang yang sewaktu-waktu bisa dikorbankan, atas nama apa saja. Dalam keadaan seperti itu, hanya mereka yang punya kekuatan, punya kekuasaan, yang bisa melontarkan kata-kata dengan bengis atau keras atau sedikit tak sopan. Selebihnya sepi.

"Jurnalisme, dalam perkembangannya kini, kemudian juga menyebabkan kata-kata menjadi satu industri. Kata-kata menempel pada gerak bisnis, usaha jual-beli, dan akhirnya juga penghimpunan modal. Dalam posisi itu, kata-kata -- sebagai usaha bisnis -- pun dicurigai, karena kata-kata, dalam sejarahnya yang lama, tak pernah demikian. Kata-kata dulu merupakan bentuk lain dari sabda: sesuatu yang terhormat, bahkan agung dan luhur dan suci. Bagaimana yang biasanya agung, luhur, dan suci itu kini diperjualbelikan? Bukankah itu jadi noda? Dan tidakkah di dalamnya kemudian terkandung kepentingan-kepentingan?

"Kecurigaan itulah, Bapak, yang menyebabkan kata-kata (yang sudah 50% disamarkan karena rasa takut), menjadi hanya puing-puing yang berserakan. Puingpuing dari sebuah usaha komunikasi yang ambyar. Yang gagal.

"Saya coba mengerti pekerjaan kewartawanan. Saya membayangkan sejumlah wartawan yang terus menulis, dan mengkhayalkan kata-katanya -- bagaikan rama-rama yang berwarna-warni -- beterbangan menuju para pembaca. Ada yang cemerlang. Ada yang lucu. Ada yang tajam. Ada yang menggugah dan menyebabkan orang merenung. Tetapi apa daya: dalam kenyataannya, apa yang dibayangkan sebagai rama-rama itu segera rontok berjatuhan. Di depan ada tembok-tembok tebal yang bertuliskan: 'Dilarang Masuk'.

"Mungkin sang wartawan akan mencoba menembus. Frappez, frappez toujours!

"Saya telah memilih satu fungsi," demikian ia mungkin akan mengatakan. "Saya memang dapat nafkah, dapat kekayaan- dan dapat kemasyhuran. Tapi apakah dengan itu saja saya harus dianggap tak bisa dipercaya? Apakah dengan itu hak saya untuk bicara diragukan dan, dengan kata lain, sebenarnya saya lebih baik diam? Bukankah kata-kata saya pada akhirnya akan punya sumbangan juga bagi kehidupan bersama? Bagi kecerdasan berpikir? Bagi kemerdekaan manusia seutuhnya? Bagi hilangnya purbasangka-purbasangka dan kepicikan?

"Ah, Bapak. Betapa naifnya sikap yang berada di balik pertanyaan itu. Saya tidak ingin memilih kenaifan ini. Ada saatnya orang mengatakan, 'Kita perlu pers yang bisa berbicara dengan kata-kata yang tidak bergincu. Kita ingin mendengar tentang kenyataan-kenyataan.' Tapi segera ada saatnya orang akan mengatakan, 'Persetan. Sayalah yang menentukan mana yang kita perlukan dan mana yang tidak kita perlukan.'

"Demikianlah, Bapak, saya tak ingin menjadi wartawan. Bukan lantaran saya takut akan ketidakpastian, melainkan karena saya tak mengerti apa yang sebenarnya diharapkan oleh masyarakat kita dari kata-kata. Saya kira Bapak pun kini mulai menyesal. Where of one cannot speak, here of one must be silent, kata Wittgenstein. Sekian dulu."

Goenawan Mohamad

* Catatan Pinggir Tempo tanggal 27 Oktober 1990 yang dibukukan dalam Catatan Pinggir 4.












Post a Comment