Thursday, March 28, 2013

TETANGGA


APA beda antara tetangga dan anak? Seorang tetangga di kampung punya penjelasan jitu soal ini. Kami mengobrol di antara kepulan asap tungku tanah--dalam bahasa Sunda namanya hawu--di sela keriuhan panitia hajatan pernikahan adik saya, dalam gelap, dekat sumur timba.

Bapak-bapak, para tetangga itu, sedang istirahat setelah mencuci piring, sambil merokok. Dua orang berdagang es di Jakarta, satu buruh bangunan di Depok, dua lagi bertani. Dua lagi ikut nimbrung sambil bolak-balik mengangkut piring dan gelas kotor dari ruang prasmanan.

Seseorang--dia bapak dua anak yang baru menikahkan anak perempuannya--berbicara tentang perbedaan anak dan tetangga itu. 

Katanya, waktu berkumpul anak dan orang tua sangat singkat. Ia sendiri memiliki anaknya cuma selama 20 tahun, sebelum mendapat mantu yang memboyong putrinya ke rumahnya sendiri atau ke Jakarta untuk sebuah kerja. Sebab di kampung, menjadi petani tak lagi musim, tegalan lengang penuh alang-alang karena bertani tak lagi menghasilkan: harga palawija selalu anjlok tiap panen, itupun jika tak terserang hama sementara modal tak seberapa.

Dan soal anak, bapak ini bilang bahwa tanggung jawab sebagai ayah terlepas ketika ijab kabul pernikahan. Anak perempuannya menjadi milik suaminya, punya urusan sendiri dengan hidupnya, apalagi kelak jika sudah punya anak--cucunya sendiri. Hubungan bapak-anak ini pun lepas tak hanya secara fisik.

Anak-anak akan menjauh setelah dewasa. Para orang tua perlu rupiah untuk membeli pulsa untuk mengobrol atau ongkos untuk berjumpa. Karena itu para orang tua harus bersengaja mencari waktu. Perjumpaan menjadi sebuah rendezvous yang langka dan mewah.

Tapi dengan tetangga, katanya, tak ada limit waktu berpisah. Justru dengan para tetanggalah hidup lebih sering bersinggungan. Para tetangga kadangkala jauh lebih tahu apa masalah kita ketimbang anak-anak, yang jauh dari rumah. Para tetangga, mereka yang tak punya ikatan darah dan datang dari entah, akan menolong pertama kali ketika kita ketiban musibah. Sedangkan anak-anak harus ditelpon dulu jika kangen ingin ketemu.

 Anak-anak pasti akan meninggalkan rumah, tapi tetangga tak akan jauh-jauh dari rumah. Sebab, para orang tua mendidik anak-anaknya mandiri, yang berarti harus bisa hidup sendiri jika waktunya tiba. Pada tetangga kita membangun hubungan justru agar kelak tak hidup sendiri.

Saya manggut-manggut. Ia berbicara tentang sesuatu yang saya alami, tapi tak saya pikirkan. Ia merumuskan sebuah hal umum yang akan dialami oleh siapa saja, tapi sering luput dari renungan siapa saja. Ia berbicara tentang kecenderungan yang terjadi dari zaman-ke-zaman, apalagi ketika urbanisasi tak lagi bisa dicegah karena kota tetap menjanjikan sebuah harapan dan dusun tetap saja sebagai kampung halaman.

Bagi saya dan adik saya, rumah ini hanya sebuah kenangan. Bahkan saya merasa asing karena kamar tempat dulu saya lahir, kamar tempat dulu mereka-reka surat untuk pacar pertama, ruang tempat saya membayangkan masa depan dan membangun cita-cita, tak ada lagi. Rumah ini dipugar ketika saya sudah keluar dari rumah untuk sekolah. Rumah ini, dengan desain agak modern, praktis milik ibu-bapak saya. Saya hanya punya sedikit kenangan pada lemari dan bufet lama, juga foto sepia.

Dan besok, setelah resepsi usai, saya tak memilikinya lagi, tak meniduri kasurnya lagi, tak menghidu bau sorenya lagi, tak menyesap aroma sampah yang dibakar bapak tiap sore lagi. Kami akan kembali ke Jakarta, ke sebuah rumah lain yang bukan tempat asal dan masa depan kami. Rumah dan kampung ini hanya sebuah masa lalu dengan kenangan-kenangannya yang terus membetot dan mendekam dalam ingatan, tapi tak mudah disinggahi. Kami harus pergi lagi setelah dua-tiga hari tinggal, seperti ritual keluarga zaman industri--di mana setiap orang punya kampung dan rantau.

Bapak-bapak para tetangga inilah yang akan terus berkomunikasi dengan bapak-ibu saya, secara nyata di sawah, pekarangan, di jalan, dalam rapat-rapat desa, atau saat bertamu. Sementara kami, anak-anaknya, mesti menunggu waktu libur atau cuti atau saat Lebaran untuk bisa bercengkrama dengan mereka.

Post a Comment